Mudik Alternatif

Foto Harian Singgalang
×

Mudik Alternatif

Bagikan opini

Sudah tahun kelima saya berlebaran ke kota jakarta, dan mengajak anak-anak, menantu, kakak dan adik saya sekeluarga tetap di rantau, dan saya dari kampung yang mengunjungi mereka. Kami menikmati hari-hari lebaran di rantau.Semua saudara di rantau saya kunjungi dan saya beri suasana kampung halaman, dengan semua kuliner, kenangan, cerita dan kegiatan seperti di kampung halaman.

Seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri saya naik pesawat dari Padang ke Jakarta. Harga tiket pesawat normal. Pesawat hanya terisi seperempatnya.Sementara, seorang teman yang bertemu di bandara menceritakan bahwa tiket pesawatnya dari Jakarta ke Padang nyaris empat kali lipat harga tiket normal, dan pesawatnya full, penuh. Itupun sudah jadwal tambahan dari jadwal penerbangan normal.

Di rantau, saya sempat berkunjung ke beberapa kemenakan dan cucu yang tidak berkesempatan pulang kampung. Saya hibur mereka. Mudik di hari raya itu tidak wajib. Bahkan sunnah pun tidak. Yang disunahkan itu: silaturahim, saling berkunjung, saling bermaaf-maafan, saling menggembirakan.Sudah saatnya kita, masyarakat Indonesia, berpikir ulang tentang ritual mudik di hari raya. Tidak usah semua, cukup sebagian masyarakat menyadari, bahwa ritual mudik yang nyaris menjadi “histeria massa” tersebut, sering dan lebih banyak memberi beban dan kesulitan bagi pelakunya.

“Saya datang mewakili kampung halaman untuk kalian,” kata saya berseloroh. Lalu sambil bergurau saya mengajukan sebuah gagasan untuk memasyarakatkan “Mudik Alternatif” seperti yang sudah saya lakukan. Saya memperoleh banyak hal yang pantas untuk dipertimbangkan.“Kalau kalian pulang kampung untuk menemui ibu-bapak, harus berhondoh-poroh dengan anak-anak, dengan biaya tinggi, harus bermacet-macet. Sementara, kalau kalian menerbangkan ibu-bapak kalian ber”happy holiday” ke rantau ini, bisa lebih ringan dan lebih murah. Kenapa tidak?” Begitu saya menghasut mereka, para kemenakan tersebut.

Saya ceritakan keadaan saya. Saya punya tiga pasang anak menantu dan cucu saya di rantau. Adalah egois rasanya menyuruh mereka pulang mengunjungi saya, dengan segenap resiko terlibat pada arus mudik. Biaya perjalanan mereka mudik bisa sepuluh kali lipat dibanding saya dan istri yang mengunjungi mereka di rantau. Khususnya di musim mudik ini. Mereka hanya punya waktu terbatas silaturrahim dengan kami, karena didera oleh kemacetan dimana-mana.Sebaliknya, kalau kami suami istri yang mengunjungi mereka di rantau, silaturrahim dapat dilaksanakan dengan waktu yang lebih lapang, biaya dan resiko perjalanan lebih ringan, dan rekreasi dengan mereka di rantau lebih lega dibanding berhondoh-poroh di kampung pada waktu bersamaan dengan seluruh pemudik.

“Mudik Alternatif” yang saya lakukan memang tidak berlaku untuk semua orang. Ada syarat dan ketentuan berlaku. Tapi, jika arus mudik alternatif ini bisa dilakukan oleh sebagian masyarakat, tentulah cukup banyak perantau yang bisa ditahan dengan membawa “kampungnya” yang berkunjung. Jika 10 persen saja orang kampung bisa mengobati rindu mereka yang dirantau untuk menunda mudik, tentulah kepadatan arus mudik juga berkurang 10 persen.Mudik mereka, para perantau itu, dapat ditunda pada waktu dan suasana yang tepat. Tanpa terbawa “galodo” arus mudik di masa-masa hari raya, hari raya apapun. Mereka dapat merencanakan mudik pada waktu-waktu “alang hari”, di luar masa hari raya, dengan kegiatan yang dapat lebih bermakna, dengan perhelatan, pernikahan saudara, alek pangulu, atau alek nagari. Kerinduan kepada kampung halaman akan lebih bermakna terobati, dengan mudik yang lebih berkualitas.

Mudik Alternatif yang saya ajukan dapat dikembangkan dalam bentuk lain, seperti reuni keluarga besar yang sama di rantau, di tempat dan di waktu tertentu. Tempat dan waktu yang tidak “terkurung” oleh histeria massa yang bernama “Mudik Lebaran”, atau hari raya apapun.Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang sempat mudik. Semoga perjalanan mudik dan balik nanti selamat pulang-pergi.

Selamat juga yang tidak sempat mudik, atau bagi mereka yang melakukan “Mudik Alternatif”, mereka yang di kampung mengunjungi yang di rantau.Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1444 H.(*)

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini