Selesai Juga Menulis Novel Biografi Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

×

Selesai Juga Menulis Novel Biografi Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Bagikan berita
Foto Selesai Juga Menulis Novel Biografi Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
Foto Selesai Juga Menulis Novel Biografi Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Mulai 27 Februari, absen April karena Ramadhan, selesai 6 Juni, praktis dua bulan, naskah novel biografi Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, burung kelana Minangkabau itu, selesai saya tulis.Menarik juga menelusuri jalan sejarah ulama ini, sedemikian hebat dan berakhir di puncak karirnya, tatkala bintangnya bersinar di langit Hijaz.

Saya belum pernah menulis disertasi, melihat sudah. Rasa-rasanya samalah dengan itu, ketika saya menulis riwayat Inyiak orang Koto Tuo, Balai Gurah ini. Bedanya, saya tak diuji-uji, tak ada bab-bab teori dan segela tetek bengek itu. Langsung saja kepokok persoalan.Proses kreatifnya, dalam menulis 45 kitab, menjawab semua keraguan pemeluk Islam di Hindia Belanda, merupakan bukti, Ahmd Khatib baru menulis, setelah menemukan referensi yang kuat dan mendapatkan informasi akurat pula dari berbagai pihak.

Ahmad Khatib menyelesaikan sengketa dua masjid di Palembang, menjelaskan soal hal-hal "yang ditambah-tambah" dalam tarekat. Setidaknya perdebatan soal tarekat ini berlangsung 10 tahun di Minangkabau. Menasihati muridnya, Hasyim Asy'ari agar tak menuduh Sarekat Islam (SI) dengan yang tidak-tidak. Meminta secara serius pada muridnya agar melakukan dakwah untuk menyingkirkan benalu dalam ibadah. Sekaligus menyuruh muridnya mendirikan surau/madrasah bagi yang belum punya.Pesan mendirikan surau/madrasah itulah yang menjadi salah satu tungku tumbuhnya kaum intelektual Minangkabau. Bermuara antara lain, sampai ke Hamka, Natsir, Rahmah el Yunisiyyah sebagai murid dari muridnya.

Murid langsungnya, sekitar 90 persen ulama besar Minangkabau, yang nama-nama ulama itu, kita sebut-sebut dengan takzim hari ini.Ahmad Khatib atau Mekkah adalah hulu dari intelektualitas muslim Minangkabau yang dibangun sejak 1880 di Mekkah, ketika jemaah haji terus berdatangan. Ulama-ulama muda Minangkabau lantas belajar bertahun-tahun bersama imam besar Masjidil Haram ini. Hulu lainnya adalah sekolah-sekolah Belanda. Hasil didikan Mekkah dan Belanda itu, mengocok sedemikian hebat anak-anak Minangkabau dan hasilnya dilihat sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Novel BiografiNovel biografi mungkin kalau dicetak akan setebal 350 sampai 400 halaman itu, merupakan karya saya yang mudah-mudahan dicetak. Sebab, sekarang sedang dalam proses editing editor di Republika, novel biografi Syekh Ibrahim Musa Parabek. Juga sedang dibuatkan covernya.

Minimal sejak buku novel biografi saya serupa tentang Inyiak Canduang, Rahmah el Yunisiyyah telah diterbitkan Republika, maka dua karya terakhir ini, akan memperkaya kisah para ulama Minangkabau.Kisah-kisah ulama itu amat menarik, betapa uletnya. Untuk ke Mekkah saja misalnya, bersabung nyawa. Belum lagi, dalam berdakwah, bentrok dengan pemerintah Belanda.

Ahmad Khatib dalam beberapa kitabnya meminta bahkan menerjang pemerintahan Belanda agar tidak menyesatkan umat. Tentang Isra Mi'raj serta mendoakan raja Belanda, misalnya. Selain itu, seperti diketahui secara luas, pemisahan Harta Pusako Tinggi dan Rendah yang diputuskan dalam sebuah pertemuan akbar ulama di Bukittinggi 1953, adalah wujud impelementasi dari kitab-kitab soal warisan yang ditulis Ahmad Khatib.Tentu saja ini ada dalam novel biografi tersebut. Selain kisah perih, terasa mau gila ketika istrinya meninggal dan mau balik kampung. Kisah cinta yang menarik. Catatan tentang kisah anak-anaknya, murid-murid beken dan proses intelektualitasnya.

Demikianlah, sebagai sebuah promosi (hahaha) mana tahu ada yang tertarik, nanti setelah novel terbit (*)

Editor : Eriandi, S.Sos
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini