Sisa-sisa Kenangan di Willum Warrain

Foto Harian Singgalang
×

Sisa-sisa Kenangan di Willum Warrain

Bagikan opini

Oleh Isral NaskaDosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Delegasi AIMEP (Australia Indonesia Muslim Exchange Program) 

Salah satu topik yang sering dibicarakan di Sumatera Barat, mulai dari kelas, surau, hingga lapau adalah perasaan terhadap terjadinya pelemahan adat istiadat dan budaya. Tuan ini berpendapat, buya itu tak henti bernasehat, ninik mamak itu mengeluh, kaum yang menyebut dirinya Bundo Kanduang juga demikian. Orang-orang khawatir Minangkabau itu lemah dan hilang. Takut akan terjadi seperti yang disebut oleh Buya Hamka: “hilang minangnya tinggal kabau (kerbau)-nya”Bagaimana jika budaya itu benar-benar punah? Bahasanya hilang? Suku bangsanya tercerai berai-berai? Tanahnya tergadai dan terjual? Bagaimana rasanya? Sepertinya Willum Warrain adalah tempat yang tepat untuk membayangkan itu semua.

Kami ke sana selepas acara di Balcombe Grammar School. Rasanya tidak terlalu lama ke sana dari sekolah itu. Mungkin tidak sampai satu jam. Lokasinya pun masih berada di kawasan yang sama, yaitu Mornington Peninsula.Willum Warrain adalah sebuah kawasan yang luasnya mungkin sekitar 2 ha. Tempat ini diberikan oleh pemerintah sebagai pusat berkumpulnya sisa-sisa keturunan suku Aborigin di sekitaran negara bagian Victoria. Di tempat ini mereka dapat saling berbagi cerita, saling menguatkan, dan mengenang kebudayaan mereka yang kini sudah samar-samar.

Pada dasarnya Willum Warrain adalah tempat terbuka yang terdiri tidak lebih dari lima bangunan utama saja. Selebihnya adalah kawasan hutan semak yang mereka sebut sebagai bush. Di sinilah sisa-sisa memori akan suku Aborigin mereka pertahankan.Sebagaimana yang diketahui, suku bangsa Aborigin pernah mengalami periode gelap, yaitu setelah kedatangan gelombang imigran dari Inggris. Saat itu suku bangsa Aborigin mengalami kematian massal di berbagai tempat, akibat tertular penyakit yang terbawa dalam tubuh-tubuh imigran Inggris yang datang. Semua itu terjadi karena tubuh mereka tidak siap untuk menghadapi berbagai virus baru yang terbawa dari Eropa sana.

Hal paling menyedihkan dari sejarah mereka adalah adanya pendekatan yang tidak tepat kepada mereka. Suku bangsa pribumi asli ini dianggap terbelakang oleh imigran yang baru datang. Jadi mereka harus dimajukan, harus “diBaratkan”. Salah satu yang mereka lakukan untuk tujuan itu adalah mengambil anak-anak Aborigin dari keluarga mereka, lalu dibesarkan dalam keluarga-keluarga kulit putih. Anak-anak ini kemudian dididik dengan gaya hidup Barat dan dikondisikan berbicara dengan Bahasa Inggris. Generasi yang mengalami perlakukan ini dikenal dengan the Stolen Generation, alias generasi yang dicuri dari keluarganya. Periode terjadinya hal kelam ini cukup panjang. Bermula dari pertengahan 1800-an hingga baru berakhir pada tahun 1970-anPemerintah Australia akhirnya menyadari kesalahan tersebut, lalu mencoba memperbaiki situasi dengan meluncurkan National Reconciliation Week setiap tahun, dimulai sejak pertengahan 90-an. Pada intinya, acara ini berusaha memperbaiki kondisi suku bangsa Aborigin di Australia. Salah satu bentuk implementasinya adalah dengan memasang papan pengumuman di setiap bangunan publik di Australia. Di sana tertulis di atas tanah suku Aborigin mana bangunan itu berdiri. Salah satu contohnya begini: “We are proud to acknowledge the Wrundjeri People as the Traditional Owner of these lands and waters”. Artinya “kami dengan bangga mengakui bahwa Suku Wrundjeri adalah pemilik tradisional dari tanah dan air (dimana bangunan ini berdiri)”. Suku Wrundjeri sendiri adalah salah satu suku dari ratusan suku bangsa Aborigin yang dulu ada.

Namun demikian, trauma sejarah tetaplah sebuah trauma. Tidak bisa dihilangkan sepenuhnya oleh hal-hal seperti itu. Willum Warrain hadir sebagai tempat bagi sisa-sisa keturunan Aborigin untuk membagi kesedihan dan emosi akan kelamnya masa lalu bangsa mereka.Di sana kami disambut oleh seseorang bernama Peter Aldenhoven, yang dipanggil Uncle Peter. Panggilan uncle atau paman ini tampaknya juga upaya untuk mengenal keluarga Aborigin yang sangat komunal dan kental akan nuansa kebersamaan. Uncle Peter sendiri sebenarnya tidak pernah mengalami langsung hal-hal tersebut. Dia mengaku lahir dari keturunan Aborigin yang termasuk dalam the Stollen Generation.

Nenek atau kakek Uncle Peter adalah anak aborigin yang diambil paksa dari keluarganya. Lalu si anak hidup dan berbicara dalam budaya Barat. Ketika besar menikah dengan orang Barat juga. Salah satu keturunannya adalah Uncle Peter. Tidak mengherankan jika Uncle Peter sendiri tampak bukan seperti orang Aborigin asli, tapi sudah mirip dengan bule kebanyakan. Bagi Uncle Peter, mengetahui sejarah itu sungguh menyedihkan walaupun tidak pernah mengalaminya langsung.Ketika menceritakan sejarah suku Aborigin, Uncle Peter memperlihatkan peta benua Australia. Pada peta itu tampak pembagian wilayah berdasarkan lokasi suku bangsa Aborigin tinggal. Terlihat berbeda sekali dengan pembagian wilayah Australia modern. Selain itu ia juga menyebut nama-nama bahasa dari beberapa suku yang ia kenal. Ia juga mencontohkan beberapa ungkapan dalam Bahasa Aborigin dari suku dimana nenek moyangnya berasal. Seperti Womin Djeka, yang artinya Selamat Datang! Ungkapan itu ditulis besar-besar di area masuk Willum Warrain.

Hampir semua yang disampaikan Uncle Peter benar-benar tinggal sejarah dan kenangan saja. Peta itu beserta pembagian daerahnya, benar-benar sebuah cerita masa lalu. Ini mungkin mirip dengan orang Minang yang telah terjual tanah pusako tingginya. Hanya bisa berucap “dulu daerah ini kampung kami, dulu ini sawah kami, ladang kami di sana dulunya” Tempat ia tunjuk-tunjuk itu sekarang sudah jadi milik orang semuanya, sudah berubah jadi kota dan perumahan.Sepanjang bercerita tentang masa lalu suku bangsa Aborigin, wajah Uncle Peter beserta intonasinya didominasi oleh nuansa kesedihan. Apakah sedalam itu emosi yang mereka alami terhadap sejarah kelam bangsa mereka, walaupun tidak mengalaminya langsung?

Lepas bercerita tentang sejarah masa lalu suku bangsa Aborigin, Uncle Peter membawa kami ke sebuah lapangan. Ia menunjukkan replika rumah tradisional yang berbentuk rumah suku Eskimo, hanya saja terbuat dari tanah liat. Dia juga mengajak kami untuk mengikuti tradisi penyambutan tamu suku Aborigin. Wajah kami diolesi oleh tanah liat dengan pola tertentu. Pola untuk laki-laki dan perempuan berbeda. Lalu kami diasapi oleh pembakaran daun minyak kayu putih. Kata Uncle Peter “ini artinya seorang tamu sudah menyatu dengan alam daerah baru yang ia datangi”Ia juga mengajak kami mengelilingi hutan semak di Willum Warrain. Di sana ia menceritakan dongeng-dongeng Aborigin serta hukum-hukum tradisional mereka. Yang paling mengerikan adalah hukum berzina, ditusuk dari bawah ke atas di depan orang ramai. Melihat struktur keluarga Aborigin yang sangat komunal, mirip dengan struktur keluarga besar Minangkabau, wajar jika pezina dihukum berat. Karena berzina benar-benar mengancam struktur keluarga dan sosial. Sementara bagi masyarakat komunal, keluarga adalah segala-galanya.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini