Dakwah Kultural dalam Kajian Ramadan

Foto Shofwan Karim
×

Dakwah Kultural dalam Kajian Ramadan

Bagikan opini

 Oleh Shofwan Karim

Dosen PPs UM Sumbar dan Ketum YPKM 

Tahun 2024 ini Muhammadiyah bersama Nahdlatul Ulama memperoleh Jayed Award For Human Fraternity, suatu penghargaan internasional bergengsi yang berpusat di Abu Dhabi Uni Emirat Arab untuk peran persaudaraan kemanusiaan universal.Puja-puji banyak dari mana-mana termasuk Antropolog Boston University Robert Hefner yang mengatakan, “ Muhammadiyah dibandingkan dengan ormas apa pun adalah organisasi yang tidak hanya istimewa, tetapi juga luar biasa, dan Muhammadiyah merupakan sebuah aset moral bagi bangsa Indonesia ,” 

Namun banyak pemimpin Muhammadiyah yang kini melakukan muhasabah-evaluasi diri, benarkah semua itu?Tak kurang dari Prof Dr KH Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengajak semua warga Muhammadiyah pada kajian Ramadhan di Yogyakarta dan Jakarta secara marathon 15-20 Maret ini untuk muhasabah-introspeksi diri. Dan itu harus dilakukan dengan TSM (Terstruktur, Sistematik dan Masif). Kajian ini diikuti seribu orang pemimpin Muhammadiyah dari seluruh Indonesia.

Terutama menanggapi konstatasi Robert Hefner pada pengajian Ramadhan kali ini, Haedar memaparkan data. Sejumlah fakta yang menjadi isu publik tentang Muhammadiyah akhir-akhir ini layak untuk diperbincangkan. Kata Haedar, menurut Lingkar Survei Indonesia (LSI), jumlah masyarakat yang merasa menjadi bagian dari warga Muhammadiyah mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Pada hasil survei tahun 2005 sebanyak 9,4 persen, angka ini menurun tahun 2014 hanya 7,8 persen, dan hasil survei Agustus 2023 persentasenya semakin menurun di angka 5,7 persen.

Lanjutnya, boleh jadi survei tersebut mengandung bias yang terbuka untuk diperbincangkan secara metodologis dan diuji dengan realitas di lapangan. Namun survei tetap memiliki pijakan ilmu pengetahuan, yang setidaknya dapat dijadikan salah satu rujukan atau informasi untuk kepentingan memahami realitas objektif Muhammadiyah. 

Kata Haedar lagi, keberatan atas hasil survei dapat dijawab dengan survei lain, yang tentu harus lebih valid atau memiliki tingkat validitas tinggi. Di situlah sifat terbuka ilmu pengetahuan, lebih-lebih yang bersifat empirik.Selanjutnya Haedar menjawab sendiri panorama paparan penelitian tadi. Ia mengatakan, sebagai bahan muhasabah atau evaluasi tidak keliru manakala mengambil sisi lain dari temuan survei LSI itu, kenapa kondisi tersebut terjadi dan bagaimana meningkatkan jumlah anggota masyarakat yang merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah. 

Salah satu kata Haedar, situasi tersebut dapat dikaitkan dengan kecenderungan lain, anggota masyarakat yang mengaku simpatisan Muhammadiyah, kalau meninggal atau anggota keluarganya meninggal mengikuti ritual Islam lainnya dan tidak mengikuti ritual ala Muhammadiyah.Intinya, Muhammadiyah secara kuantitas masih di bawah organisasi Islam lain yang jumlahnya jauh lebih besar, sehingga Gerakan Islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini sering disebut sebagai organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia.

Boleh jadi warga masyarakat maupun umat Islam pada umumnya yang disebut “awam” dan “pengikut tradisi Nusantara” itu tidak benar-benar menjadi bagian dan berafiliasi dengan ormas keagamaan lain yang selama ini mengklaim terbesar. Akan tetapi, secara ritual-keagamaan dan tradisi-keagamaan merasa terwakili oleh organisasi Islam lain itu sehingga menjadi berhimpitan atau beririsan secara keagamaan dan kebudayaan.

Haedar seakan membenarkan bahwa sebagian tokoh Muhammadiyah ada yang lebih kuat di aspek kualitas kritis terhadap lingkungan strategis kebangsaan, dan secara paralel, Jam’iah-Persyarikatan lebih kuat dalam  aspek kuantitas amal usaha di bidang Pendidikan dengan ratusan perguruan tinggi, ribuan sekolah, madrasah dan pesantren dari prasekolah sampai menengah. Ini bahkan beberapa ada di mancanegara.Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah ratusan, balai Kesehatan dan Poliklinik ribuan, Baitut Tamwil, Ekonomi Produktif, BulogMu, Penerbitan, Koperasi Syari’ah, Panti Asuhan ribuan dan seterusnya. 

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini