Ibu Milenial dan Ruhana Kuddus

Foto Harian Singgalang
×

Ibu Milenial dan Ruhana Kuddus

Bagikan opini
Perhelatan FIFA World Cup yang berlangsung di Qatar pada 20 November hingga 18 Desember 2022 baru saja usai, berbagai berita dan kontroversi yang terjadi selama perhelatan membuat banyak orang menyimak cerita apa saja yang menyertainya, keramahan masyarakat Qatar dan gemerlapnya negara kecil yang pernah menjadi negara miskin tersebut menjadi sorotan dunia, hampir seluruh media menyiarkan secara live, dan berita-berita di media online yang berubah hampir setiap detik.  Para reporter dan para wartawan memberitakan tentang FIFA World Cup tersebut secara detil, mulai dari sang pemain memulai karirnya, prestasi-prestasinya, juga jejak-jejak kehidupan pribadi para jawara lapangan hijau tersebut, berita tersebut dapat dengan mudah diakses oleh siapapun, termasuk ibu milenial yang turut menyaksikan dan membaca beritanya, walaupun fokus utamanya bukan hanya FIFA World Cup, tapi juga para pendamping jawara kelas dunia tersebut. Ibu Milenial Dan Teknologi Digital Sebut saja Georgina Rodrigues, dilansir dari beberapa media online, wanita yang sering menjadi sorotan para ibu milenial, wanita berkelas dengan kehidupan yang mewah semenjak menjadi kekasih Cristiano Ronaldo atau lebih dikenal dengan CR7, banyak para ibu milenal yang kepo dan mencari rekam jejak kehidupan pribadinya termasuk kehidupannya sebelum menjadi kekasih CR7.  Georgina Rodrigues ternyata dulunya termasuk wanita yang berasal dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, ia harus berjuang untuk menghidupi dirinya dengan bekerja keras, ia juga pernah mengalami kehidupan yang pahit, namun terus belajar menguasai Bahasa Inggris sehingga dapat bekerja di tempat-tempat elit di kota-kota besar, terakhir ia bekerja di toko pakaian mahal bermerek Gucci di Madrid, hingga menjadi awal mula kisah pertemuan dengan CR7. Informasi-informasi tersebut sangat mudah didapat oleh para ibu milenial, ibu-ibu muda yang lahir dan besar dalam era teknologi digital.   Istilah ibu milenial tersebut berasal dari kata generasi millennial yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya, dan menurut infografis dari Pusat Data Republika, 80 juta milenials lahir pada 1976 – 2001, berarti para milenial pada tahun 2022 ini berusia sekitar 21 tahun lebih, jika mereka menikah dan menjadi ibu, maka dapat dikatakan bahwa mereka adalah para Ibu milenial. Generasi milenial dikenal memiliki latar belakang pendidikan tinggi,  mereka dinilai lebih cerdas dan lebih terbuka. Ibu milenial umumnya mempunyai tingkat membaca yang cukup bagus, sehingga wawasan mereka lebih luas. Kemampuan adaptasi yang baik, mereka umumnya lebih terbuka dengan perubahan, terutama pola mengasuh anak, pola kerja di rumah, dan pola bermasyarkat, sebagaimana dikutip dari Elite Daily, walaupun masih mengikuti tradisi yang sudah ada, tetapi cara ibu milenial dalam hal mengasuh anak jauh lebih menyenangkan, santai, dan suportif. Jika mereka dulu dibesarkan dengan berbagai larangan dan anjuran, yang menurut orang tua mereka adalah untuk kebaikan anaknya jika sudah besar nanti, tapi ibu milenial lebih kooperatif dalam membesarkan anak-anaknya, jika mereka dulu tidak boleh bermain di halaman rumah tanpa memakai alas kaki, tapi tidak lagi begitu ketat, selama lingkungan anak-anak aman, maka mereka membolehkan anak-anak mereka bermain tanpa alas kaki. Dilansir dari beberapa sumber, ibu milenial adalah ibu yang dapat memilih berkarir di rumah atau di luar rumah, menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak bisa melakukan peran ganda. Justru kebanyakan dari ibu milenial akan mencari kesibukan lain agar tetap produktif yang masih berhubungan dengan minat dan bisa dilakukan di rumah. Contohnya bisnis online, membuat kerajinan tangan, atau menjadi pekerja lepas seperti penulis, atau desainer, youtubers, tiktokers. Meski begitu, bagi ibu milenial, keluarga tetap menjadi prioritas. Mereka pun lebih bahagia saat menjalankan perannya sebagai orangtua. Ibu millenial adalah ibu yang melek teknologi digital, seperti diketahui, generasi milenial tumbuh berbarengan dengan berkembangnya teknologi, salah satunya internet. Data Weber Shandwick yang dilansir Pop Sugar, Jumat (28/6/2019), menunjukkan, ibu milenial bisa menghabiskan 17 jam berselancar di media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube. Adapun informasi yang sering dicari ibu milenial di internet adalah referensi terkait parenting (pola asuh), makanan pengganti air susu ibu (MPASI), atau apa pun yang berhubungan dengan rumah tangga. Bahkan, dibanding televisi, ibu milenial cenderung lebih memilih internet sebagai sumber beritanya.  Pada saat-saat Ibu milenial berselancar di internet, kebanyakan dari mereka melakukan healing, suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan kegiatan yang dapat membuat mereka mengobati jiwa yang sudah lelah bekerja dan berusaha, termasuk menikmati waktu bersama dirinya sendiri (me time) beberapa waktu tanpa gangguan. Ibu Milenial Belajar dari Ruhana Kuddus Cepatnya penyebaran ilmu melalui dunia maya membuat semakin banyak orang mengetahui bagimana cara mempelajari atau mengetahui sesuatu, tidak hanya tentang ilmu kekinian, ilmu-ilmu baru tapi juga hal-hal yang menyangkut masa lampau, kehidupan masa lampau, sejarah masa lampau bahkan dapat diakses dengan mudah apa yang pernah terjadi di masa lalu. Bagamana cara perempuan zaman dulu belajar? Bagaimana ibu-ibu zaman dulu membangun peradaban, dan memberdayakan sesama ibu-ibu disekitarnya?  Hal tersebut dapat dibaca dan dipelajari melalui apa yang pernah ditulisnya ahli sejarah, seperti bagaimana kisah hidup RA. Kartini dan bagaimana kisah hidup Ruhana Kuddus (Roehana Koeddeos)?  Hingga mereka dinobatkan sebagai  pahlawan nasional  karena telah banyak berbuat untuk sesama perempuan pada zamannya dan mereka menjadi ibu dengan segudang prestasinya. Ruhana Kuddus adalah seorang ibu yang berasal dari Minangkabau, dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang membekali anak-anaknya dengan buku.  Walaupun Ruhana tidak mendapatkan pendidikan formal, namun ia rajin belajar dengan ayahnya yang seorang pegawai pemerintah Belanda.  Keinginan belajar yang tinggi membuat Ruhana cepat menguasai materi yang diajarkan oleh ayahnya, dalam umur yang masih sangat muda Ruhana sudah dapat menulis, membaca, dan berbahasa Belanda.  Kemampuan berbahasa Belanda inilah yang kemudian mengantarkan Ruhana belajar menyulam, menjahit, merenda, merajut yang merupakan keahlian perempuan para Istri pejabat Belanda. Ruhana juga banyak membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berbagai berita politik, gaya hidup, dan Pendidikan di Eropa, sehingga setelah besar apa yang dibacanya menjadi inspirasi bagi Ruhana untuk mengubah kesenjangan yang terjadi pada masyarakatnya terutama kaum perempuan dan kaum Ibu pada saat itu. Hal penting yang dapat dipelajari oleh para ibu milenial adalah apa yang dilakukan oleh Ruhana Kuddus pada zamannya dengan caranya, sehingga apa yang sudah dilakukan oleh Ruhana kuddus masih dapat dinikmati oleh kaum perempuan dan kaum ibu milenial di Nagari Koto Gadang, termasuk Koperasi Amai Setia yang masih eksis di tengah kemajuan zaman, karena ilmu yang mereka kembangkan merupakan ilmu dasar yang sangat baik dikuasai oleh seorang perempuan/ibu termasuk ibu milenial sekalipun. Ternyata, kemajuan zaman tidak mengeser peran perempuan sebagai ibu, ibu milenialpun tetaplah ibu, yaitu menjadi pelaksanan harian dalam rumah tangganya, melahirkan, mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, walaupun dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan tuntutan zaman dimana anak-anaknya besar kelak.  Benar apa yang dikatakan oleh Sayydina Ali bi Abi Thalib bahwa didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu. Ibu milenial dapat belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Ruhana kuddus pada kaumnya, sesama perempuan, sesama ibu, mungkin dengan cara-cara yang milenial, sehingga lahir banyak komunitas ibu-ibu milenial yang mencerdaskan kaumnya di berbagai daerah di seluruh pelosok Indonesia tanpa harus pergi ke tempat tersebut, Ibu milenial tetap dapat melakukan kebaikan-kebaikan dan perjuangan dengan memanfaatkan teknologi, tanpa harus meninggalkan kewajibannya sebagai ibu dan istri. Semoga.(*)

Penulis adalah Pemerhati Pendidikan tinggal di Dharmasraya

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini