Pasar dan Pariwisata Sumatera Barat Tempo Doeloe

Foto Gusti Asnan
×

Pasar dan Pariwisata Sumatera Barat Tempo Doeloe

Bagikan opini

Oleh Gusti Asnan(Dept. Sejarah, FIB-Unand Padang)

 Pasar adalah salah satu objek yang hampir selalu tampil dalam buku panduan wisata dan travelogues tentang Sumatera Barat di masa lalu. Kenyataan tersebut mengindifikasikan bahwa pasar adalah sebuah objek wisata di Sumatera Barat saat itu. Sebuah objek yang menurut pengelola pariwisata dan pengelana atau wisatawan layak untuk dikunjungi.Ada dua jenis pasar yang ada di Sumatera Barat hingga akhir masa penjajahan Belanda: pertama, pasar moderen; dan kedua pasar tradisional. Pasar moderen ada di kota Padang dan pasar tradisional ada di hampir semua kota atau nagari di Sumatera Barat.

Beberapa pasar moderen yang ada di kota Padang pada awal abad ke-20 adalah Pasar Tanah Kongsi, Pasar Goan Hoat, Pasar Badu Ata dan Pasar Kampung Jawa. Di samping pasar moderen, di Padang juga ada juga pasar tradisional, yaitu Pasar Mudik.Walaupun tersebar luas di hampir semua kota atau nagari, pasar tradisional yang sering disebut dalam buku panduan wisata dan travelogues adalah yang berlokasi di Padang Panjang, Fort de Kock (Bukittinggi), Payakumbuh, dan Fort van der Capellen (Batusangkar).

Walaupun tidak banyak, ada beberapa wisatawan yang mengunjungi pasar-pasar moderen yang ada di kota Padang dan menulis kesan mereka tentang aktivitas pedagang dan pembeli sejumlah pasar yang dikunjungi.Sebaliknya, pasar-pasar tradisional yang ada di daerah pedalaman mendapat perhatian yang cukup besar. Ada porsi yang cukup banyak dan deskripsi yang cukup detail dalam travel guidebooks dan travelogues mengenai pasar-pasar tersebut.

Karena buku panduan wisata cenderung menyajikan informasi perjalanan wisata dari kota Padang, maka berturut-turut pasar yang ditampilkan adalah Pasar Padang Panjang, Fort de Kock, Payakumbuh dan Fort van der Capellen.Keberadaan pasar di kota-kota dan nagari-nagari yang lain kurang banyak disajikan. Kalaupun ditampilkan, namanya tidak disebut. Biasanya hanya ditulis ‘pasar antara Padang dengan Kajoetanam’ atau ‘pasar antara Fort de Kock dengan Pajakoemboeh’.

Sehubungan dengan itu bisa disimpulkan, pasar-pasar yang disajikan hanyalah pasar-pasar yang ada di destinasi-destinasi wisata utama saja.Ada beberapa pola penyajian pasar dalam berbagai buku panduan wisata dan travelogues. Pertama, informasi tentang hari pasar. Kedua, keadaan pasar. Ketiga, deskripsi tentang para penjual (saudagar) yang berjualan. Keempat, sajian tentang berbagai komoditas yang dijual. Kelima, cerita mengenai para pengunjung atau para pembeli. Keenam, informasi mengenai aktivitas-aktivitas lain di pasar dan yang berhubungan dengan pasar.

Di samping narasi yang cukup luas dan detail, sajian mengenai pasar juga dilengkapi dengan foto, lukisan atau sketsa yang menarik. Bahkan ada pasar yang ditampilkan berkali-kali dalam bentuk-bentuk ini. Ada pula beberapa pola penyajian foto, lukisan atau sketsa tersebut. Ada yang menampilkan gambaran umum tentang pasar (diambil dari jarak yang agak jauh), ada yang hanya menampilkan saudagar yang berjualan, barang-barang yang diperjualbelikan di pasar, atau mengenai keramaian di pasar.Dari sejumlah pasar yang ada di Sumatera Barat, Pasar Fort de Kock dan Payakumbuh adalah pasar yang paling sering disajikan. Pasar Fort de Kock disebut diadakan pada hari Rabu dan Sabtu. Westenenk menyebut pasar ini dikunjungi oleh 30.000 sampai 40.000 orang (suatu jumlah yang besar sekali kedengarannya). Jumlah ini terdiri dari para pedagang, pembeli dan pengunjung pasar secara umum. Pernyataan Westenenk ini sering dikutip oleh penulis buku panduan wisata yang lain atau juga wisatawan yang menulis travelogues.

Sajian lain mengenai pasar di Fort de Kock ini adalah tentang dominannya kaum perempuan yang menggelas di pasar itu. Para pedagang tersebut datang dari kampung atau nagari yang ada di sekitar Fort de Kock. Diinformasikan bahwa para perempuan itu berangkat dari rumah mereka pagi dini hari atau bahkan ada yang sejak malam sebelum hari pasar. Mereka membawa barang dagangannya yang dibungkus atau ditempatkan dalam keranjang yang terbuat dari rotan/bambu dengan meletakkan di atas kepala, tanpa memegangnya. Tangan mereka hanya melenggang bebas. Barnouw mengatakan ‘ini adalah suatu keahlian yang mengesankan’.Di pasar mereka menggelar dagangan mereka di dalam los (lodsen), di bawah naungan payung besar atau di bawah naungan pohon kayu (beringin) yang tumbuh dekat pasar.

Sesungguhnya, sejak awal abad ke-20, Pasar Fort de Kock sudah termasuk kategori pasar moderen, terutama bila dilihat dari adanya sejumlah bangunan ‘permanen’. Bahkan di pasar itu ada bangunan dengan kategori ruko’. Namun, seperti disebut Barnouw, dominannya peran orang Minangkabau dengan pola jual beli mereka yang tradisional membuat pasar ini menarik untuk dikunjungi.‘Nilai jual’ pasar ini untuk wisatawan (mancanegara) juga diperkaya dengan informasi bahwa adanya adu balam yang dilakukan pada hari pasar. Para pengadu balam dikatakan adalah lelaki yang datang dengan sangkar indah, yang ditutupi dengan ‘kain mewah’, dan memakai pakaian hitam bagaikan pendekar.

Pasar Payakumbuh adalah pasar berikutnya yang banyak ditampilkan. Disebut bahwa pasar Payakumbuh menjadi penting perannya karena terletak di daerah ‘perbatasan’ dengan Negeri Timur. Pada awal abad ke-20 pernah diwacanakan untuk menjadikan pasar Payakumbuh sebagai pasar yang terbesar di Sumatra’s Westkust.Sama dengan Pasar Fort de Kock, Pasar Payakumbuh juga dikatakan sebagai pasar yang ramai. Wermeskerden misalnya mengatakan bahwa pada hari pasar (Minggu), jumlah pengunjungnya mencapai 30.000 orang (sebuah angka yang kedengarannya juga sangat besar).  

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini