Puasa dan Kesalehan Sosial

Foto Harian Singgalang
×

Puasa dan Kesalehan Sosial

Bagikan opini

Syariat puasa Ramadhan merupakan ibadah rutin tahunan yang disyariatkan oleh Allah swt kepada seluruh umat Islam. Khitab (perintah) puasa tertuju untuk seluruh umat Islam yang beriman (Qs. Albaqarah: 183).Melihat puasa dari sisi definisinya, dimaknai sebagai menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Tapi, ada substansi yang jauh lebih dalam dari itu, sejatinya puasa merupakan proses menahan diri dari sesuatu yang dilarang oleh Allah swt.

Puasa Ramadhan merupakan perwujudan kesalehan seorang hamba yang beriman terhadap perintah Allah swt. dan menciptakan hubungan yang baik antara hamba dengan khaliqnya (hablumminallah). Tetapi, berhenti sampai disana saja tidaklah cukup karena tujuan akhir dari ibadah puasa adalah terciptanya pribadi-pribadi yang bertaqwa. Ketaqwaan yang dimaksud belumlah sempurna ketika dimensi sosialnya (hablumminannas) terabaikan. Kesalehan sosial tercermin dari sikap dermawan tanggungjawab, empati, atensi, simpati dan perhatian kepada orang lain.Cukup banyak petunjuk nash yang memerintahkan umat Islam untuk membangun kepedulian sosial, memperhatikan kehidupan tetangganya. Islam sangat mengecam sikap acuh tak acuh terhadap kaum dhuafa yang kelaparan dan kesusahan karena sikap itu merupakan sikap kapitalis, borjuis dan individualis. Mukmin yang sejati adalah mukmin yang tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi dan keluaganya saja tetapi dia memperhatikan lingkungan sosialnya juga.

Orang yang berpuasa harus mampu menjadikan puasa tersebut sebagai perisai dalam hidupnya. Bagi pegawai atau karyawan misalnya, dia harus mampu menahan dirinya dari tindakan korupsi meskipun ada kesempatan. Dalam hal memandang orang yang berbeda keyakinan misalnya, dia harus mampu menahan diri untuk tidak memusuhi dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang yang berbeda keyakinan dengannya tersebut.Menurut Rasulullah saw. puasa itu adalah berperang dan perang yang dahsyat itu adalah berperang melawan hawa nafsu yang ada dalam diri kita masing-masing. Terkadang, banyak juga orang yang dapat menahan hawa nafsunya sewaktu di bulan Ramadhan atau sedang berpuasa tetapi begitu Ramadhan berakhir hawa nafsunya kembali tidak terkontrol. Namun, intinya bukan itu, puasa mendidik seseorang untuk menahan diri, menahan hawa nafsunya maka seharusnya proses pendidikan dan pelatihan menahan hawa nafsu selama sebulan penuh dalam bulan puasa memberikan efek keterbiasaan di luar bulan puasa. Kita harus paham bahwa efek dari puasa adalah setelah puasa berlalu. Mangkus atau tidaknya proses penggemblengan yang kita lalui akan terlihat ketika proses itu selesai atau di luar bulan Ramadhan.

Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang sering menang dalam berkelahi, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika dia marah. Puasa hakikatnya mendidik seseorang menahan dirinya ketika emosi dan marah menahan hawa nafsu yang bersumber dari dirinya sendiri.Adalah sebuah keharusan bagi umat Islam dewasa ini dalam rangka memaksimalkan tarbiyah (pendidikan) puasa dalam dirinya untuk menahan diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat. Di jalan raya, misalanya. Faktor utama kemacetan yang terjadi karena masing-masing pengendara tidak mampu menahan diri, saling terburu-buru, seolah-olah dia saja yang diburu waktu. Jika setiap pengendara mampu menahan diri untuk tetap di jalurnya dan memberikan kesempatan kepada pengendara yang mau berpindah jalur atau berbelok, maka kesemrawutan jalan raya dewasa ini akan terurai dan teratasi.

Taqwa sebagai tujuan akhir puasa tersebut haruslah integratis antara kesalehan individual (vertikal ke atas) dan kesalehan sosial (horizontal ke samping). Sehingga, orang jangan hanya berpikir dia berpuasa terus dia sudah bertaqwa atau menjadi orang baik. Ketika dia menjalankan puasa satu bulan penuh tetapi hubungan dengan sesama tidak dia perhatikan, hawa nafsu tidak dia tekan maka kesalehan yang dia bangun baru sebatas saleh individual.Kedermawanan adalah salah satu bentuk hubungan yang mempunyai dimensi sosial. Rasulullah saw. adalah contoh orang yang sangat dermawan dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Imam Syafi’i berkata aku suka terhadap orang yang bertambah kedermawanannya di bulan Ramadhan karena meneladani kedermawanan Rasulullah saw. memenuhi kebutuhan orang banyak dan menyibukkan diri dengan beribadah dengan penghasilan mereka.

Suatu ketika Rasulullah saw. pernah ditanya “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku sesuatu yang mampu membawaku ke surga” Beliau menjawab “perkataan yang baik, menyebarkan salam dan berbagi makanan dengan suadaramu”.Mari jadikan momentum Ramadhan kali ini menjadi lebih baik, puasa lebih baik dan keberpihakan kita terhadap saudara-saudara yang dhuafa, fakir-miskin. Tidak hanya sibuk dan fokus membangun kesalehan individual semata tetapi juga kesalehan sosial, peduli dengan sesama dengan memberi dan berbagi baik secara moril maupun secara materil.(*)

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini