Rendang Babi, Pesan untuk yang Asal Bicara

×

Rendang Babi, Pesan untuk yang Asal Bicara

Bagikan berita
Foto Rendang Babi, Pesan untuk yang Asal Bicara
Foto Rendang Babi, Pesan untuk yang Asal Bicara

Oleh: DR. Gamawan Fauzi Datuak Rajo Nan Sati, SHSetelah ribut masyarakat asal Minangkabau memprotes masakan rendang daging babi yang dijual sebuah restoran bermerk restoran Padang, muncul  tanggapan dari berbagai kalangan.

Ada dari ahli kuliner, ahli sosiologi  sampai kepada ahli ekonomi pemasaran, bahkan sampai seorang yang bergelar Gus, yang suka nyeleneh dengan soal soal Islam.Tanggapan tersebut melebar kemana- mana dan menjangkau hal-hal yang tidak dipermasalahkan secara substansial oleh masyarakat Minang.

Tapi biasalah, kadang supaya ingin terkenal, seperti kelakuannya selama ini,  mereka ikut nimbrung meramaikan.Salah satu di antaranya adalah komentar seorang bergelar Gus yang mempertanyakan, sejak kapan rendang punya agama?

Dia mempertanyakan sesuatu yang tak dikatakan orang. Orang ke mudik dia ke hilir, tapi demi sekadar berbeda, dia ikut pula bicara, tapi bicara yang menyakitkan orang Minang, walau di awal ucapannya, dia mengutip ayat Al Quran, tentang perintah Allah untuk memakan makanan yang baik dan halal.Saya menyimak semua tulisan, komentar dan pendapat  tokoh-tokoh Minang. Pada umumnya suara mereka sama, pandangannya pun serupa dan yang menjadi keberatan mereka pun tak beda.

Persoalannya, berangkat dari hal hal yang sangat prinsip bagi masyarakat Minang.Semua tahu, rendang adalah masakan Minang, sama halnya dengan gudeg masakan Yogya atau rica- rica masakan Manado atau pempek masakan Palembang, Sumatera Selatan dan berbagai ragam jenis makanan daerah lainnya se Nusantara.

Kalaupun ada negara lain yang mengaku-ngaku punya produk rendang, itu hanya soal hukum merk, soal daftar- mendaftar kepada lembaga yang berwenang saja,  soal bisnis, soal mencari keuntungan dari peluang yang tersedia, bukan ikhwal asal muasal, soal siapa atau masyarakat  mana sesungguhnya pemilik  produk yang sah tersebut.Saya kira dalam hati dan pikiran kita semua, termasuk mereka yang berbisnis di negara lain, sebenarnya tahu rendang bukanlah karya asal mereka, itu jelas masakan Padang atau Minangkabau.

Soal rendang itu masakan khas Minang, sudah bersuluh matahari, bergelanggang mata orang banyak, dan semua mengakuinya.Masakan itu terkait dengan keyakinan, apa yang akan dimakan, bagi masyarakat Islam tentu tak punya basis masakan yang bahan makanannya di haramkan oleh agama sebagai keyakinan mereka. Itulah sebabnya selama ini, masakan padang identik dengan sesuatu yang halal, atau tegasnya pasti halal. Tanpa label halal pun pasti halal.

Itulah sebabnya selama ini , ketika seorang Muslim yang hendak makan dan mereka ragu tentang kehalalan produk restoran, mereka akan memilih restoran Padang, karena pasti halal, tanpa harus bertanya soal halal haram dan tanpa label halal haram,Merusak citra

Munculnya restoran BABIAMBO yang memasak rendang daging babi, sungguh merusak citra dan image konsumen akan rendang  yang selama ini pasti halal.Mencari uang  silahkan saja, mau berinovasi juga tidak ada yang melarang,  tapi jangan mengganggu sesuatu yang sudah baku,  mengganggu milik etnik yang sudah selama ini melekat dengan produk masakannya.

Dalam dunia bisnis dewasa ini, hampir semua produk dapat ditiru, bahkan dicuri teknologinya, berbagai merk palsu bermunculan, merambah hampir semua produk yang punya pasar bagus. Mulai dari pulpen, jam tangan dan berbagai barang barang elektronik ada kw kw nya,apalagi rendang.Rendang memang produk yang amat laku, sehingga CNN menetapkan rendang sebagai makanan terlezat di dunia tahun 2011, bahkan gelar itu bertahan selama 9 tahun berturut turut hingga 2019 yang lalu . Bahkan ada yang menyebut pantas diberi penghargaan Guiness Book Record.

Editor : Eriandi, S.Sos
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini