Shaimin Berprestasi

×

Shaimin Berprestasi

Bagikan berita
Shaimin Berprestasi
Shaimin Berprestasi

Setiap orang pasti ingin berprestasi dalam aktifitasnya, termasuk menjalankan ibadah. Namun tidak semua orang mampu memperoleh prestasi yang paripurna.Kesungguhan dan kesadaran menjadi salah satu alasan berbedanya capaian prestasi manusia. Dalam Ramadan juga demikian halnya. Setiap orang akan berbeda capaian kesungguhan amalnya dan capaian akhir yang diperoleh.

Al-Qur'an memberikan isyarat tentang tingkatan capaian dalam menjalankan amal Ramadan, salah satu contoh seperti dalam ayat berikut. "kemudian Kitab (al-Qur'an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikandengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.' (Q.S. Fathir: 32) Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menyebutkan bahwa ayat di atas ditujukan kepada umat Islam dalam mengaktualisasikan ajaran agamanya.Termasuk bagian dari aktualisasi ajaran Islam itu menjalankan puasa dan ibadah lainnya selama Ramadan. Maka dalam ayat ini disebutkan ada tiga tipe umat Islam.

Pertama, karakter zholim. Bulan Ramadan baginya sama saja dengan bulan-bulan lain. Tidak ada keistimewaannya. Akibatnya, makan dan minum pada siang hari dikerjakan seperti hari lainnya, keluarganya memasak di rumah juga layaknya bulan yang lain.Aktifitas duniawinya berjalan normal seperti biasa. Bahkan baginya, kedatangan Ramadan justru menambah beban baru secara ekonomi sebab Ramadan dengan beragam pilihan konsumsinya akan menambah biaya hidup meskipun tidak berpuasa.

Kedua, karakter pertengahan (muqtashid). Kedatangan Ramadan, bagi orang dengan karakter ini membawa banyak berkah. Dengan Ramadan aktifitas akan berkurang dari sisi kuantitas. Pasca Ramadan akan ada libur panjang dan aktifitas wisata akan dijalani bersama keluarga. Selain itu, kewajiban puasa ditunaikan secara baik dan perintah agama yang bersifat wajib dilaksanakan secara penuh.Namun, tidak sungguh-sungguh dalam menjaga ibadah sunat. Tarwih diikuti hanya beberapa hari, sedekah juga sedikit, membaca al-Qur'an tidak seberapa. Sahur tidak dilaksanakan dengan alasan tidak selera makan dan lain-lain.

Ketiga, karakter berprestasi. Ramadan dijalaninya tidak hanya sebatas amaliah wajib seperti puasa, shalat lima waktu, zakat dan kewajiban-kewajiban lainnya, tetapi amalan-amalan sunat, disempurnakannya secara sungguh-sungguh.Jalur Prestasi

Menyempurnakan ibadah sunat bagi shaimin berprestasi bukan hal yang sulit sebab ibadah tersebut sudah lebih dahulu (as-sabiq) dikerjakan di luar Ramadan, maka Ramadan dimaknainya sebagai upaya berlomba (musabaqah) untuk peningkatan amaliah tersebut. Yang membedakannya adalah pada kuantitas dan kualitas ibadah yang dikerjakan.Oleh karena itu, ada banyak jalur yang dapat ditempuh agar bisa menjadi shaimin berprestasi, bahkan secara spesifik, Nabi Muhammad saw memberikan pedoman untuk mengerjakan amalan sunat tersebut, antara lain:

Pertama, makan sahur. Meskipun secara hukum makan sahur dihukumi sunat dan puasa tetap sah dilaksanakan tanpa makan sahur, tetapi bagi shaimin berprestasi, ada nilai tambah ibadah dengan makan sahur meskipun hanya dengan segelas air putih saja. Nabi Muhammad bersabda, makan sahurlah, karena sahur itu berkah (H.R Bukhari dan Muslim) Sahur itu berkah, maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur (H.R. Ahmad).Kedua, mengakhirkan sahur. Praktik makan sahur yang dikerjakan oleh Nabi saw dan para sahabat adalah berloma-lomba dengan datangnya waktu fajar. Hanya sekadar membaca lima puluh ayat al-Qur'an saja jarak selesai sahur dengan waktu azan subuh yang hari ini ditandai dengan sirine sepuluh menit sebelum azan subuh. Hikmah mengakhirkan itu agar kuat puasa di siang hari sebab apabila sahur lebih cepat maka waktu berpuasa lebih lama dan akan menyebabkan kelelahan di siang hari.

Mengakhirkan sahur meskipun dihukumi sunat tapi bagi shaimin berprestasi hal itu dijaganya secara sempurna sebagai wujud kepatuhan dan ketauladan puasanya Nabi saw. Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan berbuka dan memperlambat sahur (H.R Ahmad).Ketiga, menyegerakan berbuka. Sunat hukumnya segera berbuka ketika waktu magrib telah masuk, bahkan lebih didahulukan berbuka daripada mengerjakan shalat Magrib yang juga memiliki keutamaan sendiri untuk dikerjakan diawal waktu. Ini menunjukkan bahwa keutamaan menyegerakan berbuka lebih utama dari melaksanakan shalat di awal waktu.

Keempat, memberi makan orang yang berbuka. Besar pahala yang akan diperoleh oleh orang yang menyempurnakan puasanya sekaligus bisa menyempurnakan tugas sosialnya sebagai manusia seperti memberi perbukaan kepada orang yang akan berbuka, bahkan meskipun hanya seteguk air atau sebutir takjil dan tentu akan lebih baik dengan memberikan makanan yang cukup dan mengenyangi.Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang diberinya makan tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. (H. R. at-Tirmizy, an-Nasai, Ibn Majah, Ibn Hibban).

Kelima, menjaga lidah dan anggota tubuh.Sunat hukumnya meninggalkan semua ucapan keji dan kotor, perkataan yang akan menjerumuskan pada kefasikan. Bergunjing, mengadu domba, berdusta dan melakukan kebohongan adalah beberapa contoh perbuatan yang mesti dijauhi. Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan kotor, maka Allah tidak butuh dia untuk meninggalkan makan dan minumnya (puasa). (H.R Bukhari).

Editor : Eriandi
Bagikan

Berita Terkait
Terkini