Sanggar di Padang Laweh Malalo Lestarikan Kesenian Randai Lewat Binaan Dosen UNP

×

Sanggar di Padang Laweh Malalo Lestarikan Kesenian Randai Lewat Binaan Dosen UNP

Bagikan berita
Foto Sanggar di Padang Laweh Malalo Lestarikan Kesenian Randai Lewat Binaan Dosen UNP
Foto Sanggar di Padang Laweh Malalo Lestarikan Kesenian Randai Lewat Binaan Dosen UNP

Malalo - Tim Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (UNP) kembali melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian yang dibungkus dalam program Pengembangan Nagari Binaan (PPNB) itu dilaksanakan di Kenagarian Padang Laweh, Malalo, Kabupaten Tanah Datar.Tim yang dipimpin Drs. Syamsir, MSi., memberikan pembinaan sumber daya manusia (SDM) pada kelompok remaja dalam Pelestarian Kesenian Tradisional Randai Minangkabau di kenagarian itu. Di sana, tepatnya di Jorong Tanjung Sawah terdapat sanggar bernama Sanggar Seni Salapan Suku.

Sejak terbentuk pada 2016 lalu, kinerja dan performasi sanggar ini belum berjalan maksimal karena alat penunjang untuk kegiatan belum lengkap. Peralatan yang mereka gunakan masih sewa atau meminjam. Ditambah lagi, anggota sanggar juga belum begitu terampil dalam performansi seni, karena tidak adanya pendamping yang membimbing mereka untuk mengembangkan kesenian.“Di Sanggar Seni Salapan Suku ini terdapat 50 orang remaja berusia 10-25 tahun dengan berbagai peminatan dibidang seni, seperti randai, tari, silat, alat musik tradisional, dan perkusi,” sebut Syamsir.

Remaja ini disampaikannya, memiliki semangat yang tinggi untuk mengembangkan kesenian tradisional Minangkabau. Hanya saja, berbagai kendala tersebut, termasuk ketiadaan tempat belajar yang tetap membuat sanggar yang dibina Ikatan Pemuda-Pemudi Tanjung Sawah (IPPTAS) Malalo ini hanya aktif ketika akan ada “event” atau acara- acara tertentu.Ini lah menurut Syamsir yang menjadi latar belakang dirinya bersama tim melakukan pembinaan agar kesenian tradisional Minangkabau, khususnya randai dapat terus lestari di tengah gempuran budaya asing.

PPNB sendiri dijelaskannya bertujuan untuk membina dan menumbuhkan kesadaran dan pemahaman kelompok remaja atau generasi muda di Kenagarian Padang Laweh Malalo terhadap pentingna pelestarian kesenian tradisional randai sebagai salah satu warisan budaya, sekaligus sebagai potensi dan daya tarik wisata yang selama ini terabaikan. “Berdasarkan  penelitian  dan pengamatan kami selama ini, kesenian tradisional Minangkabau, termasuk randai, kurang begitu mendapatkan perhatian, bahkan cenderung terabaikan pelestariannya,” sebutnya.Kondisi itu makin diperparah oleh rendahnya kesadaran dan apresiasi masyarakat, terutama generasi muda terhadap pentingnya pelestarian kesenian tradisional. Mereka beranggapan, randai sebagai kesenian tradisional atau kuno dan sudah ketinggalan zaman. Sementara di Malalo, ada remaja yang mau dan bersemangat untuk melestarikan, hanya saja masih terkendala dari berbagai hal, sehingga inilah yang mendorong para dosen ini melakukan pembinaan.

Dari hasil pembinaan pada tahun pertama, yakni tahun 2022, menunjukkan pembinaan telah mampu memenuhi sebagian kebutuhan para kelompok remaja di kenagarian itu. Utamanya, terhadap penguasaan keterampilan teknik randai Minangkabau. “Pada tahun pertama, kegiatan ini difokuskan pada pelatihan dan pendampingan performansi randai sebagai salah satu aset dan warisan budaya Minangkabau yang perlu dilestarikan,” jelas Syamsir didampingi anggota timnya, Drs. Ideal Putra, MSi., Dra. Jumiati, MSi., dan Dr. Nora Eka Putri, MSi.Untuk tahun kedua di tahun ini lanjutnya, kegiatan akan difokuskan pada peningkatan keterampilan tingkat mahir dalam performasi randai melalui pelatihan, pendampingan, dan studi banding  serta kolaborasi latihan kepada kelompok-kelompok sanggar tradisional sejenis yang sudah lebih maju perkembangannya,” terangnya.

Pada target khusus kegiatan tersebut disampaikannya, terjadinya peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan kelompok mitra dalam melestarikan kesenian tradisional randai, khususnya di Kenagarian Padang Laweh Malalo. Demi memaksimalkan pembinaan, Syamsir berharap bisa dilakukan terus hingga tahun ketiga, tahun 2024 mendatang. (yuni)

Editor : Eriandi, S.Sos
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini