Romantisme Masa Lalu

×

Romantisme Masa Lalu

Bagikan berita
Foto Romantisme Masa Lalu
Foto Romantisme Masa Lalu

Bernostaligia memang nikmat, apalagi setelah sukses. Tak lengkap kesuksesan tanpa nostalgia dan napak tilas ke masa susah untuk mengenang perjuangan menuju kesuksesan.Terkadang saat diceritakan kepada anak cucu suka diekspresikan secara histeris dan dilebihkan-lebihkan beberapa meter agar ada unsur dramatisnya.

Misalnya di masa lalu sempat mengalami makan sekali sehari, itupun hanya sekali dua kali, tapi diceritakan seringkali puasa sampai tiga hari alias nasib baik masih bisa hidup. Ya begitulah. Namanya juga nostalgia dan napak tilas.Bagaimana kalau hari ini lebih buruk dibanding masa lalu? Biasanya yang muncul adalah nostalgia untuk menghibur diri agar kuat menempuh beban hari ini dan esok hari. Romantisme semacam ini adalah bagian dari lamunan orang yang sejengkal lagi putus asa dan dua jengkal lagi menjelang bunuh diri.

Dalam kontek ini, biasanya yang setengah indah dikenang sangat indah. Makan steak lokal diaku steak daging wagyu yang diimpor dari Jepang. Tentu maksudnya agar kenangan yang dipoles dengan nuansa post truth semacam itu bisa menghentikan niat minum racun alias bunuh diri.Nah, dalam kategori nostaligia jenis kedua itulah tulisan Prof. Ganefri, yang sempat ditanggapi beberapa penulis lain, dikonstruksi. Marwah Minangkabau hari ini sudah luntur. Tokoh-tokoh besar Minang di masa lalu agaknya tak beregenerasi lagi. Kira-kira begitu inti tulisan beliau.

Saya sangat memahami spirit dan konteks tulisan beliau layaknya ketika saya memahami kawan saya dari Turki yang bernostalgia tentang kebesaran Imperium Ottoman (Khilafah Utsmaniah) atau kawan dari Jepang yang mengenang Tokyo sebelum dihajar resesi tahun 1990an.Bagaimana menyikapinya? Sikap terbaik adalah mendengarkan dengan seksama alias bersikap layaknya mendengarkan seorang kawan curhat menceritakan keluh kesahnya. Tak perlu disalah-salahkan, didebat, apalagi digurui. Karena biasanya nortalgia jenis ini memang bernada curhat, hanya perlu didengarkan. Dengan begitu, beban dan keluh kesah di hatinya bisa semakin ringan

Konteksnya sangat berbeda dengan cerita kawan dari China yang bercerita dengan spirit nostalgia kategori pertama. Kenangan seratus tahun dipermalukan (a hundred years of humiliation) oleh dunia barat menjadi motivasi kuat bagi China untuk bangkit. Kini, China sudah kembali dipertimbangkan sebagai kekuatan yang setara dengan Barat.Untuk menyikapi nostalgia kategori kedua ini bisa sedikit lebih fleksibel. Bisa dikritik sedikit terkait kekurangan yang ada di era kejayaan baru China yang hari ini mereka banggakan. Misalnya Seperti gelembung utang dan gelembung sektor properti, ketimpangan ekonomi, krisis demografi, minimnya perlidungan hak paten, dan besarnya peran barat di WTO dalam membesarkan China.

Atau memberi perspektif lain bahwa Dinasty Qing sebenarnya bukanlah dari suku Han, tapi dari Mongol, yang menaklukan Dinasty Ming di abad ke 13, misalnya lagi. Jadi China cq Suku Han sudah dipermalukan terlebih dahulu oleh Mongol sebelum oleh Barat di perang candu abad 17.Dengan begitu napak tilas kawan dari Cina tidak serta merta berubah menjadi jumawa atau sombong atas masa lalu yang besar dan kemudian dipermalukan bersama dengan masa kini yang jaya. Walhasil, nostaligianya akan berakhir dengan diskusi produktif, saling berbagi sudut pandang.

Jadi dalam perspektif dua jenis nostalgia inilah saya melihat tulisan Rektor UNP di Harian Singgalang beberapa waktu lalu terkait memudarkanya marwah orang Minangkabau. Beliau menilai bahwa Sumbar saat ini sedang berada di jalan yang kurang tepat, untuk itu harus kembali ke pangkal (sasek di jalan babaliak ka pangka)Untuk apa? Untuk merekonstruksi cerita lama dan mendesain ulang narasi baru atas kenangan lama agar mendatangkan efek produktif dan motivatif pada generasi hari ini untuk segera keluar dari jalan yang sesat dan jalan yang salah.

Sebagai sebuah keluh kesah, saya memahami perasaan Pak Rektor dan membaca pesan di dalam tulisannya dengan baik bahwa stagnasi di banyak bidang di Sumbar sudah naik ke ubun-ubun para tokoh sekaliber Pak Rektor yang memicu darah "nativisme (berorientasi ke masa lalu)"-nya menggelora.Dan keluh kesah itu adalah bagian dari hak asasi Pak Rektor di satu sisi dan tanggung jawab moral-intelektualnya di sisi lain, jadi sangat perlu didengarkan dan dihargai. Untuk itu saya tak berniat menanggapi tulisan beliau, baik secara umum maupun secara detail kalimat per kalimat.

Saya hanya ingin menggunakan tulisan beliau sebagai referensi untuk menulis sepenggal dua penggal pesan untuk generasi muda Sumbar. Pesannya adalah jangan terlalu sering melihat ke belakang, nanti tersandung. Jika sesekali sempat melihat ke belakang, jangan busungkan dada dan jangan pula minder atas apa yang pernah ada di masa lalu.Yang ingin menjadi pemimpin beberapa tahun ke depan, ambillah nilai-nilai baik dari tokoh-tokoh besar Minang di masa lalu, tapi jangan hilangkan otentisitas diri sendiri. Setiap masa punya tantangan dan kemudahannya masing-masing. Generasi hebat di masa lalu telah menunaikan tugas dan fungsinya.

Kini generasi hari ini berhadapan dengan masa kini dengan tantangan dan kemudahan yang ada di masa kini. Do the best. Jadi jangan kaitkan kaki di masa lalu terlalu dalam, nanti malah tidak bisa melangkah ke depan. Repot kita toh. Romantisme itu perlu, tapi secukupnya saja, jangan sampai kecanduan.Dan pesan penutup, dengarkan baik-baik kata orang tua kita. Prof Ganefri, selain Rektor UNP, adalah juga orang tua bagi para generasi muda Sumbar. Jadi dengarkan baik-baik keluhan, curhatan, dan pesan-pesannya. Tak perlu merasa tersinggung, karena seharusnya berterima kasih. Kemudian, niatkan dalam hati bahwa generasi muda Sumbar akan berbuat yang terbaik yang mampu diperbuat berdasarkan kapasitas dan posisi masing-masing.(Penulis adalah Penikmat Kopi)

Editor : Eriandi, S.Sos
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini