Pegang Wakil CEO TvOne, Karni Ilyas Sudah 32 Jadi Pemimpin Redaksi

Foto Aci Indrawadi
×

Pegang Wakil CEO TvOne, Karni Ilyas Sudah 32 Jadi Pemimpin Redaksi

Bagikan opini

Aci Indrawadi“Karni Ilyas Lahir untuk Berita,” itu judul buku biografi tebal Karni Ilyas (KI) yang ditulis Fenty Effendi. Ia sudah jadi wartawan sejak 1972 atau sejak 52 tahun silam. Pada 2-24 ini ia pensiun. Dalam karirnya 32 tahun diantaranya menjadi pemimpin redaksi sejumlah media.

Pada Sabtu sampai Senin lalu KI berada di Padang, saya ikut nimbrung. Banyak kisahnya untuk Sumbar yang tidak dia umbar. Misal, ia diminta Gubernur Zainal Bakar menolong daerah ini. KI kemudian menemui Menhub Agum Gumelar agar membangun bandara besar yang mantap. Agum menyanggupinya, yang kabarnya memindahkan jatah Makassar ke Padang. BIM, juga mendahului pembangunan bandara baru di Medan.KI juga diminta Walikota Syahrul Ujud untuk mendekati petinggi TNI, guna memanfaatkan stadion Imam Bonjol. Kemudian, masih alm Zainal Bakar, minta KI untuk merayu Presiden Megawati. Ini, untuk Kelok Sembilan. Yang disebut terakhir dilakukan melalui Taufik Kiemas di Gubernuran Padang.

KI yang lahir September 1952 di Balingka, Agam memulai kehidupannya di Pasar Raya Padang. Kemudian merantau ke Jakarta dengan tekad yang bulat, ingin menjadi orang terkenal. Pria ini kemudian memang terkenal, dimana-mana banyak orang minta foto. Itu, hanyalah buah masak di batang belaka, namun capaian KI sesungguhnya tak lain, telah menjadi wartawan tulen. Ia fokus di dunianya.Sukarni Ilyas Sutan Bareno, SH., demikian namanya akrab disapa Bang KI, tak lain tokoh jurnalis Indonesia kontemporer dan Presiden ILC. Alumni FH UI memulai karir dari bawah, di koran Suara Karya. Kemudian meniti karir lebih tinggi di Majalah Tempo, pemimpin majalah Forum Keadilan. Dipercaya kemudian jadi pemimpin redaksi (pemred) SCTV, antv dan selanjutnya TvOne, dengan acaranya yang terkenal ILC. Akumulasi semuanya: 32 tahun.

“Mati den, 32 tahun, samo lo jo orde baru lamo-e,” kata Masful sambil ngopi dengan KI di Padang, Minggu (14/4). Yang menemani KI, Masful, King Churchill dan Khairul Jasmi serta saya. KI datang bersama anaknya Renold Bareno. Dua anaknya yang lain, Romy Bareno dan Helen Bareno. KI, adalah anak Ilyas Sutan Nagari dan Syamsiar.Selama meniti karir jurnalistik, KI memang bekerja serius, liputan dan tulisannya mendalam dan sulit sekali dicari celah untuk dibantah atau ditangkis. KI adalah wartawan Tempo yang menemukan bukti bahwa Sengkon dan Karto bukanlah pembunuh, sebuah kasus yang viral pada 1974, ia kemudian dibebaskan, meski sudah ditahan. KI juga yang bekerja keras mendorong lahirnya Peninjauan Kembali (PK). Bahkan KI lah sebenarnya “memaksa” penegak hukum mendapatkan bukti baru dalam kasus pemerkosaan, yaitu vagina. Ini saya temukan dalam tulisan pengakuan yang dibuat kawannya, Dahlan Iskan.

Lalu ILC yang dinanti-nanti di TvOne hilang. KI tidak. Program itu kemudian mencogok di Youtube, yang flowernya sekarang 5,4 juta. Ia mengangkat berbagai topik yang viral. Suara seraknya, tak tertirukan.KI, wartawan senior itu selalu pulkam. Jika tak sebelum lebaran, pada kesempatan lain. Ia dihormati oleh para wartawan pemimpin redaksi di Jakarta. Tapi, KI tetaplah urang Balingka. “Awak baru dari kampuang,” katanya. Kami menunggunya sesaat di lobi hotel Santika, Padang sebab ia pergi makan malam ke rumah adiknya di Lapai. “Besok mau reuni,” katanya.

Ia tamat SMP 5 Padang. Dan, pagi ngopi di warung Nan Yo Baru Pondok. *

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini