Jihad Kemanusiaan di Era Milenial

Foto Oryn Nasyitah
×

Jihad Kemanusiaan di Era Milenial

Bagikan opini

Oryn NasyitahSiswa MAN 2 Kota Padang

Sekarang ini kita hidup di "Era Milenial", yaitu sebuah waktu yang tidak hanya menandai berubahnya tahun, tapi juga perubahan besar dalam cara kita menjalani hidup, berhubungan dengan orang lain, dan memahami dunia. Di Era Milenial, hampir segala hal dalam hidup kita bergantung pada teknologi digital. Di zaman ini, teknologi digital membuat segala sesuatu lebih mudah dan cepat, terutama dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Kita bisa menghubungi orang dari belahan dunia lain hanya dengan klik, mencari berbagai informasi dalam sekejap, dan menikmati berbagai hiburan dengan gampang. Tapi, kita juga perlu memikirkan, bagaimana teknologi ini mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan sesama.Sekarang, interaksi yang biasanya penuh dengan perasaan dan nuansa, sering kali hanya jadi pesan singkat, emoji, atau postingan di media sosial. Ini membuat kita bertanya, apakah kita kehilangan sisi penting dari berinteraksi sebagai manusia? Apakah kita menuju ke masa depan di mana kehangatan sentuhan, obrolan langsung yang mendalam, dan hubungan yang erat dengan orang lain menjadi jarang? Era Milenial membawa banyak kemungkinan baru, tapi juga tantangan. Kita, yang hidup di zaman ini, harus memikirkan bagaimana caranya mengambil kebaikan dari teknologi digital tanpa kehilangan sisi penting dari menjadi manusia. Ini adalah tantangan yang harus kita hadapi, agar kita bisa memanfaatkan teknologi tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan kita.

Era Milenial, bukan sekadar label waktu, tetapi sebuah definisi dari karakteristik yang begitu melekat pada Generasi Milenial, atau yang sering kita kenal sebagai Generasi X. Generasi ini unik, karena mereka lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang sudah dipenuhi dengan kemajuan digital. Mereka adalah generasi yang dengan mudahnya beradaptasi dalam dunia digital, sebuah dunia yang penuh dengan inovasi dan perubahan yang konstan.Generasi Milenial dikenal sebagai generasi pertama yang benar-benar bersentuhan dengan produk digital, menyesuaikan diri dengan setiap perkembangan teknologi yang terjadi, hingga pada titik di mana berinteraksi dengan digital terasa lebih nyaman dibandingkan berhadapan langsung, face to face, dengan manusia. Begitu pula dengan AI [artficial intelligence], dengan segala kecerdasan buatannya, telah menjadi platform yang begitu disukai dan digunakan luas oleh kalangan milenial. Kehadiran AI dapat merespon setiap pertanyaan dan informasi, dengan kecepatan dan akurasi yang mengagumkan. Sungguh, dengan kecerdasan buatannya, AI telah menarik hati banyak di antara kita, khususnya generasi Milenial.

Kita saat ini dihadapkan pada sebuah tantangan besar: bagaimana teknologi mempengaruhi generasi milenial, mendorong mereka menjadi lebih konsumtif. Mereka cenderung mencari solusi yang praktis dan instan, sebuah sikap yang kadang-kadang bisa ditafsirkan sebagai manja dan enggan menghadapi proses yang panjang dan penuh tantangan. Ini menimbulkan pertanyaan kritis: Apakah kita kehilangan kesempatan untuk menggali dan mengembangkan potensi diri kita? Apakah kita kehilangan minat untuk berinovasi dengan pengetahuan yang kita miliki? Apakah kita mengabaikan pentingnya mengasah kecerdasan dan kemampuan kita? Dan yang terpenting, apakah kita telah kehilangan kemampuan untuk bermimpi dan merencanakan masa depan yang lebih baik?Di sinilah konsep 'Jihad' menjadi relevan bagi generasi milenial. Jihad yang berasal dari bahasa arab yakni ” جَهْدٌ” yang artinya “usaha”, dan kata; جُهْدٌ  yang mempunyai arti kekuatan. Jihad, dalam konteks era milenial diartikan sebagai perjuangan dan kerja keras dalam mempertahankan hak-hak, memajukan gagasan, dan merencanakan masa depan. Mengikuti penjelasan Ibnu Taimiyah, Jihad pada hakikatnya adalah upaya sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada hakikatnya, jihad diperlukan untuk membela kemanusiaan dari segela bentuk penindasan. Al Qur’an surat At Taubah; 13-15, dan An Nisa; 75-76 dapat dijadikan pijakan di mana jihad diperlukan untuk memberantas kedzoliman, mempertahankan diri, kehormatan, dan harta dari tindakan kesewenang-wenangan, mewujudkan keadilan dan kebenaran, dan membantu orang-orang yang lemah (kaum dhuafa).Dalam menghadapi era teknologi yang pesat ini, ada tiga bentuk jihad yang perlu dilakukan oleh generasi milenial. Pertama, jihad dalam mengantisipasi dampak negatif teknologi. Ini mencakup kesadaran akan bahaya over-konsumsi digital dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Kedua, jihad dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ini berarti memanfaatkan teknologi untuk kemajuan pribadi dan komunal tanpa kehilangan nilai-nilai esensial kemanusiaan. Ketiga, jihad untuk membangun masa depan peradaban kemanusiaan. Inilah esensi sejati dari jihad di era milenial yaitu, kerja keras membangun etos perjuangan untuk menemukan keseimbangan antara kemajuan teknologi, nilai-nilai kemanusiaan dan nilai ketuhanan.

Mengutip Nurus Shalihin (2023) bahwa masadepan peradaban kemanusian ditentukan tiga hal, sains [teknologi], spritualitas dan budaya. Hanya terhadap sains yang berkekuatan spritual dan berakar budaya, masa depan peradaban ditumpangkan—sebagai solusi. Dari spritualitas yang berakar budaya danberwawasan sains, masa depan peradaban dapat menjadi inspirasi. Pada budaya yang ditopang oleh sains dan memiliki kekuatan spiritual, masa depan peradaban akan terwariskan dengan baik.Atas hal tersebut di atas, maka kita generasi milenial memerlukan ruang untuk mengeksplorasi, mengolah, mengasah dan menempa diri dalam membangun masa depan. Karena pemilik masa depan adalah generasi milenial, maka jihad menjadi etos penting bagi anak-anak milenial bergerak membangun masadepan ini. Demikian, semoga kita menjadi generasi yang memberi bermaafaat bagi kehidupan orang lain, dan masadepan peradaban kemanusiaan.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini