Dibantu UPZ Semen Padang, Muhammad Farman Ujudkan Impian Kuliah di Kairo

×

Dibantu UPZ Semen Padang, Muhammad Farman Ujudkan Impian Kuliah di Kairo

Bagikan berita
Dibantu UPZ Semen Padang, Muhammad Farman Ujudkan Impian Kuliah di Kairo
Dibantu UPZ Semen Padang, Muhammad Farman Ujudkan Impian Kuliah di Kairo

PADANG - Matahari sudah tinggi, Muhammad Farman putra Tabek Sarik, Nagari Pakan Sinayan, Kabupaten Agam sedang menikmati libur kuliahnya. Dia masih merebahkan badan di kontrakannya yang tak jauh dari Masjid Al Azhar, Kota Kairo, Mesir.Di Kairo, jarum jam baru menunjukan pukul 12.30 waktu, di Padang sudah pukul 17.20 WIB. Muhammad Farman bersama 8 orang penghuni rumah itu tidak sedang begitu sibuk. Rutinitas kuliah sedang kosong. Bulan ini adalah bulan ke delapan dia di Mesir, sejak Januari 2022.

"Kebetulan sedang libur, ada belajar tapi hanya diskusi dengan para senior,"sebut bungsu dari empat bersaudara itu, Rabu (7/9).Muhammad Farman adalah satu dari puluhan mahasiswa asal Sumatera Barat yang sedang menempuh pendidikan di Al Azhar, Kairo, Mesir. Dia mengikuti jejak kakak kelas dan guru-gurunya di Parabek, sebutan Madrasah Aliyah (MA) Sumatera Tawalib.

"Sejak bergabung dengan Parabek, saya sudah niat untuk bisa belajar ke Kairo,"katanya.Putra dari pasangan Nelfis (59) dan almarhum Lapardi ini sedang menjajaki mimpinya belajar di Kairo. Bertekad mendapat bekal ilmu sebagaimana pada pendahulu dan senior-seniornya yang juga belajar di Al Azhar.

Mengejar mimpinya untuk kuliah di Mesir memang sudah sesuai keinginannya. Sudah lama dia berjuang juga bisa melanjutkan kuliah ke Al Azhar. Tekad itu dipasangnya begitu menginjakan kakinya di Parabek.Siang yang terik dengan hari yang malas. Kini di sudah di Kairo Mesir. Sejumlah teman satu kontrakan juga hanya sibuk dengan rutinitas biasa. Kuliah sedang libur. Empat menara masjid Al Azhar nampak begitu jelas dari kontrakannya. Masjid yang dibangun antara tahun 359-361 Hijriyah tampak megah.

Kontrakan itu tidak jauh dari Universitas Al Azhar. Hanya sekitar 10 menit jalan kaki ke Masjid Al Azhar. Kondisi itu membuatnya cukup nyaman. Dekat dengan kampus.Muhammad Farman, butuh perjuangan dan tekad yang kuat untuk dapat kuliah di Kairo. Selain belajar yang tekun, terutama fasih berbahasa Arab. Dia juga harus mengakali bagaimana mendapatkan biaya untuk berangkat.

"Disini bahasanya memang tidak pakai bahasa Arab resmi, ada bahasa lokal. Kebetulan saya bisa,"katanya.Muhammad Farman, lahir di Tabek Sarik Nagari Pakan Sinayan, Kabupaten Agam. Dia tinggal bersama ibunya Nelfis. Dengan satu orang kakaknya. Sedangkan, dua orang kakaknya sudah berumah tangga. Itupun tidak semuanya di Kampung.

Untuk memenuhi kebutuhannya, Nelfis mendapatkan pendapatan dari bertani. Terutama berladang. Kebetulan mereka masih punya lahan, berupa ladang di lereng Gunung Singgalang peninggalan keluarganya."Ibu petani. Berladang, bawang, cabe dan buncis. Dengan hasil itulah kami memenuhi kebutuhan. Termasuk untuk biaya saya sekolah,"katanya.

Karena kondisi itu pulalah, Muhammad Farman harus memutar otak agar berangkat ke Mesir tidak terkendala. Mengandalkan uang dari orang tua saja sudah pasti tidak mungkin. Untuk biaya sekolah dan hari-harinya sudah berat.Tidak hanya harus menguasi bahasa Arab. Dia juga harus memanfaatkan peluang beasiswa agar bisa belajar di Al Azhar.

"Kalau di di Al Azhar kuliah tidak bayar, gratis. Karena beasiswa. Saya hanya butuh uang untuk berangkat,"katanya.Untuk persiapan berangkat inilah, Farman paling tidak membutuhkan uang sekitar Rp18 juta. Mulai dari bayar uang pendaftaran uji kompetensi, sampai untuk pelatihan.

Saat itulah dia berjuang mendapatkan tambahan uang. Dia mengajukan sejumlah permohonan bantuan, seperti pada Unit Pengumpul Zakat Badan Amil Zakat Nasional (UPZ Baznas) Semen Padang.Selain itu dia juga mengajukan permohonan bantuan pada Baznas Provinsi Sumatera Barat dan Baznas Kabupaten Agam. Hasilnya tiga lembaga tersebut merespon permohonan bantuannya.

Editor : Eriandi, S.Sos
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini