Penanganan Bencana Bisa Jadi Pertimbangan Pemilih di Pilkada Mendatang

×

Penanganan Bencana Bisa Jadi Pertimbangan Pemilih di Pilkada Mendatang

Bagikan berita
Mulyadi (ist)
Mulyadi (ist)

PADANG - Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Barat, Mulyadi mengingatkan penanganan bencana akhir-akhir ini akan berpengaruh pada sikap masyarakat dalam menentukan pilihannya pada Pilkada Sumbar serta kabupaten dan kota akhir tahun mendatang.

"Diskusi kami kalangan pemuda ini jadi bahasan. Keseriusan dan kepedulian kepala daerah dan tokoh-tokoh yang ada terhadap dampak bencana akan jadi salah satu faktor pemilih menentukan pilihannya pada Pilkada nantinya. Kami pemuda, juga akan mendorong sikap seperti ini di tengah-tengah masyarakat," ujarnya di Padang, Jumat (19/4).

Pasalnya bencana sering kali menimbulkan kesengsaraan yang tidak ringan, karena kehilangan harta benda dan kehilangan nyawa sekalipun serta lainnya. "Kami mendengar langsung bagaimana jeritan para korban banjir dan longsor yang terjadi di beberapa daerah beberapa waktu lalu, seperti di Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Kota Padang dan lainnya. "Tak sedikit mereka yang mengumpat, saat Pemilu dan Pilkada mengemis suara ke mereka. Ketika bencana datang yang diserahkan amanah seakan tak peduli. Jika pun ada, sekadarnya saja," tutur pria yang akrab disapa Yadi ini.

Sekarang masyarakat dihadapkan pada dampak erupsi Gunung Marapi disertai lahar dingin yang diperkirakan masih akan terjadi. Yang paling dirasakan saat ini adalah kerusakan jalur Padang-Pekanbaru di Kelok Hantu, Aia Angek, Tanah Datar yang penangannnya dirasakan begitu lambat dan belum tepat. "Seakan tiap pagi jalur itu berusaha dikeringkan, dan pagi berikutnya diulang dari awal," tuturnya.

Sementara dari data yang ada Lebih dari 20 ribu kendaraan orang dan barang melintas setiap hari di jalan utama tersebut. Tak hanya kendaran lokal, tapi juga antar provinsi. Truk-truk pembawa sayur, pisang, kelapa, cabai, beras, minyak oreng, sabun cuci, semen dan lainnya bergantung ke jalur itu. Jika terganggu saja sedikit berpengaruh pada jutaan orang.

Dari catatan Singgalang dari Padang ke Bukittinggi banyak sekali jembatan, sebagian baru, sisanya buatan Belanda.

Sementara dari Marapi meluncur anak sungai yang jumlahnya sekitar 30-an, 25 di antaranya mengamuk pada saat hujan lebat bagai ditimba sebelum lebaran. Hujan menghanyutkan abu kepundan, yang disebut lahar dingin itu.

Pasar-pasar tumpah sudah jadi takdir belaka, pemerintah kehilangan akal. Kini jembatan tersumbat tampaklah gagapnya. Untung tak keluar ucapan, “anggaran tidak ada". Duka masyarakat yang disemprot erupsi berkali-kali sebelumnya ikut tenggelam dibuatnya.

Jauh sebelumnya masyarakat juga dibuat sesak dengan lambatnya penanganan longsor di kawasan Sitinjau Laut, Jalan Padang-Solok yang sekarang sudah dibenahi, dan ditambah dengan penanganan longsor di beberapa titik di Limapuluh Kota, Jalan Sumbar-Riau dan lainnya.

Sebelumnya mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Barat, Defika Yufiandra menyayangkan lambatnya penanganan jalur Kelok Hantu itu. "Ini menyesakkan. Menyengsarakan masyarakat terutama bagi warga yang biasa bergantung ke jalur itu dalam beraktivitas sehari-hari, tetapi tak juga diatasi dengan cepat dan tepat," katanya di Padang, Jumat (19/4/2024).

Editor : Rahmat
Bagikan

Berita Terkait
Terkini