Arungi Laut, Terjang Badai Demi Penuhi Energi Anak Negeri

Foto Harian Singgalang
×

Arungi Laut, Terjang Badai Demi Penuhi Energi Anak Negeri

Bagikan opini

Oleh YuniarWartawati Harian Singgalang

 Suatu hari di pertengahan Agustus 2023. Sejak malam cuaca buruk. Angin begitu kencang berhembus dengan gelombang laut yang tinggi di perairan Kota Padang, Sumatra Barat. Kapal-kapal nelayan tampak sandar dan tidak ada yang berlayar. Begitu juga kapal-kapal kecil untuk penyeberangan ke Pulau Mentawai.

Di Pelabuhan BBM dan LPG PT Pertamina di Teluk Kabung, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatra Barat, sepagi itu sedang ada “loading” atau bongkar bahan bakar minyak (BBM) dari kapal tanker pengangkut BBM yang telah bersandar dengan gagah di dermaga. “Kapal BBM datang setiap hari, sedangkan kapal pengangkut gas atau elpiji datang dua atau lima hari sekali,” terang Port Manager PT Pertamina Trans Kontinental, anak perusahaan PT Pertamina International Shipping (PIS), Andi S. Wardana.Akhir-akhir ini, meski belum masuk musim angin barat, cuaca di Sumatra Barat memang kurang bersahabat. Selain tebalnya kabut asap di perairan, juga angin begitu kencang. Tidak jarang ada badai di laut, sejumlah kapal kecil malah tak bisa berlayar, karena tingginya gelombang laut.

Peringatan dini Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teluk Bayur pada 15 hingga 16 Agustus 2023 itu, mengingatkan agar kapal-kapal mewaspadai gelombang tinggi di perairan Samudra Hindia yang rata-rata berkisar antara 2,5 hingga 4 meter dengan kecepatan angin 1 hingga 25  knots. Bahkan, beberapa tempat di perairan itu, gelombang laut berada pada kategori sangat tinggi, yaitu berkisar 4 hingga 6 meter.Namun semua itu tidak mengurangi aktivitas di Pelabuhan BBM dan LPG di Teluk Kabung. Aktivitas bongkar BBM dan gas serta avtur tetap berjalan dengan lancar. Normal!

Andi S. Wardana mengakui, suplai energi di perairan sangat dipengaruhi oleh alam. “Kondisi angin kencang dan ombak dapat menganggu kelancaran operasional,” katanya.Namun dengan dukungan perwira kapal dan unit yang tangguh, suplai energi oleh PT Pertamina ke seluruh penjuru Indonesia dapat dilaksanakan dengan baik. “Untuk proses sandar disesuaikan dengan batasan-batasan yang ditentukan, sehingga kapal dapat sandar dengan baik dan aman tanpa adanya ‘nearmiss’,” terangnya.

Koordinasi antar kapal, terminal dan otoritas pelabuhan ditegaskannya sangat diperlukan demi kelancaran operasional. Semuanya menerapkan Healty Safety Security and Environment (HSSE) yang sudah ditetapkan.BBM, LPG dan Avtur di Pelabuhan Teluk Kabung menurut Andi berasal dari sejumlah kilang. “Untuk BBM berasal dari Cilacap, Dumai, Balongan, dan juga impor lewat Singapura.  Sedangkan LPG berasal dari Tanjung Sekong,” tuturnya.

Dari Cilacap atau Balongan ke Teluk Kabung, setidaknya membutuhkan waktu tempuh selama lebih kurang 72 jam perjalanan laut. Sedangkan Sekong ke Teluk Kabung lebih lama lagi, yaitu lebih kurang 80 jam. Begitu juga dengan Singapura.  Kapal-kapal ini melewati Samudra Hindia yang juga terkenal dengan arus dan gelombangnya yang kuat.Andi mengakui, bila badai dan gelombang begitu kuat di laut, memang sedikit menghambat pergerakan kapal untuk sampai sesuai waktunya di Pelabuhan BBM dan LPG di Teluk Kabung. Mengatasi hambatan-hambatan di perjalanan dan cuaca buruk, biasanya sebelum cuaca buruk melanda, pihaknya memperkuat stok dengan memperbanyak jumlah BBM atau gas yang diangkut, sehingga tidak mengganggu suplai ke masyarakat di wilayah tugasnya.

PT Pertamina Trans Kontinental, tak hanya melayani kebutuhan energi masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) saja, tapi juga warga Sibolga, Simelue, Meulaboh, Lhokseumawe, Sabang, Gunung Sitoli, dan Krueng Raya. Semua terlayani dengan baik, berkat kesigapan, ketangkasan dan kehandalan yang dimiliki perusahaan ini.PT Pertamina Trans Kontinental Port Teluk Kabung saat ini mengoperasionalkan 20 kapal tanker dengan type Medium Range (MR) dengan kapasitas 35000 kiloliter (KL), kemudian General Purpose 1 (GP 1) dan Small 1 (SM 1) dengan daya angkut sebanyak 4200 Kl, dan Small 2 (SM 2) dengan kapasitas angkut sebanyak 6500 Kl.

Gelombang dan arus kuatSalah seorang Nakhoda Senior Kapal Tanker PT Pertamina, Capt. Marcellus Hakeng J., mengatakan, perjalanan laut melintasi Samudra Hindia terkadang mengalami kondisi cuaca ekstrim dengan gelombang dan arus yang kuat.

Dia mencontohkan perjalanan laut dari Cilacap ke Teluk Kabung. “Secara umum, Laut Cilacap hingga Teluk Kabung merupakan perairan yang cukup dalam dengan kedalaman rata-rata mencapai 100 meter. Kalau yang dalam lagi, bisa sampai ribuan meter,” terang pria yang juga Pengamat Maritim Ikatan Alumni Lemhanas Strategic Center itu.Capt. Hakeng mengatakan, perairan ini juga memiliki gelombang laut yang cukup kuat dengan kecepatan rata-rata mencapai 2 knot. Arus ini biasanya mengalir dari arah barat ke timur. “Arus yang kuat dapat menyebabkan kapal tanker sulit untuk dikendalikan. Hal ini dapat meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan, seperti tabrakan ataupun kandas,” terangnya.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini