Kisah Transformer Pembalak Liar, Menjaga Alam, Ciptakan Sumber Penghidupan Baru

Foto Harian Singgalang
×

Kisah Transformer Pembalak Liar, Menjaga Alam, Ciptakan Sumber Penghidupan Baru

Bagikan opini

Oleh YuniarWartawan Harian Singgalang

Gemericik air dari Sungai Batang Anai yang membelah Hutan Gamaran di Korong Gamaran, Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat menyambut siapa pun yang datang ke di objek wisata minat khusus Air Terjun Nyarai di kawasan Desa Wisata Nyarai. Airnya dingin menyejukkan.Mata juga akan dimanjakan dengan hijaunya pepohonan dengan kicauan burung yang bernyanyi merdu di hutan nan permai itu. Sesekali terdengar nyaring suara dari primata Monyet Ekor Merah atau Simpai yang masih hidup terpelihara di sana.

Keindahan dan keasrian tempat itu tak terlepas dari kiprah pemuda setempat bernama Ritno Kurniawan. Berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi sosial masyarakat di sana, Ritno mulai bergerak mengajak warga untuk bersamanya menjaga alam dan menciptakan sumber penghidupan baru yang lebih baik.Waktu itu, 10 tahun yang lalu, dia mencoba melakukan berbagai pendekatan dengan para pemuda dan ninik mamak agar tak lagi merambah hutan dengan menebang kayu. Di sana, memang hampir sebagian besar warga bekerja sebagai penebang kayu, melakukan pembalakan hutan secara illegal. Suatu kondisi yang mengkhawatirkan, karena berdampak sangat besar pada lingkungan.

Memang tak mudah bagi Ritno yang kelahiran Bukittinggi, 3 Mei 1986 itu untuk mengajak dan mengubah pola pikir warga kampungnya agar beralih dari mata pencaharian utama sebagai penebang kayu. Namun, dia tak pernah patah semangat untuk melakukan perubahan.Setiap saat, setiap kesempatan, dia selalu meyakinkan bahwa pekerjaan merambah hutan dengan menebang kayu secara illegal tidak baik bagi lingkungan. Tak sekadar bicara, tapi dia juga mengajak warga untuk menggiatkan kegiatan pariwisata minat khusus, sesuai potensi alam nan indah yang dimiliki daerah setempat. “Saya memulai ini berawal dari keprihatinan terhadap masalah sosial masyarakat dan lingkungan. Warga di sini sangat tergantung akan hasil hutan, berupaya kayu tanpa memikirkan dampaknya,” ujar peraih Penghargaan Satya Lencana Kepariwisataan Presiden RI tahun 2019 itu.

Di sisi lain, selain kayu, Hutan Gamaran dengan  luas 2.800 hektare memiliki potensi lain yang luar biasa. Selain memiliki hutan nan indah dengan kolam alami yang mungkin tak dimiliki daerah lainnya, juga banyak flora dan fauna khas yang menambah kekayaan alam di kawasan itu. Inilah yang terus memompa semangat Ritno untuk bersama memajukan kampung halamannya.Apalagi, saat dulu kuliah di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta, dia pernah melihat suksesnya pengelola Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran memajukan daerahnya lewat ekowisata. “Jadi saya rasa, kita juga bisa,” ujarnya optimis.

Selain masalah kebiasaan masyarakat setempat dalam mendapatkan penghasilan, tantangan lain yang dihadapi adalah persoalan tanah ulayat. Bahkan, hutan ini ternyata juga masuk dalam kawasan hutan lindung.Tapi, berkat kegigihannya, kini tantangan yang dirasakan diawal-awal kiprahnya menjadi pegiat ekowisata mulai luntur. Belakangan dukungan mengalir deras, termasuk dari pemerintah daerah. Salah satunya dengan mendapatkan izin dari Dinas Kehutanan Sumbar untuk mengelola Hutan Gamaran yang masuk kawasan hutan lindung.

“Kondisi di sini mulai stabil sekitar empat hingga enam tahun berjalan kegiatan yang kami lakukan. Awalnya memang masih sangat sulit, tapi perlahan mulai banyak yang turut ambil bagian, apalagi wisatawan juga makin banyak berdatangan,” kisahnya.Kini, setiap bulan setidaknya ada 100 hingga 200 orang yang datang untuk trekking (wisata berjalan kaki-Red).  Masing-masing orang dikenakan biaya Rp30 ribu untuk memandu perjalanan mereka ke lokasi Air Terjun Nyarai.  Jumlah itu belum termasuk yang ikut rafting. “Untuk Rafting ada sekitar 200 hingga 400 orang yang datang setiap bulan. Per orang dikenakan biaya Rp180 ribu,” sebut lulusan Fakultas Pertanian UGM itu.

Di sana, selain dua kegiatan itu, peserta wisata minat khusus ini juga bisa camping, spear fishing (memancing), bird watching (melihat burung), dan lainnya. “Pada enam bulan pertama saat dibuka April 2013, kita free alias gratis untuk masuk ke Desa Nyarai,” terangnya.Di kawasan ekowisata ini, ada sejumlah daya tarik wisata alam seperti Air Terjun Belek, Pemandian Lubuk Napa, dan Lubuk Larangan yang menjadi daya tarik yang unik bagi wisatawan. Flora dan Fauna yang terjaga dengan baik di sana, diantara Simpai, Malay Tapir atau dikenal dengan sebutan Cipan oleh warga setempat. Ada Ular King Koros atau Ular Tikus Raja, Burung Anggang atau Rangkong. Juga ada Burung Kuau Rajo dan lainnya.

Menariknya, belakangan, tak hanya wisata alam, pengunjung juga disuguhi wisata atraksi berupa penampilan Silek Tuo Nyarai. Ini merupakan wisata edukasi bela diri silek anak nagari Desa Wisata Nyarai. Untuk menikmatinya, parawisatawan memang harus mengambil paket khusus yang disiapkan pengelola.Sekarang, Desa Wisata Nyarai berhasil memberdayakan 165 orang pemandu yang terlibat dalam berbagai kegiatan di sana. Mereka mayoritas berasal dari para penebang kayu di Hutan Gamaran. “Yang aktif untuk trekking sebanyak 55 orang dan 38 orang untuk rafting,” rinci peraih Penghargaan Kalpataru Tingkat Sumbar kategori Kelompok Penyelamat Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Sumbar tahun 2018 ini.

Sungguh sesuatu yang tentunya patut disyukuri. Tanpa penebangan kayu secara illegal, hutan terjaga dan masyarakat tetap bisa hidup dengan alam nan permai terjaga. Makanya, tidak salah, Ritno Kurniawan sebagai penggerak Desa Wisata Nyarai mendapatkan julukan Transformer Pembalak Liar dan meraih penghargaan Satu Indonesia Award Astra Indonesia pada tahun 2017 lalu. Julukan ini disematkan, karena Ritno yang juga peraih banyak penghargaan lainnya itu bisa mengubah para pembalak liar menjadi pemandu wisata di Kawasan Ekowisata Nyarai.Soal penghargaan Satu Indonesia Award ini, Ritno mengaku sangat apresiasi kepada pemberi penghargaan. Dia sungguh tak menyangka, kiprahnya bersama warga menjaga alam dengan membangun ekowisata mendapatkan apresiasi. “Saya sangat berterima kasih, karena kerja kami diapresiasi perusahaan sebesar Astra Indonesia,” sebutnya.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini