Ketika Kepala BNPT Didaulat Kultum di Masjid At Tabayyun

Foto Harian Singgalang
×

Ketika Kepala BNPT Didaulat Kultum di Masjid At Tabayyun

Bagikan opini

Ada tiga golongan manusia yang amal puasanya tidak akan diterima Allah SWT. Bahkan malaikat Jibril sendiri yang meminta khusus kepada Allah SWT agar menolak ibadah puasa tiga golongan itu.Rasulullah SAW pun "dilibatkan" oleh Jibril untuk mengamini doanya ini.

Pertama, anak yang durhaka kepada ibu bapaknya.2. Istri yang durhaka kepada suaminya.

3. Muslim yang tidak mau memaafkan sesama saudaranya muslim.Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Komjen Rycko Amelza Dahniel

Sabtu (8/4) malam mengangkat kisah itu dalam kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid At Tabayyun, Taman Villa Meruya, Jakarta Barat. Ia sendiri mengawali kultumnya dengan menyitir surat QS Al Baqarah :183 mengenai perintah berpuasa.// Acara Tahlilan //

Malam itu, sedianya Komjen Rycko akan menghadiri tahlilan di rumah duka almarhumah Ibu Widi Astutik binti Miswandoko, istri Wakapolri Komjen Pol Prof. Dr. Gatot Eddy Pramono, M.Si yang wafat Jumat (7/4) petang di Singapura.Sebelum ke rumah duka ia mampir di Masjid At Tabayyun untuk Salat Isya. Jarak masjid dengan rumah duka memang hanya sekitar 300 meter.

Di sisi lain, menyadari kehadiran Komjen Rycko di tengah mereka, jemaah masjid pun langsung mendaulat Kepala BNPT itu untuk sekalian mengimami Salat Isya dan mengisi acara kultum disela Salat Tarawih malam itu.Saya membisiki pejabat baru BNPT yang baru dilantik 4 April lalu soal aspirasi jemaah itu.

" Karena ini perintah, apa boleh buat harus dijalani," guraunya kemudian di atas mimbar. Menyimak kultum dan bacaan surat saat mengimani Salat Isya, tak berlebihan jika Rycko dijuluki sebagai Jendral Soleh.// Jendral polisi berprestasi //

Suami Hj. Yudaningrum, S.E.dan ayah tiga anak : Ipda Muhammad Yudisthira Rycko, S.Tr.K, Nada Salsabila Rycko, S.Ked, dan Aisyah Fahira Rycko itu dikenal luas sebagai polisi berprestasi. Ia termasuk perwira polisi yang pernah mendapat kenaikan pangkat luar biasa saat tergabung dalam tim Bareskrim, yang melumpuhkan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005.

Rycko mendapat penghargaan dari Kapolri saat itu, Jenderal Pol Sutanto bersama dengan para kompatriotnya, Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, dan Idham Azis.Pria kelahiran Bogor 14 Agustus 1966 ini merupakan lulusan terbaik Akpol 1988 dan berpengalaman dalam bidang reserse. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri sebelum dilantik Presiden Jokowi menjadi Kepala BNPT, 4 April lalu.

Rycko juga merupakan lulusan Magister (S2) Ilmu Administrasi di Universitas Indonesia pada tahun 2001, Doktoral (S3) pada Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia pada tahun 2008 dengan predikat Cum Laude dan diangkat sebagai Guru Besar dalam jabatan Profesor dibidang ilmu Kajian Ilmu Kepolisian pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) sejak tanggal 1 Agustus 2020 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim.Penugasan pertama ia jalani di Polres Metro Jakarta Pusat sebagai Kepala Unit Kejahatan dengan Kekerasan, selanjutnya ditugaskan sebagai instruktur di Akademi Kepolisian Semarang. Tahun 1993 ia mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan lulus dengan predikat terbaik, selanjutnya kembali bertugas di Polres Metro Jakarta Pusat, lalu Kasat Reserse Polres Jakarta Selatan, dan kemudian sebagai Wakasat Ekonomi Polda Metro Jaya. Tahun 2002 ia mengikuti pendidikan Sespimpol dan lulus dengan predikat terbaik untuk penulisan Naskah Strategis.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini