L.C. Westenek, Bapak Pariwisata Sumatera Barat

Foto Prof. Gusti Asnan
×

L.C. Westenek, Bapak Pariwisata Sumatera Barat

Bagikan opini

Oleh Prof. Gusti AsnanDunia wisata Sumatera Barat tempo doeloe juga digerakkan oleh sosok-sosok yang pada awalnya bergerak secara personal (sampai akhirnya ikhtiar mereka direspon pihak lain). Mereka aktif mempromosikan dan mengembangkan dunia wisata Sumatera Barat. Mereka adalah para ‘penggerak wisata’ Sumatera Barat.

Salah satu sosok yang paling aktif mengembangkan dan mempromosikan dunia wisata Sumatera Barat adalah L.C. Westenenk. Dia adalah pegawai dan pejabat pemerintah (kolonial) yang memiliki ide, kreativitas dan inovasi serta kecampinan dalam menulis. Dia adalah salah satu sosok yang menyebabkan Sumatera Barat dijadikan sebagai salah satu dari empat destinasi wisata utama Hindia Belandapada awal abad ke-20.Westenenk atau nama lengkapnya Louis Constant Westenenk bisa dikatakan sebagai ‘Bapak Pariwisata’ Sumatera Barat (pada masa Hindia Belanda). Julukan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa dia mempunyai peran yang besar dalam menghidupkan sejumlah aktivitas yang bernuansakan pariwisata di Sumatera Barat.

Westenenk aktif dan mempunyai peran yang besar dalam penyelenggaraan Pasar Malam (Tentoonstelling) di Bukittinggi, Payakumbuh dan Padang­panjang. Bahkan bisa dikatakan, tanpa keikutsertaannya, Pasar Malam itu tidak akan pernah ada. Sehubungan dengan itu dia menulis tiga tulisan, yakni “Tentoonstelling van Minangkabausche Nijverheid en Kunst te Fort de Kock” (1905, 1906), “Pakan Malam te Fort de Kock (9-17 Juni 1906)” (1906), “Verslag van de Eerste Jaarmartttentoon­stelling te Fort de Kock” (1907); “De Tweede Pakan Malam te Fort de Kock (21-29 Juni 1907” (1907).Westenenk juga punya peran yang penting dalam dunia wisata Sumatera Barat. Perannya terlihat dari upayanya menumbuhkan aktivitas pariwisata di Bukitinggi. Dia menggagas pembuatan jalan setapak di kawasan Atas Ngarai. Jalan itu dipersiapkan untuk wisatawan agar bisa berjalan-jalan sepanjang ngarai. Berjalan-jalan dalam jarak yang relatif dekat dengan tebing ngarai sambil menikmati keindahan ngarai dan keindahan Gunung Merapi serta Gunung Singgalang sebagai latarnya. Jalan yang dirintisnya itu kemudian dikenal dengan nama Westenenk Paadjes.

Dalam upaya mempromosikan dunia wisata Sumatera Barat, Westenenk menulis lima buku panduan wisata. Tiga buku dalam bahasa Belanda dan dua buku dalam bahasa Inggris. Buku-buku karya Westenenk ini nampaknya menjadi rujukan bagi buku-buku panduan wisata lain yang terbit sesudahnya dan juga dirujuk oleh para penulis travelogues yang menuliskan catatan perjalanan mereka di Sumatera Barat selepas terbitnya karya Tuan Steneng ini (orang Minangkabau menamainya dengan Tuan Steneng).Kelima buku karya Westenenk tersebut adalah Viertien Dagen in de Padangsche Bovenlanden” (1907), Gids voor Fort de Kock (1907), Acht Dagen in de Padangsche Bovenlanden(1909), Sumatera Illustrated Tourist Guide: A Fourteen Days’ Trip in the Padang Highland (1913) (Buku ini nampaknya merupakan edisi Bahasa Inggris dan edisi revisi dari buku Viertien Dagen in de Padangsche Bovenlanden), Short Guide of Sumatera with a More Complete Description of the Padang Highland (1921).

Westenenk lahir tangal 2 Februari 1872 di Penawangan (Demak). Dia adalah anak dari pasangan suami istri Jan Constantijn Westenenk dan Francoise Josephine Emilie Louse Wardenaar. Ayahnya adalah seorang pengusaha pemilik perkebunan di Demak. Pada usia 7 tahun dia dikirim ke Deventer (Belanda) dan hidup di sana dengan tantenya. Setelah menamatkan pendidikan, pada usia 20 tahun (1892) dia mengikuti ujian menjadi ambtenaar (pegawai) dan lulus. Pada tahun yang sama, dengan menumpangi kapal ‘Batavia’ milik Rotterdamsche Llyod dia kembali ke Hindia Belanda. Selama bertugas di Hindia Belanda, selama lebih kurang 28 tahun, Westenenk ditugaskan di banyak tempat dengan berbagai jabatan pemerintahan. Salah satu daerah, di mana dia pernah bertugas adalah Sumatera Barat.Karir Westenenk di Sumatera Barat dimulai di Sawahlunto tahun 1898 dengan posisi sebagai Controleur Onderafdeeling Koto VII. Selama bertugas dia termasuk pegawai yang memiliki perhatian yang tinggi pada aspek-aspek yang berhubungan dengan pemberdayaan daerah, dan berupaya kuat menyukseskan program pemerintah. Upaya-upaya yang dia lakukan antara lain meningkatkan produksi kopi, yang saat itu mulai ditinggalkan petani, aktif memperbaiki prasarana transportasi (terutama jalan dan jembatan), memiliki keprihatinan yang tinggi atas nasib buruh tambang, dan terakhir dia juga termasuk sebagai seorang ambtenaar yang juga menyisakan waktu untuk ‘bersantai’. Dia sering berjalan-jalan atau bertamasya menikmati alam sekitar.

Tahun 1900 Westenenk dipindahkan ke Aceh dan lima tahun berikutnya kembali lagi ke Sumatera Barat. Dia ditempatkan di Fort de Kock dengan jabatan sebagai Asisten Residen Keresidenan Padang Darat. Dia dinilai sukses mengemban amanah sebagai ambtenaar, bahkan dia dinilai sukses memadamkan Pemberontakan Kamang.Kesuksesannya tidak hanya dalam bidang administrasi pemerintahan dan penegakan rust en orde(kedamaian dan ketertiban) semata, tetapi juga dalam menggairahkan dunia pariwisata serta kegiatan sosial, ekonomi dan budaya daerah. Sebagai disebut sebelumnya, dia berperan penting dalam penyelenggaraan Pasar Malam di Bukittinggi, Payakumbuh dan Padangpanjang. Dia juga mendukung acara pacu kuda Bukit Ambacang, bahkan dia memiliki sejumlah kuda pacuan.

Buku-bukunya tentang promosi pariwisata Sumatera Barat, seperti yang disebut di atas) ditulis saat dia menjadi pejabat pemerintah di Bukittinggi (kecuali buku Short Guide of Sumatra with a More Complete Description of the Padang Highland (1921).Tidak hanya tertarik pada dunia pariwisata dan pleasure, Westenenk juga memiliki minat yang tinggi terhadap adat, budaya dan sejarah Minangkabau. Dalam kaitan dengan itulah dia melakukan serangkaian penyelidikan dan akhirnya menuliskan hasil penyelidikannya itu lewat sejumlah tulisan, di antaranya: “Padri-geweer” (1908), “Orang Boenian, de Malaeische Spookmenschen (1908)”, “Beschrijving der Hindoebeelden in de Batanghari-Districten” (1909), “Iet over Land en Volk van Minangkabau” (1912), “De Inlandsache Bestuurshoofden ter Sumatera’s Westkust” (1913), “Opsetelen over Minangkabau: Koemanih en Soempoe Koedoes, en de Radjo Nan Tigo Selo” (1913), De Minangkabausche Nagari (1913), “Beguiniging op Overmatige Kosten van Inlandsche Feesten” (vnl. De Minangkabuscers) (1914), Land en Volk van Minangkabau (1914/1915), “Opstellen over Minangkabau: Pariangan Pandangpanjang in de Lareh Nan Panjang, Sang Sapoerba’s Bukit Si Guntang, en de Goenoeng Mahameroe” (1915).

Westenenk bertugas di Sumatera Barat sampai 1915 untuk selanjutnya mengabdi sebagai Residen di Bengkulu. Walaupun dia telah pergi, orang Sumatera Barat tetap mengenangnya. Warisan Westenenk tetap dikenal Urang Awak, setidaknya hingga akhir masa kekuasaan Hindia Belanda. Sebutan Westenenk Paadjes untuk jalan setapak di Atas Ngarai tetap dipertahankan dan sebutan ‘Tuan Steneng’ masih akrab dikalangan Urang Awak hingga tahun-tahun terakhir pemerintahan Hindia Belanda.Westenenk meninggal dunia tahun 1930 dan dikremasi tanggal 6 Mei 1930 di Westerveld (Negeri Belanda).

 

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini