105 Tahun Balai Pustaka, Rumah Peradaban Indonesia

Foto Harian Singgalang
×

105 Tahun Balai Pustaka, Rumah Peradaban Indonesia

Bagikan opini

Beberapa waktu lalu, saya mampir di Balai Pustaka, Jakarta, mencicipi secangkir kopi di bawah lukisan wajah Buya Hamka. Di sinilah jejak panjang peradaban Indonesia itu, antara lain, mulai dibangun.Ada motiviasi kuat untuk berubah dan maju, tapi itu urusan manajemennya. Urusan saya mencicipi kopi yang enak itu. Di sinilah doeloe, karya-karya besar orang Minang diterbitkan dengan editornya juga kebanyakan urang awak. Sejarah datang lebih awal untuk Minangkabau.

Dan saya datang bersama kawan, Oktoweri, untuk mencetak buku, 110 Tahun PT Semen Padang.Berusia tua

Hari ini, penerbit bersejarah tersebut dipimpin oleh Achmad Fachrodji, pria yang mahir berpantun itu. "Hari ini 22 September 2022 adalah Hari Jadi Balai Puska yang ke-105, " tulisnya.Balai Pustaka (BP) memang rumah besar bagi sastrawan di zamannya dan lokomotif bagi kemajuan peradaban, terutama tentang literasi dan kebudayaan Indonesia. Kontributor atau sastrawan yang menulis di sini, menjadi nama yang dapat dibaca di buku pelajaran sekolah. Salah satunya Marah Rusli. Pada 1922 novelnya Siti Nurbaya diterbitkan.

Siti Nurbaya merupakan novel terlaris terbitan BP. Sampai 2022 telah dicetak 54 kali, terbanyak dari semua novel BP. Menurut Dirut BP Achmad Fachrodji, posisi kedua dipegang Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, 47 kali cetak, Salah Asuhan, Abdoel Moies (45), Atheis Achdiat K Mihardja (39). Berikut Abunawas Nur Sutan Iskandar (39), Azab dan Sengsara, Merari Siregar (37), Salah Pilih Nur Sutan Iskandar (35), Habis Gelap Terbitlah Terang RA Kartini penerjemah Armin Pane (33) dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain di Roma, Idrus dicetak sudah 32 kali sampai 2022 serta terakhir dalam deretan 10 besar, Kalau Tak Untung, Selasih cetakan ke-32.Sastrawan 10 besar itu yang berasal dari Minang; Marah Rusli (Padang), Abdoel Moeis (Sungai Pua) Nur Sutan Iskandar (Maninjau), Idrus (Padang) dan Selasih atau Sariaman Ismail (Pasaman Barat). Menurut sebuah sumber, 9 dari 15 sasrtawan terkemuka zaman BP adalah orang Minang, karenanya tak heran novel zaman ini berkisah banyak sekali tentang Minangkabau. Bahkan generasi penulis dan pejuang ini pun sering dinamai Angkatan Siti Nurbaya.

Semakin MajuBP semakin maju. Tatkala saya bertandang ke sana, disambut oleh sebuah pintu kaca. Lalu sebuah kafe yang lega. Di ruangan belakang kafe berderat foto-foto penulis BP dengan cuplikkan tulisannya. Kantornya bersih, tentu saja ber-AC.

Di sini, sejarah dibungkus dengan gaya baru, membuat generasi muda betah berlama-lama. Pada awalnya, pemerintah Hindia Belanda mendirikan BP pada 14 September 1908 dengan Direktur Utamanya Douwe Adolf Rinkes (1878- 1954). Ia banyak memakai tenaga pribumi dan yang terbanyak itu dari Minangkabau. Tradisi itu dilanjutkan oleh dirut berikutnya GM. We. J Drewes. Para editor itu antara lain, K. St. Pamoentjak, Aman Dt. Madjoindo, St. Perang Boestami dan St. Mohammad Zain."Sekaligus juga bertindak sebagai penulis kolom, syair dan lainnya," kata Dr Suryadi dari Leiden, Kamis (22/9).

Mulanya, lembaga itu bernama Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur atau Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat."Nama Balai Pustaka baru dipakai pada 22 September 1917, sebelumnya bernama Komisi Bacaan Rakyat," kata Achmad Fachrodji.

Maka yang diperingati ada itu dan sekarang usianya 105 tahun. Sepanjang usianya itu, roman Siti Nurbaya tak terkalahkan.Bahkan ada bagian kisah dalam roman Marah Rusli itu yang seolah jadi legenda di Padang. Jembatan di Muaro Padang pun dinamai Siti Nurbaya, sedemikian hebatnya karangan ini.

Menurut catatan di zamannya, BP telah membangun 2.800 Taman Bacaan Rakyat. Belum lagi karya sastranya yang mendominasi dunia bacaan Hindia Belanda dan Indonesia.Dari penelusuran George Quinn, pada katalog Balai Pustaka 1920, ada 40 buku berbahasa Madura, 80 judul berbahasa Melayu, hampir 100 buku berbahasa Sunda, dan hampir 200 berbahasa Jawa. Yang laris, novel seperti tersebut di atas.

Karya hebat lainnya, karya Soeman Hasiboean, Kasih tak Terlerai novel (1930), Percobaan Setia; novel (1931), Mencari Pencuri Anak Perawan; novel (1932), Kasih Tersesat; novel (1932). Rustam Effendi, Bebasari; drama (1926) dan Percikan Permenungan; puisi (1926) Abdoel Rivai, Gubahan; puisi (1930), Puspa Aneka; puisi (1931). Selain itu masih ada sederatan panjang lainnya nama sastrawan dan karyanya.Dalam situsnya, BP menulis seperti ini: Balai Pustaka merupakan jejak panjang peradaban yang tiada henti mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Balai Pustaka memiliki reputasi di bidang penerbitan yang diakui keberadaannya oleh mancanegara dengan bertransformasi ke dalam dunia digital dan industri kreatif."

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini