Sombong Benar Dia

×

Sombong Benar Dia

Bagikan berita
Sombong Benar Dia
Sombong Benar Dia

Apa yang ditulis ini, bisa berbalik kepada saya. “Dek lai mah.” Tapi, saya tulis juga, karena memang kadang banyak yang menyengkelkan:Begini, masalah yang kita hadapi sebenarnya ada dalam pikiran. Misalnya tentang orang kaya dan miskin. Karena itu, antara lain, muncul penilaian, dia pelit, dia sombong. Perkataan sombong dan pelit untuk orqng lain itu, kata sebagian pendapat, adalah bungkus dan perlawanan diri sendiri terhadap kegagalan diri sendiri. Menyembunyikan ketidakmampuan dan menjaga agar rasa malas tetap stabil dalam diri.

Yang paling fatal adalah, menuduh orang lain sombong dan pelit, sebenarnya adalah ketidakmengertian atas: rezeki dari Allah atau rezeki takkan tertukar atau rezeki tak berpintu.Kita diberi space, diberi ruang, kesempatan, waktu dan pagi, siang dan malam yang sama oleh Allah. Syukuri apa yang ada, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan makhluknya. Ini semua, dimaksudkan Tuhan bukan agar umatnya pasrah lalu malas. Sering orang menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menjaga agar rasa malasnya tidak terusik.

“Tatumbuak pangana, awak dek sagalo ndak ado,” kata yang lain. Jika satu hari sampai 10 hari, apalagi sudah menahun, cara pandang seperti itu dipelihara maka ya demikian jadinya. Jika Anda 10 hari saja mencaci- maki bangsa sendiri di medsos maka Anda sudah mencuci otak sendiri. Anda saja yang benar, bangsa ini salah. Demikian juga dalam mencari nafkah untuk kehidupan, kalau mengeluh terus, maka air irigasi kehidupan itu akan mengalir di saluran keluh-kesah itu.Jika di medsos dikenal algoritma, maka dalam kehidupan sejak awal Anda lahir juga sudah ada. Kalau Anda suka bacaruik, suka nonton film porno, maka algoritma akan membawa Anda terus ke suasana itu. Jika suka bekerja keras maka akan muncul saja banyak kerja di depan Anda.

Lalu orang lain lebih sukses dan kita tidak, maka dimunculkan penilaian negatif pada orang yang berhasil. Caranya sangat banyak. Selain hal di atas juga dengan cara, biarlah miskin asal bahagia. Untuk apa uang banyak tapi makan dengan garam. Untuk apa kaya raya tapi kelak di akhirat masuk neraka. Untuk apa semua itu jika selera tak bisa lepas. Ini pembelaan diri yang takkan didengar orang, walau ustad sering berkata seperti itu. Ini mempertajam pertentangan sosial, bukan untuk kemakmuran, padahal kata makmur dieratkan ikatannya dengan masjid.Masalah ada dalam pikiran diwariskan dari kakek nenek ke ayah ibu dan kepada generasi mudanya. Oleh lingkungan. Semua kesalahan ada di luar dirinya.

“Dek lai mah, cubo indak mode kami ko,” kata orang dewasa. Sikap itu yang diwariskan, bukan semangat kerja.Dari kalangan ini atau kalangan lain yang terpengaruh, muncul keinginan bekerja dengan gaji tetap. Bagai gerimis, sedikit tapi sepanjang hayat.

Saya duga, kebiasaan korupsi muncul dari sebutan “tempat basah.” Akar masalah ini tak lain, ingin cepat kaya tanpa kerja keras. Ini buah busuk dari pengaruh, “masalah ada dalam pikiran” karena secara langsung atau tidak sudah lama melihat orang yang selalu dicap sombong dan pelit oleh lingkungan. Pada beberapa kasus oleh keluarganya sendiri.Jadi menurut saya algoritma kehidupan sosial melarikan anak bangsa pada belantara uang. Di belantara itu uang pakai sayap, pakai akar dan tumbuh subur. Di sana rezeki itu ada tapi untuk masuk susahnya minta ampun. Di belantara itu banyak orang baik seperti pedagang, saudagar, orang-orang pekerja keras dan yang berpangkat tinggi. Tapi godaan selalu ada.m, maka di wilayah yang sama, ada pula orang rakus. Godaan itu, berusaha mengaburkan pendapat diri sendiri tentang makna uang halal dan haram. Kemudian terjadilah koprupsi. Makin sering, makin sero.

Hari ini, masyarakat tidak benar-benar membencinya. Bahkan suka akan oknum koruptor. Sebab? Ia telah hadir tidak lagi sebagai si sombong dan si pelit.Jadi pangkal masalahnya adalah ketidakmampuan bekerja cari uang. Pangkal dari itu, salah memaknai rezeki dari Allah. Gadang kayu, gadang bahan, demikian semestinya ditafsirkan. Tentu saja orang yang sama-sama bekerja, satu dengan otak, satu dengan otot, hasilnya berbeda.

Asumsi saya, kita dan saya juga sering salah menilai hamparan kehidupan. Jika alam raya dipandang-pandang saja maka mungkin hidup akan sempit.Sering salah dalam berpikir, memang rezeki selalu ada dari Tuhan, tapi Allah tak suka umatnya yang malas, yang bersandar-sandar saja seperti di surga. Mager.(*)

Editor : Eriandi, S.Sos
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini