Sudahlah Delay Lama Nian, Langit Macet Pula

Foto Harian Singgalang
×

Sudahlah Delay Lama Nian, Langit Macet Pula

Bagikan opini

Delay lebih tiga setengah jam. Gaya Lion pindah ke Batik. Tambah satu jam dalam antrean untuk terbang. Antrenya bukan dekat landasan pacu, tapi tetap di sini, lokasi parkir. Tabah, setabah menunggu berbuka puasa.Pada awalnta di terminal 2 CKG Soekarno Hatta pada Rabu (19/4). Batik Air dijadwalkan terbang ke Padang pukul 11.00, saat tulisan ini dibuat pukul 12.51. Pesawat telat datang dari penerbangan sebelumnya, Singapura.

Ruang tunggu penuh, ramai minta ampun. Hampir semua calon penumpang di ruang tunggu tafakur pada hp masing-masing. Beberapa kursi kosong tapi tak bisa diduduki, sebab di sana ditarok tas atau ransel orang sebelahnya. Si pemilik tak peduli, ada yang ingin duduk.Sudah seperti rumah makan padang sehabis Jumatan saja, orang ramai, meja penuh, tapi hidangan lambat datangnya, apalagi jika minta, “tambuah ciek.”

Seorang ayah muda membiarkan anaknya tiduran di kakinya. Si anak sambil menyusu di botol. Anak lain yang sudah sekolah bermasker, asyik main game. Ayahnya main hp. Ibunya juga. Ini sepertinya untuk membunuh waktu sekaligus menghabiskan kuota.Saya bukan perantau, tapi kembali ke Padang sehabis acara di Jakarta. Waktunya tepat pada arus mudik. Dengan demikian, saya saksikan kepadatan bandara terbesar di Indonesia ini.

HP telah membuat calon penumpang nyaman menunggu, tapi sebagian kecil tidak. Mereka mendekat ke meja pelayanan maskapai, guna meminta informasi. Berdiri di saja dalam diam.Kabarnya yang mudik dengan berbagai moda transportasi pada Lebaran 2023 ada 124 juta orang, naik 47 persen dibanding tahun sebelumnya. Sedang jumlah penduduk Indonesia 274 juta. Hampir setengah mudik. Kemana? Ke kampunga masing-masing di seluruh penjuru Nusantara.

Seorang pemudik di sebelah saya mau ke Surabaya sudah delay 90 menit. Ia mengeluh, sebab sekarang di ruang tunghu D2 lalu disuruh pindah ke D6. Dan sebagian isi ruang tunggu ini segera bergerak.Sudah lewat pukul 13.00 mik belum terdengar berbunyi. Masih diam. Entah kapan Batik akan terbang ke Padang.

Ruang tunggu dengan dinding kaca bening ini, membuat leluasa memandang ke langit. Juga ke koridor ruang tunggu lainnya. Tapi: tak ada yang mengalihkan pandangan ke sana, hanya ke hp.Ruang tunggu kembali penuh, yang ke Padang belum juga naik pesawat. Ini pula spesialnya mudik, pakai delay lama. Seperti perayaan rakyat atas semua pelayanan publik yang payah. Rakyat itu, di sini, dekat saya ini, berbagai ragam gayanya. Berkacamata hitam, bercelana pendek. Pria atau pun pedusi. Berhijab banyak. Menyandang ransel, membawa koper. Anak apalagi. Selain main hp ada yang buka laptop. Menulis juga, seperti saya.

Dua petugas di meja pelayanan, diam ketika ada penumpang yang protes. Kenapa lama nian delay. Sudah 13.30, tampaknya mulau agak panas situasi.Seorang penumpang mulai tidak tahan ketika seorang petugas datang ke meja pelayanan ini. Penumpang ke Padang minta kepastian, berapa menit lagi naik pesawat.

“Di Padang keluarga nunggu kami juga Pak.”Yang lain: “berapa lama lagi kami naik pesawat.” Ternyata tak kuat kalau diam saja rupanya. Mereka pun hanya sekadar bertanya sebagai konsumen. Masih boleh, tidak seperti tiktoker Lampung yang dikadukan ke polisi, meski kemudian di SP3

Dan segera saja, pukul 13.35 sekarang, kami naik bus menuju pesawat. Alhamdulillah. Tiba di dekat tangga. Tunggu, belum bisa naik karena krunya baru sampai. Tampaknya masalah Batik adalah kru yang kurang.Saya duduk di pesawat, baca doa dan penumpang masih terus naik. Pilot mulai bicara dan minta maaf akan keterlambatan. Ia menyebut cuaca sepanjang jalur penerbangan ke Padang, cerah.

Insya Allah pesawat ID 6810 sebentar lagi berangkat tapi telah pukul 14.00 belum terbang. Sudah pas 3 jam telat.Tapi kenapa belum juga manggarik kapal terbang ini? Semua penumpang telah naik. Pintu belum ditutup, petugas darat masih di pesawat. Lalu apa? Tak tahu, yang saya rasakan gerah. Tidak sejuk, mungkin karena AC belum full.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini