Desa Wisata di Sumbar; Saat Pendekatan Partisipatif Membawa Perubahan

Foto Melda Riani
×

Desa Wisata di Sumbar; Saat Pendekatan Partisipatif Membawa Perubahan

Bagikan opini
Ilustrasi Desa Wisata di Sumbar; Saat Pendekatan Partisipatif Membawa Perubahan

Keindahan alam Sumatera Barat tidak diragukan lagi. Semua jenis wisata ada di daerah ini, mulai dari panorama alam, laut, danau, pegunungan dan lain-lain. Belum lagi pesona budaya dan kuliner yang semua bisa dijadikan sebagai daya tarik untuk mendatangkan wisatawan. Meski memilikipotensi besar, namun dulunya, potensi tersebut belum dioptimalkan. Keramaian wisatawan hanya pada momen-momen tertentu. Namun, sejak gerakan sadar wisata mulai merambah pada banyak desa-desa di Sumbar, potensi wisata yang ada makin digenjot denganaktivitas pendukung serta paket-paket wisata yang dikemas secara baik.

Saat ini, desa wisata mulai menjadi salah satu ujung tombak pariwisata di Sumatera Barat. Terdapat sebanyak 338 desa wisata di daerah ini yang sudah terdaftar di Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Tingkat kunjungan wisatawan pun semakin meningkat.Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Sumatera Barat menjadi sepuluh besar provinsi yang menjadi tujuan wisatawan nusantara terbanyak untuk periode Januari - September 2023, bahkan hanya satu tingkat di bawah Bali. Begitu juga untuk daerah sasaran utama yang dikunjungi wisatawan mancanegara, Sumbar berada di posisi 10, di bawah Sumatera Utara dan di atas Sulawesi Utara, meski secara persentase masih kecil (data BPS, 2022).

Dari data yang diungkap Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat (Sumbar), Luhur Budianda, kunjungan wisatawan meningkat 137 persen selama tahun 2023. Pemprov menargetkan kunjungan wisatawan sejumlah 8,2 juta orang, tapi ternyata tingkat kunjungan sampai akhir Desember 2023 melebihi target. Tercatat 11.243.840 wisatawan datang ke Sumbar dengan rincian 11.178.143 wisatawan nusantara dan 65.697 wisatawan mancanegara, atau 137 persen melebihi target yang ditetapkan (Infopublik.id, 21 Januari 2024). Dibanding tahun 2018, misalnya, data BPS mencatat terdapat 8,1 juta wisatawan, terdiri dari 8.073.070 wisatawan nusantara dan 57.638 wisatawan mancanegara atau wisman.

Pada tahun 2023, Sumatera Barat juga telah meraih beberapa penghargaan dalam bidang kepariwisataan. Di antaranya, penghargaan dan anugerah desa wisata Indonesia untuk 5 desa wisata, peringkat 3 penilaian indeks pariwisata muslim Indonesia, juara II video promosi kategori destinasi wisata ABBWI (Anugerah Bangga Berwisata di Indonesia 2023), Merdeka Award 2023 untuk kategori Program Desa Wisata dan terbaik 1 kategori Provinsi terbaik ABBWI 2023 tingkat kawasan Sumatera.Bisa dikatakan kalau pariwisata Sumbar termasuk yang diperhitungkan saat ini. Hal itu salah satunya karena kesadaran wisata yang semakin meningkat.

Namun, desa sadar wisata bukanlah sebuah proses pembangunan yang mudah dan langsung diterima masyarakat seperti membalikkan telapak tangan. Seperti proses pembangunan lainnya, butuh waktu cukup lama hingga desa sadar wisata dapat diterima secara luas dan mulai diterapkan di banyak lokasi di Sumbar. Pada awalnya, program Sadar Wisata dicanangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tahun 2008 dan diatur dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.04.UM.001/MKP/2008 tentang sadar wisata. Program tersebut menjadi salah satu terobosan yang dilakukan oleh Kemenparekraf untuk mendukung peningkatan kunjungan wisatawan dengan melakukan kampanye Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona. Gerakan Sadar Wisata bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar destinasi pariwisata. Kegiatan program secara nasional pada awalnya hanya dilaksanakan di tiga desa super prioritas, yaitu Lombok, Nusa Tenggara Barat, Borobudur, Yogyakarta dan Prambanan, DIY dan Jawa Tengah, serta Toba, Sumatera Utara.

Secara umum, sadar wisata bertujuan untuk meningkatkan pengertian, pemahaman, dan kapasitas terbatas masyarakat tentang wisata di era baru yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa. Orientasinya ditujukan pada perubahan cara berpikir (mindset) masyarakat secara partisipatif, dimana pariwisata merupakan kegiatan yang perlu dukungan warga sekaligus akan memberikan manfaat pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Sementara, di Sumbar,Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) setempat mulai meluncurkan Desa Wisata sekitar tahun 2010 yang bertujuan untuk mengembangkan desa-desa menjadi destinasi wisata berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya, terutama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendorong dengan menerbitkan regulasi, pelatihan pengelolaan desa wisata, serta membentuk asosiasi/forum desa wisata. Meski begitu, program ini juga menghadapi tantangan seperti kesinambungan pengelolaan, pemasaran yang masih terbatas, dan perlunya peningkatan kualitas produk dan layanan desa wisata agar dapat bersaing.

Perubahan dan Pembangunan Partisipatif

Program desa wisata menggambarkan terjadinya perubahan di masyarakat sebagai hasil dari komunikasi pembangunan sekaligus memperlihatkan partisipasi masyarakat sehingga membuat program pembangunan menjadi sukses. Peran komunikasi dalam perubahan masyarakat adalah sebagai penggugah, pengarah, dan pengendali agar perubahan tetap bermanfaat dan berlangsung secara teratur. Seperti halnya Pemerintah Kabupaten Solok menggalakkan program pengembangan desa wisata dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan secara intensif kepada masyarakat desa. Komunikasi dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan tokoh masyarakat, karang taruna, dan kelompok sadar wisata. Hasilnya, beberapa desa di Solok seperti Tabek Talang Babungo, Danau Diateh, Kampung Batu Dalam dan Kampung Budaya Jawi-jawi berhasil mengembangkan desa wisata dengan memanfaatkan potensi alam dan budaya setempat. Begitu juga dengan pemerintah kabupaten dan kota lain di Sumbar.

Sebagaimana model yang dikemukakan Harold Lasswell, faktor-faktor penting yang berpengaruh terhadap kesuksesan komunikasi dalam rangka mencapai perubahan, yaitu kepercayaan dan daya tarik komunikator, pesan, saluran, khalayak dan efek. Kepercayaan dan daya tarik komunikator dalam hal ini selain pemerintah, juga anggota Pokdarwis yang merupakan pemuda dan tokoh masyarakat yang disegani. Pesan efektif tentang desa wisata harus mudah dipahami dan rasional. Adapun saluran komunikasi menggunakan interaksi langsung (antarpersonal atau dalam kelompok dan organisasi) melalui forum-forum masyarakat ataupun komunikasi skala lebih luas melalui media baru. Program desa wisata semakin hari semakin diterima melihat efek yang dihasilkan pada desa wisata yang sudah berhasil sebelumnya.

Bagikan

Opini lainnya
Terkini