Menjawab Hasto Kristiyanto

Foto Harian Singgalang
×

Menjawab Hasto Kristiyanto

Bagikan opini

Semua tokoh pendidikan barat dan murid Mekkah itu, atau murid dari murid Mekkah itu, memberi corak yang amat dominan di Minangkabau. Lalu putra-putri terbaik itu, bagai bak mandi, airnya melimpah. Lalu mengalir ke Batavia. Beliau semua, menjadi bintang Minang di langit Hindia Belanda, dengan rumah yang cemerlang di Hindia Belanda. Semua tokoh itu adalah hasil pendidikan barat dan surau medio abad 19 dan awal abad 20. Lantas memberikan sumbangan bagi Indonesia Raya. 

Kita belum bicara soal sastrawan Balai Pustaka, yang menguasai hampir semua penerbitan novel adalah anak Minangkabau. Para sastrawan itu mempengaruhi cara pandang Indonesia tentang budaya dan tradisi Minangkabau. Sampai sekarang! Lalu kemudian

Menurut Prof Azyumardi Azra dan saya sependapat, surau  mulai ditinggalkan karena impian dunia kerja. Saya menyaksikan selama berpuluh tahun, aura kapitalisme menyeruak. "Kalau sekolah agama nanti kerja apa?"  Dunia kerja menjadi penting dan itu hanya bisa dihasilkan oleh sekolah umum, bukan sekolah agama. Asumsi itu berlangsung sejak 1950-an sampai sekarang. 

Lalu surau sepi, madrasah yang ada sekarang, tidak lagi berbasis surau, kecuali yang lama-lama. Dunia kerja menjanjikan, tapi kemudian melimpah, lapangan kerja sempit. Muncul pengangguran. Sekarang atau sejak satu dua dekade belakangan, sekolah agama diminati lagi. Sementara sekolah umum makin ramai, tapi kenapa tak muncul juga anak Minang yang seperti dulu lagi? Bukan itu pertanyaan tunggal  sekarang, tapi, ada yang lain "kenapa begini jadinya pemeluk Islam kita, banyak yang suka marah." Maka terjadilah gelut kucing antara sesama Islam, tapi bukan seperti gelut pintar Kaum Tua Kaum Muda abad lalu. 

Untuk mencari penyebab kenapa dulu sehebat ini, sudah saya temukan. Mudah-mudahan ada yang sepakat. Kenapa sekarang tidak? Jawabannya tidaklah tunggal. Di luar diri, sangat banyak yang bisa disalahkan. Ke dalam juga. Di luar diri, kualitas sekolah, suasana batin dunia pendidikan, tidak seperti dulu lagi. Lulusan, bangga dengan ijazah.  Sekolah merampas talenta anak, makin kesini, makin menyedihkan. Ke dalam? Rumah tangga tidak memicu anaknya dan anaknya itu benar yang tak berminat pula. Lapangan demokrasi dan politik, tidak menarik bagi pola budaya dan sistem surau Minangkabau. Suraunya juga tidak ada lagi. Jika pun ada, sudah berubah. 

Lapangan pendidikan sama-sekali sudah berubah. Dan, yang juga berubah adalah lapau, tempat anak-anak mendengar dialektika orang dewasa yang "berkecamuk" dengan pikirannya. Lapau sekarang kebanyakan untuk nobar dan main domino. Padahal lapau adalah sisi lain dari dapur debat untuk kelincahan berpikir anak Minang. Lantas? 

Semua tak perlu disesali, yang perlu sekarang, membangun kesadaran bersama, kembali ke cara pergaulan pendidikan sekolah, surau dan lapau gaya kini dengan akar masa lalu. Caranya?  Kebudayaan matrilineal itu mesti dikuatkan lagi. Caranya? Hehe tapi kita punya ABS-SBK, yang kehujanan di baliho tepi jalan. Jadi pertanyaan, mengapa dulu lahir banyak tokoh hebat, jawabnya karena sekolah Belanda dan surau serta pendidikan Mekkah serta lapau/budaya matrilineal. Mengapa sekarang belum? 

Bisakah? Saya belum mencoba. Tapi, rasanya bisa. Cetak dulu, contoh untuk hasil kedua campuran pendidikan itu. Tentu saja, jika maksudnya, orang Minang menjadi negarawan. Jika menjadi profesional handal, sekarang sudah banyak, coba cari daftarnya di buku atau google. (***)

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini