DUNIA WISATA SUMATERA BARAT TEMPO DOELOE: Pesona dan Bencana Lembah Anai dalam Tour Guides dan Travelogues

Foto Gusti Asnan
×

DUNIA WISATA SUMATERA BARAT TEMPO DOELOE: Pesona dan Bencana Lembah Anai dalam Tour Guides dan Travelogues

Bagikan opini
Ilustrasi DUNIA WISATA SUMATERA BARAT TEMPO DOELOE: Pesona dan Bencana Lembah Anai dalam Tour Guides dan Travelogues

Anai Kloof adalah penamaan terhadap Lembah Anai pada Belanda. Lembah ini menjadi salah satu rupa bumi Sumatera Barat yang hampir selalu disebut dalam buku-buku panduan wisata (tour guides) Hindia Belanda atau Sumatera pada awal abad ke-20. Nama ini juga bisa ditemukan pada banyak catatan perjalanan (travelogues) para pengelana atau wisatawan yang berkunjung ke Hindia Belanda atau Sumatera Barat saat itu.

Sajian berikut menampilkan beberapa narasi penulis dan kesan wisatawan, terutama mengenai pesona dan bencana yang terjadi di Lembah Anai dalam beberapa buku panduan wisata dan travelogues.

Reisgids voor Nederlandsch Indie karya J.F. van Bemmelen dan G.B. Hooyer, bisa dikatakan sebagai buku panduan wisata pertama yang menyajikan Lembah Anai. Dalam buku ini, Lembah Anai bahkan disajikan secara khusus, dijadikan sebagai sebuah sub-bahasan dengan sub-judul ‘Kloof der Aneh’ (Lembah Anai). Sajian seperti ini membuktikan Lembah Anai sebagai suatu objek yang istimewa dalam dunia pariwisata Sumatera Barat.

Ada sejumlah informasi menarik dari sajian Bemmelen tentang Lembah Anai saat itu. Bemmelen menyamakan keindahan Lembah Anai dengan keindahan alam Swiss. Bemmelen membandingkan keindahannya dengan ruas jalan antara Göschenen dan Andermatt yang dihiasi tebing-tebing batu yang menjulang tinggi dengan Lembah Anai yang juga memiliki tebing-tebing yang tinggi yang dihasi oleh tetumbuhan yang hijau dan subur. Lembah antara Göschenen dan Andermatt dialiri sungai, dan Lembah Anai juga dialiri sungai. Bemmelen mengatakan air sungai di lembah antara Göschenen dan Andermatt bisa mengamuk dan malanyau apa yang menghalanginya saat banjir. Seperti yang terjadi tahun 1888, saat itu ada luapan air yang deras akibat es yang mencair di daerah hulu yang meluluhlantakan Oude Teufebruecke (Jembatan Teufelbruecke Lama). Bemmelen menyebut sungai di Lembah Anai juga ganas dan berbahanya. Bemmelen menulis, lima tahun setelah runtuhnya Oude Teufelbruecke, banjir besar Batang Anai yang meraung-raung di dinding jurang dengan kecepatan sangat tinggi, membawa-serta batu-batu sebesar rumah dan menghantam batu-batu penyangga dari tujuh jembatan kereta api. Hantaman batu-batu besar itu meruntuhkan jembatan. Selanjutnya Bemmelen menulis, jembatan kereta api itu dibangun cukup jauh dari tepi sungai dan jembatannya juga tinggi di atas permukaan air sungai. Banjir besar itu menghondoh superstruktur besi yang dirancang dengan sangat teliti oleh para ahli (insinyur), yang sebelumnya telah melakukan kajian mendalam dalam waktu yang cukup lama. Sama dengan sungai di lembah antara Göschenen dan Andermatt, Bemmelen menyebut Batang Anai adalah sungai yang indah namun sangat membahaya bila banjir.

Ada dua lagi perbandingan antara lembah antara Göschenen dan Andermatt dengan Lembah Anai yang disebut Bemmelen. Pertama, bila di lembah antara antara Göschenen dan Andermatt sering diisi oleh teriakan-teriakan orang Swiss yang baru saja melangsungkan acara pernikahan, maka Lembah Anai dihiasi oleh teriakan melengking siamang yang eksotis. Kedua, bila dari lembah antara Göschenen dan Andermatt bisa dilihat puncak-puncak gunung yang diselimuti salju, maka dari Lembah Anai bisa puncak-puncak Gunung Tandikat, Singgalang, atau Ambacang, dengan puncaknya yang berwarna nila gelap yang menjulang tinggi di langit.

Satu lagi spot Lembah Anai yang dilukiskan dengan begitu indah oleh Bemmelen adalah Air Terjun. Bemmelen menulis, ‘di sebelah kiri (dalam perjalanan dari Padang menuju Padangpanjang dan Fort de Kock), ada air terjun ‘Ajer-Mantjoer’ yang riang, setinggi 25 meter, jatuh ke dalam mangkuk yang luas, yang digali sendiri oleh aliran sungai yang ganas ini. Di dekat air terjun ini terdapat rel kereta api yang berkelok-kelok dalam lengkungan yang dipertahankan sebaik mungkin.

Buku panduan wisata Fourteen Days Trip in the Padang Highland karya L.C. Westenenk juga menuliskan keganasan air sungai di Lembah Anai dengan mengatakan ‘..sungai ini tidak selalu mengalir dengan tenang. Sebagai contoh pada malam 23 Desember 1892 sungai ini meluap sejadi-jadinya, sebagai akibat hujan yang sangat lebat. Banjir itu merusak beberapa jembatan yang baru dibangun, sebagian besar jalan raya yang melintasi lembah ini. Banjir dengan keuatan yang tidak dapat ditahan itu juga merusak sejumlah tumpukan batu penyangga jembatan yang dibanggakan.

Di sisi lain, Westenenk juga menulis, perjalanan di Lembah Anai adalah perjalan yang mempesoan, pesona Lembah dengan air terjunnya yang deras, di sisi tebing yang curam dan diselimuti oleh pepohonan hijau yang berasal dari berbagai jenis pepohonan. Westenenk menyebut bahwa perjalan di Lembah Anai adalah perjalanan kereta api paling indah yang dapat ditemukan di mana saja.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini