Ikhtiar Panjang Mewujudkan Penghafal Quran

Foto Harian Singgalang
×

Ikhtiar Panjang Mewujudkan Penghafal Quran

Bagikan opini

 Oleh Erianto Nazar (Alumnus MTI Canduang)

Alhamdulillah sekarang tempat menghafal qur’an atau lebih akrab disebut tahfizh sudah menjamur di setiap nagari (desa) di Sumatera Barat juga di daerah lain di Indonesia yang mayoritas muslim termasuk juga menjalar ke sekolah tingkat SD/MI, MTsN / SMP yang ditandai dengan adanya kegiatan wisuda tahfizh meskipun yang ikut rata rata juga sudah ikut tahfizh di luar sekolah.Kegiatah tahfizh yang awalnya merupakan program unggulan dari boarding school atau akrab disebut sekolah islam terpadu ternyata cukup efektif memancing sekolah biasa untuk ikut berkompetisi sekaligus sarana untuk menarik siswa mendaftar pada sekolah dimaksud. Bahkan Taman Pendidikan Alquran yang ada di masjid atau mushalla yang fokus baca tulis Alquran juga sudah menambahkan program tahfizh termasuk pesantren tradisional yang fokus mempelajari kitab kuning juga ikut-ikutan mengembangkan program tahfizh.

Tekad meneruskan pesan almarhum orang tua untuk mewujudkan anak anak penghafal qur’an selain sebagai penerus syiar islam sekaligus melatih generasi cerdas islami jugalah yang menginspirasi pendiri tahfizh ibnu nazar tiga tahun silam di bingkudu nagari canduang koto laweh, sebuah kampung lereng gunung marapi Bukittinggi 15 November 2020 silam yang sekarang alhamdulillah masih berjalan dengan biaya gratis seratus persen.Pendanaan program tahfizh yang sudah dimasukkan ke sekolah atau tempat tahfizh yang dipungut biaya tentu tidak sulit karena sudah terintegrasi dengan program sekolah sedangkan untuk tahfizh yang dikelola oleh pribadi, keluarga, Yayasan atau masyarakat yang didanai secara swadaya masing masing dengan sedikit yang beruntung dapat sokongan dari pemerintah melalui Baznas atau bantuan insidentil pemerintah lainnya tentu menjadi persoalan sehingga tidak sedikit pengelola tahfizh gratis khususnya yang kewalahan mencarikan pendanaannya apalagi bila mengandalkan dukungan masyarakat dengan menyesuaikan aspek perekonomian masyarakat pedesaan yang tidak sedikit melemah tentu akan menjadi kendala serius kelanjutan tahfizh. Dalam posisi demikian kreatifitas dan keikhlasan pengelola untuk mencarikan pendanaan agar operasional tahfizh tetap berjalan menjadi salah satu tantangan keberlanjutan tahfizh.

Pendanaan sebenarnya bukanlah masalah utama dalam pengelolaan tahfizh karena sebagai muslim beriman pengelola pasti memahami ayat qur’an surat Al Ankabut 69 “dan orang orang yang bersungguh sungguh dalam menjcari keridhoan kami pasti kami tunjukkan jalan kami, sesungguhnya allah Bersama orang orang yang berbuat baik” sehingga meskipun sulit tapi tahfizh tetap bisa berjalan tergantung dari niat serta keikhalasan pengelola apakah mementingkan substansi kegiatan sehingga biaya bisa diminimalisir atau seremoni kegiatan dengan biaya cukup merepotkan.Permasalahan utama tahfizh sebenarnya adalah menjaga konsistensi para penghafal untuk tetap berdiri di jalan yang sudah dipilih dengan berbagai ujian, kondisi berbeda mengiringi kemajuan jaman, perkembangan tekhnologi, gedjet, medsos yang setiap waktu di tangan mereka dan lainnya. Anak anak harus melawan rasa capek, lelah, jenuh karena disamping menghafal qur’an mereka harus tetap berpacu untuk mengikuti pelajaran sekolah lainnya termasuk harus bekerja membantu orang tua. Disamping itu menghafal qur’an bukanlah hal sederhana seperti menghafal rumus ilmu eksakta atau definisi ilmu sosial namun merupakan kalimat suci dari yang maha kuasa.

Boleh percaya atau tidak silahkan saja dipraktekkan menghafal qur’an itu sangat sulit bila kita masih sering melakukan hal yang dilarang agama bahkan tidak menjaga shalat misalnya, begitu juga hafalan akan hilang bila tidak selalu diulang ulang sehingga kegiatan tahfizh tidak bisa hanya dianggap bila sudah diwisuda hafal 1 juz atau 2 juz misalnya maka itu akan bertahan selamanya namun mereka harus terus menghafal dan menghafal. Karena itu penulis termasuk yang berpandangan kegiatan wisuda tahfizh dengan meriah justru berdampak kurang baik dari sisi anak yang menganggap dirinya sudah selesai sehingga malas melanjutkan serta dari segi pendanaan yang dibiayai bukan dari pemerintah merupaka pengeluaran besar yang kurang pas, lebih mengutamakan penampilan dari substansi.Tanpa disadari kegiatan menghafal qur’an selain merupakan ibadah mulia juga merupakan sarana terbaik untuk menjaga anak dari melakukan hal hal yang bertentangan dengan nilai agama apalagi pergaulan remaja yang tidak baik, mereka cendrung menjaga semua ibadahnya seperti shalat berjamaah, irit berbicara bahkan tidak sedikit menjaga puasa sunah. Tanpa disadari kebiasaan menghafal qur’an memudahkan mereka dalam menghafal pelajaran sekolah karena seperti yang disampaikan banyak pakar bahwa otak itu ibarat gunung es dalam laut semakin digali semakin besar potensi yang ada salah satunya dengan melatih hafalan. Karena itu bersyukurlah para orang tua yang anaknya sudah mau bergabung dan menjadikan dirinya sebagai penghafal qur’an.

Meski demikian para penghafal qur’an bukan berarti lulus dari ujian karena selain menghafal perlu juga menghayati apa yang dihafal dan mengamalkan nilainya dalam kehidupan sehari hari. Tidak sedikit kita melihat orang yang menghafal qur’an termasuk yang terjun ke dunia politik tindakan, ucapan mereka jauh dari nilai nilai qur’an, menjadi cemooh di masyarakat sehingga perlu bagi pengelola tahfizh untuk mengingatkan itu selalu dan bagi yang sudah terjun ke masyarakat untuk berhati hati karena akan lebih besar calaan orang yang paham tapi tidak mengamalkan ajaran qur’an termasuk balasan dari yang kuasa “amat besar kebencian disisi allah orang yang mengatakan apa yang tidak dia lakukan”. Semua tentu tugas mulia dan berat bagi yang sudah mengambil pilihan menjadi bagian dari kegiatan penghafal qur’an dan semoga allah mudahkan. Wallahua’lam bisshawab. (***)

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini