Turki-Australia Luar Biasa

Foto Harian Singgalang
×

Turki-Australia Luar Biasa

Bagikan opini

Oleh Isral NaskaDosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Delegasi AIMEP (Australia Indonesia Muslim Exchange Program) 

Setelah usai dari The Village rombongan langsung menuju tujuan berikutnya, yaitu sebuah masjid yang didirikan oleh komunitas Turki, diberi nama Gallipoli Mosque. Berarti ini adalah masjid kedua yang kami kunjungi di Australia setelah Masjid Lakemba yang dibangun oleh orang-orang Lebanon.Lokasi masjid ini berada di sebuah kota kecil di sekitaran Sydney, bernama Auburn. Dari kejauhan sudah terlihat tanda-tanda keberadaan masjid, yaitu menara. Tidak hanya satu, tapi dua! Dan menara-menara itu begitu menonjol sebab tidak ada bangunan lain yang lebih tinggi dari keduanya. Semakin dekat, Masjid Gallipoli semakin nyata. Sekarang terlihat sebuah kubah besar berwarna kebiruan, dikelilingi oleh beberapa kubah lain yang lebih kecil.

Dalam hati saya bergumam bahwa masjid ini mirip sekali dengan sebuah masjid lain, tapi entah masjid apa. Ini membuat saya sibuk berpikir “ini masjid mirip masjid yang mana ya?”Masjid yang berada di persimpangan ini memiliki beberapa fasilitas. Di sampingnya terdapat sebuah bangunan. Dalam pandangan pertama, bangunan tersebut tampak menyatu dengan masjid. Rupanya setelah saya masuk ke dalam, bangunan itu terpisah dan hanya disatukan oleh sebuah koridor terbuka yang cukup luas. Tampaknya bangunan dengan arsitektur yang masih senada dengan masjid itu adalah sebuah gedung serba guna.

Di koridor tersebut terlihat banyak bapak-bapak lansia berwajah Turki duduk-duduk dan saling bercengkerama menunggu masuk waktu Jumat, yang tampaknya masih dua jam lagi. Kumpul-kumpul seperti itu adalah sesuatu yang sangat Timur dan tentu saja sangat Turki. Jarang-jarang orang Barat melakukan hal itu karena umumnya mereka lebih individualis.Halaman masjid sebagian besar berbentuk lantai keramik kasar yang saya tidak tahu namanya. Warnanya krem lembut serupa dengan warna dinding luar masjid. Di halaman masjid bagian depan gedung serba guna, tampak sebuah jenjang menuju ruang bawah tanah. Di sana tertulis besar-besar “Gallipoli Fitness”. Layanannya ada dua, yaitu gym dan pelatihan bela diri. Masjid ini rupanya tidak hanya pusat rohani, tapi juga ditempati pelatihan jasmani. Memang begitu harusnya.

Tepat di dinding luar masjid tertulis besar-besar nama resmi masjid “Auburn Gallipoli Mosque”. Kami disambut oleh seorang pengurus masjid di halaman. Katanya “masjid ini kami desain dengan mengadaptasi Blue Mosque di Turki. Nah ini yang saya tanya-tanya sejak tadi! Benar, masjid ini memang menyerupai Blue Mosque, tapi dalam bentuk yang lebih kecil dan sederhana.Masjid ini mulai dibuka pertama kali tahun 1979 oleh komunitas Muslim Turki. Pada tahun 1986 mereka mulai membangun dengan desain sebagaimana yang terlihat hari ini. Baru pada tahun 1999 masjid ini selesai dibangun sepenuhnya. Biaya yang dihabiskan tidak main-main, tidak kurang dari 6 juta AUD! Itu setara dengan lebih dari 61 M rupiah kurs hari ini. Tapi ini adalah 61 M ketika tiga puluh tahun lampau!

Melihat kualitas dan fasilitas masjid ini, rasanya tidak berlebihan jika menghabiskan biasa sebanyak itu. Di samping masjid ada taman bermain yang boleh dipakai oleh siapapun. Tempat wuduk dan kamar mandi terletak di ruang bawah tanah, sehingga tidak terlihat sama sekali dari luar. Kecuali bagian depan luar mihrab, masjid ini dikelilingi oleh teras yang lantainya terasa sejuk di kaki. Di sana terdapat kursi-kursi panjang, dimana orang-orang bercengkerama menunggu waktu shalat.Bagian dalam masjid dialas dengan karpet khas turki berwarna merah. Formasi jendela membuat cahaya alami masuk dengan lembut. Dinding masjid terutama bagian langit-langit penuh dengan ornamen, berupa gabungan kaligrafi dan mozaik-mozaik simetris. Dan tentu saja terdapat ornamen-ornamen bintang berlatar merah, yang merupakan identitas nasional Turki.

Semua hal dalam masjid itu menarik, dan ada dua hal yang menjadi raja dan ratu di dalamnya. Pertama adalah mihrab. Mihrab itu tampaknya kecil saja, mungkin tinggi dua meter dengan lebar tidak sampai pula dua meter. Namun bingkainya terbuat dari marmer putih tanpa sambungan. “Ini kami datangkan langsung dari Turki” kata pengurus Masjid.Yang lain dari pada itu adalah mimbar. Mimbar adalah ratu dalam masjid itu Bukan main desainnya. Terbuat dari kayu, dengan warna utama putih, tingginya mencapai lantai dua pada bangunan biasa. Dari mimbar ada jenjang ramping nan indah yang menjulur ke karpet masjid. Jika khatib berkhotbah di atas mimbar itu, ia terlihat bagai mahkota sang ratu.

Pemilihan nama Gallipoli sebagai nama masjid menarik untuk diulas. Pada tahun 1915 terjadi serangan besar Inggris pada Turki Usmani, yang mana semenanjung Gallipoli di Turki menjadi titik pertempuran. Perang itu berlangsung 10 bulan dengan kemenangan Turki Usmani. Australia turut membantu Inggris saat itu. Menurut Australian War Memorial, tidak kurang 8000 tentara Australia menemui ajal di sana. Nah, nama Gallipoli ini pada satu sisi adalah simbol ketangguhan dan kemenangan Turki, dan pada sisi lain adalah persinggungan sejarah antara Australia dan Turki. Jika dipandang secara positif, pemilihan nama ini bagus untuk semua pihak.Masjid Gallipoli bagi kalangan Turki punya nilai lebih dari sekedar tempat beribadah. Ia adalah semacam monumen yang mengingatkan orang-orang Turki tentang asal-usul mereka. Masjid ini pula yang menjadi tali penghubung antara Turki Australia dengan Turki daerah asal. Pejabat-pejabat Turki yang berkunjung ke Australia, akan berkunjung juga ke masjid ini. Ketika upaya kudeta terjadi pada tahun 2016, orang-orang Turki juga berkumpul di masjid ini dalam rangka memberikan dukungan pada Erdogan. Turki Australia tetap mempertahankan ke-Turki-annya lewat masjid ini.

Di seberang jalan samping masjid terdapat bangunan milik komunitas Turki juga. Ianya adalah rumah jompo yang diberi nama Gallipoli Home. Rumah jompo ini sangat modern dan bersih, melayani orang-orang lanjut usia yang tidak lagi mampu dirawat oleh keluarganya. Asalnya ditujukan untuk melayani Muslim lansia. Namun kemudian juga menerima lansia-lansia non-Muslim. Untuk hal seperti ini, pendekatan keislaman tetap digunakan untuk merawat lansia-lansia tersebut, apapun agama mereka. Dengan alasan privasi, kita tidak diperkenankan untuk melihat lebih ke dalam. Tapi kesan di luar, fasilitas ini sungguh bersih dan berkelas.Gallipoli Home didirikan untuk menjawab kebutuhan sosial masyarakat di Australia. Kondisi kehidupan di sana membuat banyak keluarga merasa tidak sanggup terus mengurus orang tua yang lansia. Pimpinan rumah jompo ini, bernama Dr. Abdurrahman Asaroglu mengatakan “uruslah orang tua kalian sampai pada titik kalian tidak sanggup lagi mengurus mereka” Melihat kami termenung mendengar ungkapan itu ia menyambung kata-katanya “setiap orang punya jalan hidup berbeda”. Maksudnya kondisi hidup membuat sebagian orang tidak sanggup mengurus orang tua mereka secara ideal. Gallipoli Home hadir memberikan solusi.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini