International Minangkabau Literacy Festival Rasa International Minangkabau Cultural Festival

Foto Harian Singgalang
×

International Minangkabau Literacy Festival Rasa International Minangkabau Cultural Festival

Bagikan opini

Sejak 22 Februari 2023 sampai 27 Februari 2023, Satu Pena Sumatera Barat menghelat acara yang sangat meriah yg langsung didukung penuh oleh Satu Pena Pusat yakni International Minangkabau Literacy Festival. Satu Pena (Persatuan Penulis Indonesia) merupakan sebuah wadah yang dibuat untuk mengumpulkan para penulis di seluruh Indonesia agar tergabung dalam sebuah organisasi. Inisiatornya adalah para penulis hebat di tanah air. Para wartawan, sastrawan, budayawan dan para akademisi. Nasir Tamara ditunjuk sebagai Ketua Pertama pada saat Kongres di Surakarta 26-29 April 2017. Inisiasi mempersatukan penulis di seluruh Indonesia sudah mulai serius digaungkan saat Borobudur Writers and Cultural Festival atau BWCF di Magelang, Jawa Tengah, 8 Oktober 2016.Satu Pena lahir 1 bulan sebelum UU No. 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan Nasional disahkan oleh Menkumham. Namun dalam perjalanannya, Satu Pena tidak begitu bisa "memanfaatkan" UU tersebut yang juga menyelipkan standarisasi (Sertifikasi dan Akreditasi) untuk 10 pelaku dunia perbukuan. Yang bisa mengkapitalisasi sisi ini adalah PEP (Penulis Editor Profesional Indonesia). Satu Pena sendiri lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk konsolidasi internal seperti pendirian cabang-cabang di berbagai daerah.

Kutukan buat sebuah organisasi besar juga menimpa Satu Pena setelah friksi keras atas setuju dan ketidaksetujuan pemberian gelar Long Life Achievement kepada Denny J.A yang selama ini dikenal sebagai Bapak Survey Politik Indonesia pada 2021. Kelompok yang tidak menyetujui pemberian gelar itu kemudian melakukan konsolidasi dan membuat organisasi baru bernama ALINEA yang digawangi oleh Sri Margana.Kembali kepada event IMLF yang dihelat oleh Satu Pena Sumbar. Acara ini merupakan acara internasional kedua yang mengusung suasana internasional di Sumatera Barat setelah Temu Penyair se-Asia Tenggara (TPAT) di Padang Panjang yang dimulai pertama pada 2018 dan diselenggarakan untuk kedua kalinya pada Desember 2022 yang lalu. TPAT 1 dihadiri oleh 300 penyair se-Asia Tenggara dan TPAT 2 diikuti oleh 100 penyair. TPAT lebih menitik-beratkan kepada penyair/sastrawan. Sementara IMLF hendak mengelaborasi sisi literacy. Adapun peserta inti IMLF tercatat 120-an peserta dari 11 negara, antara lain: Australia, Belanda, Brunei Darussalam, China, Kamboja, Malaysia, Thailand, Singapura, Spanyol, Argentina dan India serta tentunya dari Indonesia sendiri.

Atraksi dan agenda yang disajikan kepada peserta memang sangat beragam dan meriah. Dari tari-tarian plus nyanyian dan musik, pembacaan puisi, demo masak sekaligus food court, seminar literasi, pameran buku, berbagai lomba anak-anak, seminar motivasi menulis buat pelajar, workshop penulisan berbagai genre, kunjungan ke berbagai tempat literasi popular di Sumbar seperti Pusat Dokumentasi Kebudayaan Minangkabau di Padang Panjang dan Perpustakaan Bung Hatta di Bukittinggi. Adapun venue utama kegiatan ini berada di PPSDM Kementerian Dalam Negeri Baso Agam.Delegasi Asing yang disajikan atraksi-atraksi memukau tiada henti sejak kedatangan mereka di Bandara Internasional Minangkabau tentu sangat berpuas hati dan mendapatkan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Karena memang panitia memberikan paket komplit kepada para peserta. Sementara peserta lokal bisa menikmati keindahan dan kekayaan budaya sekaligus kuliner Minangkabau yang memang sangat kaya.

Memperhatikan paket lengkap yg didapatkan oleh peserta selama event ini berlangsung maka sebenarnya acara ini bisa diganti namanya menjadi International Minangkabau CULTURAL Festival. Karena sebagian besar kekayaan budaya Minangkabau disuguhkan.Dalam sebuah sekuel video di Instagram resmi IMLF dikatakan bahwa Literasi bukan sekedar aktivitas tulis-menulis, tapi bisa juga literasi bumbu masak untuk membuat sebuah hidangan yang enak. Literasi sebagai sebuah kata yang diserap dari bahasa Inggris (Literacy) kemudian ditarik pada kelonggaran yang terlalu luas.

Secara umum literacy didefinisikan sebagai the ability to read, write, speak and listen in a way that lets us communicate effectively and make sense of the world. Alberta Education memaknai literacy sebagai the ability, confidence and willingness to engage with language to acquire, construct and communicate meaning in all aspects of daily living.Definisi tradisional memang masih menempatkan kekuatan literasi pada Menulis (Writing) dan Membaca (Reading). Dua hal itu sebenarnya tetap menjadi komponen utama literasi meskipun definisinya sudah diperluas lagi pada kemampuan untuk mendelivery pikiran dan perasaan dalam berbagai bentuk media.

Bagi panitia IMLF, Deklamasi puisi juga masuk dalam literasi. Menyanyikan syair lagu dengan iringan musik juga dimasukkan ke dalam literasi. Gerakan bahasa tubuh yg termanifestasi dalam tarian juga dikategorikan sebagai literasi.Namun, ketika literasi ditarik terlalu elastis tanpa ada core ia akan menabrak berbagai entitas lain. Ia akan menabrak ataupun melebur dalam definisi kesenian dan kebudayaan.

IMLF karena dibangun dengan epistemologi Literasi yang elastis itu maka bentuknya adalah berbagai sajian yg sangat luas dari tarian sampai kepada makanan. Sehingga porsi literasi yang pokok tidak begitu dihighlight tapi berdiri sejajar atau bahkan kalah gaungnya dengan atraksi kesenian.Mengembalikan porsi literasi yang tepat untuk IMLF adalah sebuah keharusan jika terminologi LITERASI masih tetap ingin dipakai sebagai nama IMLF. Kita sebenarnya bisa belajar dari event seperti Book Fair baik yang diadakan di Frankfurt, London ataupun di Jakarta. Dimana pameran buku dan transaksi buku tetap mendapatkan porsi utama. Sementara acara-acara lainnya seperti food court, lomba-lomba, launching buku, temu penulis, book signing, dan pentas seni hanyalah sebagai acara pendukung untuk meraih tujuan utama yakni MENINGKATKAN TRANSAKSI PEMBELIAN BUKU baik yang eceran ataupun copyrightsnya.

IMLF ke depan menurut saya harus meng-clear-kan tujuan utamanya. Jika hendak mengenalkan KEUNGGULAN LITERASI MINANGKABAU, maka acara yang dikonsep bisa dengan pola seperti ini.Pertama, yang menjadi acara inti adalah rangkaian marathon untuk membedah buku-buku yang mengulas tema keminangkabauan. Semua penulis yang pernah menerbitkan buku-buku bertema Minangkabau diundang hadir untuk membentangkan karyanya. Bisa jadi sebuah karya itu sudah dibedah sebelumnya di forum-forum yang lain. Namun, akan hadir sebuah kegairahan baru ketika para penulis yang mengangkat tema yang sama duduk di atas panggung yang sama dan memaparkan kesepakatan dan ketidaksepakatan mereka tentang topik-topik tertentu tentang Minangkabau. Ini akan menghidupkan gairah para audiens dengan debat-debat ilmiah yang berbasis kajian serius. Dengan pendekatan seperti ini hadir suasana intelektual yang kuat yang selama ini "digadang-gadang" sebagai ciri khas (orang) Minangkabau.

Buku-buku bertema Minangkabau tersebut bisa dipilah-pilah dalam beberapa panel diskusi: Adat Minangkabau, Tokoh Minangkabau, Sejarah Minangkabau, Dinamika Ekonomi Sosial Minangkabau, Sastra Minangkabau dan Kesenian Minangkabau.Sebagai rehat dari diskusi bedah-bedah buku yang menyita energi tersebut bisa dilakukan semacam kegiatan wisata literasi. Setelah riuh memperbincangkan buku-buku seputar Hamka, maka peserta bisa diajak mengunjungi Museum Buya Hamka. Ketika peserta sudah berbusa-busa membahas novel Siti Nurbaya, mereka kemudian diajak melihat makam Siti Nurbaya di Gunung Padang. Artinya, dari buku-buku yang diperbincangkan diberikan paket sentuhan visual yang riil lewat wisata literasi tadi.

Hal kedua yang bisa dijadikan sebagai core IMLF adalah displaying semua buku-buku bertema Minang dari masa ke masa dan dalam berbagai bahasa. Ini lagi-lagi akan menunjukkan betapa kayanya literasi yang dihasilkan oleh (orang Minang) dan tentang Keminangkabauan. Transaksi pembelian buku bertema Minangkabau juga bisa didongkrak dengan konsep bedah buku yang diulas di atas. Setelah buku-buku Minang dibedah maka akan tercipta semangat untuk memiliki dan mengoleksi. Dari sinilah gairah menulis tentang keminangkabauan baik dalam bahasa Minang, Indonesia dan Asing bisa digiatkan. Karena penulis melihat betapa antusiasnya masyarakat untuk membeli dan membaca buku-buku bertema Minangkabau.Minangkabau juga dikenal sebagai etnik yang kuat literasi lisannya. Seperti pepatah-petitih, mamangan gurindam, pantun, pidato adat, saluang, salawat dulang, rabab dan ceramah keagamaan. Atraksi-atraksi lisan itu juga bisa menunjukkan kekayaan literasi Minangkabau yang pada IMLF 2023 ini tidak terlalu ditonjolkan.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini