Pemandian Sebagai Objek Wisata di Sumatera Barat Awal Abad Ke-20

Foto Gusti Asnan
×

Pemandian Sebagai Objek Wisata di Sumatera Barat Awal Abad Ke-20

Bagikan opini

‘Pemandian Lubuk Mata Kucing Padangpanjang lenyap dilanda banjir’ adalah salah satu berita yang banyak dikabarkan sekaitan dengan terjadinya galodo yang melanda Lembah Anai dan sebagian Padangpanjang Minggu 11 Mei 2024 yang lalu. Ada juga berita yang menambahkan ‘keterangan waktu’ mengenai Pemandian Lubuk Mata Kucing tersebut, berita itu ditambah dengan mengatakan pemandian tersebut telah berusia 106 tahun.

Memang, Lubuk Mata Kucing adalah sebuah pemandian besejarah. Pemandian ini telah lama beroperasi. Bahkan bisa dikatakan usianya lebih dari 106 tahun.

Bila usianya dikatakan 106 tahun maka itu berarti pemandian ini mulai dipakai tahun 1918. Namun dari sejumlah literatur lama, seperti karya J.F. van Bemmelen dan G.B. Hooyer yang berjudul ‘Reisgids voor Nederlandsch-Indie’ diketahui, bahwa saat buku tersebut terbit tahun 1903, Pemandian Lubuk Mata Kucing telah ada. Merujuk kepada karya Bemmelen ini, maka berarti Pemandian Lubuk Mata Kucung itu telah berumur sekitar 125 tahun lebih.

Pemandian Lubuk Mata Kucing berumur lebih 106 tahun juga bisa dikaitkan dengan karya L.C. Westenenk yang berjudul ‘Acht Dagen in de Padangsche Bovenlanden’ . Dalam buku yang terbit tahun 1908 itu juga disebut adanya Pemandian Lubuk Mata Kucing. Dikaitkan dengan tahun terbit buku ini, jelas juga bahwa usianya lebih 106 tahun.

Sesuatu yang menarik dari karya Bemmelen dan Westenenk, serta sejumlah buku panduan wisata dan travelogues lainnya adalah dikatakannya Pemandian Lubuk Mata Kucing sebagai objek wisata. Objek wisata dan sekaligus tempat mandi-mandi (badplaats) bagi wisatawan dan penduduk di mana pemandian itu berada.

Buku-buku panduan wisata dan travelogues mengenai Sumatera Barat pada awal abad ke-20 memang hampir selalu menyebut pemandian sebagai objek wisata. Dari sumber-sumber tersebut diketahui ada banyak pemandian di Sumatera Barat. Pemandian-pemandian tersebut ditemukan di hampir semua kota (destinasi wisata) Sumatera Barat.

Keberadaan pemandian juga bukan merupakan sesuatu yang asing bagi Urang Awak. Hal ini terlihat dari adanya informasi yang menyebutkan Urang Awak juga menyukai mandi di pemandian. Akrabnya mereka dengan pemandian juga bisa dilihat dari adanya penamaan khusus yang mereka berikan, seperti ‘batplat’ atau ‘sembat’, dua nama yang berasal dari Bahasa Belanda ‘badplaat’ (pemandian atau tempat mandi) dan ‘zwembad’ (kolam renang),

Berikut adalah sejumlah kota (destinasi wisata) di Sumatera Barat pada awal abad ke-20 yang memiliki pemandian dan nama-nama pemandiannya.

Pertama kota Padang. Kota ini memiliki pemandian dalam jumlah yang paling banyak. Nama-nama pemandiannya adalah: 1). Pemandian ‘Welkom’ di Lubuk Begalung. Ini adalah pemandian di batang air (Batang Arau) yang mengalir di kawasan itu; 2). Pemandian bermarmar di kawasan bekas rumah dan pemandian gubernur (juga di Lubuk Begalung); 3). Pemandian Lubuk Peraku, sekitar 16,5 km ke arah timur kota Padang, sebuah pemandian di pinggir anak air yang mengalir di kawasan Sitinjau Laut; 4). Pemandian Lubuk Sariak (di pinggir Sungai Limau) di kawasan Padang Besi di sebelah timur kota Padang; 5). Pemandian Juliana (‘Julianabad’) di Sungai Beramas (Taman Nirwana dewasa ini); 6). Pemandian (Zwembad) di Belantung.

Bagikan

Opini lainnya
Terkini