War Takjil dan Representasi Toleransi

Foto Laila Marni
×

War Takjil dan Representasi Toleransi

Bagikan opini

Oleh Laila MarniAlumnus Pondok Pesantren Ashabul Yamin / Jurnalis / Jamaah PERTI

Bulan Ramadan adalah bulan yang istimewa dimana seluruh muslim di belahan dunia manapun diwajibkan berpuasa. Tak hanya itu Ramadan adalah bulan penuh berkah karena Allah SWT melipatgandakan pahala ibadah dan memberikan ampunan yang luas bagi hambaNya yang bertaubat.Selain itu Ramadan juga istimewa dengan turunnya Al-Quran di bulan ini, ditutupnya pintu neraka, dibukanya pintu surga, dibelenggunya Setan. Di Ramadan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan yakni malam Lailatul Qadar. Belum lagi Ramadan juga disebut sebagai bulan yang mustajabnya doa. Lalu ada amalan khusus yang tidak ada pada bulan lainnya yakni tarawih. Terakhir Bulan Ramadhan dikenal sebagai bulan penuh berkah.

Ramadan tidak hanya membawa berkah bagi umat Islam, tapi bagi sekalian alam. Hal tersebut dapat dilihat dengan fenomena yang terjadi beberapa hari terakhir di Indonesia. Media sosial khususnya Tiktok dan Instagram dipenuhi dengan beragam video dan postingan tentang fenomena War takjil atau berburu takjil. Dimana masyarakat yang beragama non islam turut berburu takjil.Takjil biasanya sering disangkutkan dengan menu buka puasa padahal nyatanya takjil berasal dari bahasa Arab yakni ‘Ajila yang berarti menyegerakan. Kata tersebut diserap dalam bahasa Indonesia, jika dicek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Takjil memiliki arti mempercepat (berbuka puasa).

Di sebuah postingan seorang non islam menuliskan”Puasa adalah kewajibanmu dan berburu takjil adalah hak bersama”. Masih banyak celetukan dan komentar netizen seperti “Untukmu agamamu, untukku takjilmu” komentar tersebut dibalas “Please kak jangan star jam 2 atau jam 3 kami sedang meditasi menahan lapar jam segitu”. Adalagi komentar, “Sisain dikitlah, masak kami buka pake air putih doang”. Ada juga yang berkomentar “Ku ganti telur paskahmu dengan kinder joy”. Bahkan ada yang menyarankan pedagang untuk menanyakan kepada calon pembelinya tentang rukun islam, rukun iman, dan baca syahadat sebelum membeli menu takjil agar mereka yang berpuasa tidak kehabisan takjil.Postingan lain, “Baru kali ini kita saling senggol tapi bahagia, sehat-sehat kalian semua. Apapun agamanya kita harus rukun dan damai”. Ada lagi postingan yang menuliskan bahwa drama pertakjilan di FYP indah sekali karena tren toleransi antar agama yang justru diciptakan oleh gen Z dan Milenial.

Postingan demi postingan tentang War Takjil terus bermunculan. Beragam komentar unik dan menggelitik tersebut justru menjadi hiburan tersendiri masyarakat 62. Bukannya marah, umat muslim kebanyakan malahan senang dengan war tersebut. Meskipun membalas apakah itu dengan akan membeli telur paskah dan sebagainya, tetapi mereka mengaku senang karena Ramadan kali ini menghadirkan keceriaan dengan momen yang lucu dengan umat agama lainnya.Belum lagi adanya fenomena War Takjil para pedagang bisa pulang lebih cepat dan bisa buka bersama keluarga di rumah. Hal ini juga bentuk keberkahan di bulan Ramadan. Tahun ini toleransi antar umat beragama begitu terlihat. Ini tak lepas juga dari pengaruh teknologi dan media sosial dalam menghubungkan interaksi sosial dan kuatnya Bhineka Tunggal Ika.

Hal yang penting kita tekankan adalah bagaimana saling menghormati dan menjaga kebersamaan di tengah perbedaan. Kita memang diciptakan berbeda namun harus tetap menghormati tradisi orang lain alias bertoleransi sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surat Al Kafirun ayat 6 yang memiliki arti “ Untukmu agamamu dan untukku agamaku”.Selain dari ayat tersebut, Allah juga berfirman dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang artinya “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Di dalam ayat tersebut Islam jelas mengajarkan toleransi dan menghargai perbedaan. Kemudian contoh toleransi yang diajarkan rasulullah yang patut kita tiru adalah sebuah kisah tentang perempuan buta di sudut pasar madinah. Ia menuduh Nabi Muhammad sebagai seorang tukang sihir dan pembohong besar. Namun Nabi sama sekali tidak menaruh kebencian pada perempuan tersebut, bahkan Nabi malah menyuapinya makanan. Kebiasaan Nabi menyuapinya terus berlanjut, dan perempuan itu terus saja menjelekkan Nabi, ia tidak tahu yang menyuapinya makanan adalah orang yang Ia fitnah.Hingga tiba masanya Nabi Muhammad meninggal dunia, tidak ada lagi yang menyuapi perempuan tersebut. Selang beberapa waktu Abu Bakar Ashidiq menyuapi perempuan tersebut meneruskan kebiasaan Nabi. Namun dia bertanya siapa yang menyuapinya? Abu Bakar menjawab orang yang biasa menyuapinya. Tapi perempuan itu berkata bahwa yang menyuapinya bukan orang yang biasa. Karena orang yang biasa menyuapi tidak berperilaku sama. Abu Bakar menangis dan mengakui bahwa bukan ia bukan orang yang biasa menyuapi perempuan itu, tetapi ia adalah sahabatnya. Yang sering menyuapi itu adalah Nabi Muhammad SAW dan sekarang ia telah meninggal. Perempuan itu menjerit dan menyesali perbuatannya dan akhirnya bersyahadat di depan Abu Bakar.

Teladan yang diberikan rasulullah adalah salah satu bentuk toleransi dan sikap ramah, lembut, baik hati bahkan tidak balik membenci. Itulah salah satu alasan kenapa banyak kafir Quraisy tertarik pada agama Islam. Fenomena War Takjil bisa dilihat dari perspektif indahnya toleransi di Indonesia, penuh candaan tapi saling menghormati.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini