Pelajar Tawuran, Indikasi Runtuhnya Marwah Pendidikan

Foto Harian Singgalang
×

Pelajar Tawuran, Indikasi Runtuhnya Marwah Pendidikan

Bagikan opini

PADANG - Maraknya tawuran merupakan salah satu indikasi runtuhnya marwah pendidikan. Semua pihak memiliki andil dan semua pihak pun harus berperan mengembalikan marwah pendidikan terutama di Sumatera Barat."Kami dari dewan pendidikan Sumatera Barat memberikan apresiasi tinggi terhadap kepedulian dan kesolidan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Sumatera Barat dalam menangani masalah tawuran yang terjadi belakangan," kata Ketua Dewan Pendidikan Sumatera Barat, Syarifuddin, Senin (1/8).

Menurutnya kesolidan Forkopimda tersebut memberikan angin segar pada perbaikan pendidikan Sumbar ke depan. Jika seluruh pihak komitmen dengan kepedulian terhadap pendidikan, Sumbar sebagai industri otak akan segera terealisasi."Apresiasi khusus juga patut kita berikan pada jajaran Polresta Padang yang dengan sigap menangani tawuran yang terjadi Kamis (28/7-red) lalu," tukuk Syarifuddin.

Dihubungi di tempat terpisah, anggota Dewan Pendidikan Sumatera Barat, Khairul Jasmi, menyatakan mulai runtuhnya marwah pendidikan dipengaruhi berbagai faktor dan berbagai pihak."Masyarakat secara umum, ninik mamak, dan orang yang dituakan lupa memberikan pendidikan budi pekerti kepada generasi muda," kata KJ, begitu ia biasa dipanggil.

Demikian juga dengan kepala sekolah dan guru. Terlena dengan kungkungan kurikulum dan birokrasi. Sehingga waktu hanya habis untuk mengajar dan minim mendidik peserta didik dari segi moral."Beberapa sekolah dan kepala sekolah malah sibuk hanya dengan urusan fisik dan sarana prasarana sekolah. Lupa menyediakan ruang yang cukup untuk bermain siswa serta minim sokongan anggaran untuk mengembangkan kreativitas siswa di bidang non kurikulum. Sehingga banyak energi yang tidak tersalurkan dengan baik," ujar KJ.

Tak hanya itu, sebagian orang tua juga terkesan abai dengan pendidikan anak. Minim kontrol yang dilakukan, orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah."Ini fenomena umum yang terjadi saat ini. Padahal, rumah merupakan madrasah pertama bagi anak-anak," tukuk KJ.

Untuk itu, KJ mengajak semua pihak terlibat membangun kembali dunia pendidikan Sumatera Barat. Hal pertama yang dilakukan adalah mengembalikan marwah dunia pendidikan melalui menempatkan lagi rasa hormat masyarakat kepada sekolah dan guru."Kita dan penyelenggara pendidikan selama ini mulai melupakan budi pekerti, rasa hormat, adab, dan rasa sayang antar sesama," ucap KJ

Untuk itu, dunia pendidikan Sumbar memerlukan satu sentakan dimana masyarakat luas elit dan siapa saja kembalilah menghargai sekolah dan guru sebagaimana dulu. Pendidikan pun harus dibiarkan berjalan pada jalurnya dan tidak terlalu banyak terseret politik."Jangan lagi saling menyalahkan. Saatnya kita seayaun selangkah membangun pendidikan," harap H. Khairul Jasmi. (hirval)

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini