Mau Shalat Jumat, Eh Kok Kayak Klenteng

Foto Harian Singgalang
×

Mau Shalat Jumat, Eh Kok Kayak Klenteng

Bagikan opini

BEIJING - Jam telah menunjukkan pukul 12.00 Beijing. Saya bersiap mencari Masjid. Ini hari Jumat.Setelah bertanya ke panitia CPICC, katanya tak jauh, sekitar 700 meter saja. Paling 15 menit jalan kaki.

Bergegas saya ayunkan langkah menuju Masjid dimaksud. Sekitar 10 menit. Saya sampai di lokasi.Tapi eh.... kok kayak Klenteng seperti yang saya lihat di Kampung China, Pondok Padang. Hampir tak ada ornamen yang menunjukkan itu sebuah masjid di bagian luar.

Ini masjid bukan ya. Ternyata di bagian dalam baru ada ornamen tulisan Arab. Tak ada kubah. Tak ada menara.Setelah melihat sekeliling, sedikit ragu saya langkahkan kaki ke dalam. Kok tak siapa-siapa. Padahal sudah hampir setengah satu. Saat saya cek di google, jadwal Shalat pukul 12.26. Tapi kok kosong.

Tak lama di tengah kebingungan, muncul seorang lelaki agak berumur memakai kopiah putih. "Assalamualaikum," sambil mengulurkan tangan. Saya pun menyapa. Saya yakin dia Muslim karena kopiahnya.

"Waalaikumsalam." Dia menjawab dan menjabat tangan kami. Lalu dia berbicara dalam bahasa China. Kami (saya dan kawan dari The Jakarta Post) saling pandang karena tak mengerti.Keluarlah bahasa isyarat saya tunjukan gerakan takbir. Dia pun mengangguk sambil menunjuk ke dalam. Mungkin dia bilang, ya masuklah....

Karena tak ada orang kami pun bertanya, "what time the Friday Prayer" (jam berapa shalat Jumat).Mungkin dia paham dengan pertanyaan kami, lalu ditunjuknya jadwal shalat. Ternyata shalat Jumat di sini pukul 13.30.

"Pantas gal ada orang," guman saya. Di sana juga sudah ada seorang lelaki duduk di teras masjid yang langsung menyapa. "Dari Indonesia, mas?. "Ya," jawab saya."Saya juga dari Indonesia. Saya kira tadi shalat Jumat jam setengah satu," katanya.

Jadilah kami duduk saja di tetas Masjid menunggu waktu shalat Jumat, sambil ngobrol. Tetnyata teman itu wartawan Al Jazeera.

Tak lama, jam pun menunjukkan pukul 13.00. Jamaah mulai berdatangan. Awalnya tampak sejumlah warga Tionghoa dengan kopiah putih. Lalu datang dua pria Tionghoa bersorban yang kemudian menjadi khatib dan imam.Terus secara bergelombang jamaah pun berdatangan. Dilihat dari wajahnya datang dari banyak negara. Ada Timur Tengah, India, Pakistan, Afrika bahkan Eropa.

Masjid pun penuh dengan jamaah antara 300 sampai 400 orang. Khatib naik mimbar. Demgan bahasa Arab beraksen China dia berkotbah. Shalat Jumat pun dilaksanakan. "Alhamdulillah." (*)

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini