Mak Itam: Kereta Wisata atau Kereta Nostalgia?

Foto Harian Singgalang
×

Mak Itam: Kereta Wisata atau Kereta Nostalgia?

Bagikan opini

Oleh Andrinof A. ChaniagoMenteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI 2014 - 2015

"Mak Itam" adalah sebutan di Sumatera Barat untuk lokomotif (loco) uap kereta api yang beroperasi menarik gerbong kereta barang dan kereta penumpang sejak Jaman Belanda hingga dekade pertama Orde Baru. Loco uap ini menggunakan batubara sebagai sumber energi penggerak. Setelah masuk lokomotif diesel yang menggunakan BBM solar, satu per satu lokomotif ini berhenti menjalan tugas mengangkut gerbong.Sejak purna tugas, loco-loco tersebut parkir sebagai barang bekas di depo-depo di Sumatera dan Jawa. Setelah parkir sekian tahun, di beberapa kota muncul ide menjadikan loco-loco tersebut sebagai objek wisata tontonan di museum dan sebagai kereta wisata. Ide tersebut terus bergulir dan satu-dua berhasil dieksekusi di beberapa tempat.

Inisiatif menjadikan loco uap tadi sebagai penggerek gerbong kereta wisata belakangan juga muncul untuk kota situs heritage yang sudah dapat pengakuan UNESCO, yakni Kota Sawahlunto, di Simatera Barat. Meski hanya sebuah kota mungil, kota Sawahlunto ini cukup dikenal luas oleh kaum terpelajar. Selain sebagai kota yg berasal dari pusat layanan untuk kegiatan pertambangan batubara yang diusahakan oleh pemerintah kolonial Belanda, kota ini menjadi tempat lahir beberapa tokoh nasional, seperti intelektual kaliber internasional, Soedjatmoko dan pengusaha nasional Sofyan Wanandi.Setelah Indonesia merdeka, deposit batubara yang tersisa masih besar. Karena itu, dari penguasaan oleh pihak Belanda dan seterusnya Jepang, tambang ini beralih ke BUMN bernama PT Ombilin. Selanjutnya, setelah skala ekonomi batubara Sawahlunto mengecil, PT Ombilin dilebur ke BUMN PT Bukit Asam untuk efisiensi.

Keberadaan usaha tambang Ombilin inilah yang menghadirkan kereta api di Sumbar pada Jaman Belanda.Setelah lebih 100 tahun kegiatan eksploitasi, seiring makin menipisnya deposit batubara, panambangangan oleh BUMN berhenti dan Kota Sawahlunto berubah menjadi kota kaum pensiunan dan pelaku usaha kecil.

Warisan usaha pertambangan yang berusia ratusan tahun tadi tentu saja kaya dengan nilai sejarah, terutama sejarah sosial berikut artefak bisnis pertambangan. Maka, walikota Sawahlunto awal tahun 2000-an menyulap kota ini menjadi kota wisata sejarah. Namun, polesan dan branding dilakukan seperti belum punya daya yg cukup untuk menarik wisatawan. Dari sinilah menyusul ide untuk mengaktifkan rel KA dan loco uap yg parkir di kota mungil ini. Realisasi ide ini diserahkan ke beberapa BUMN, yakni PT KAI, PT Bukit Asam, PT Semen Gersik dan PT Bio Farma.Kemarin, Selasa, 19 Desember 2022, kereta wisata loco uap berikut dua gerbong kuno diresmikan beroperasinya oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Kereta wisata antik ini dioperasikan pada ruas antara Stasiun Sawahlunto dan Stasiun Muara Kalaban yang panjangnya 4 kilometer. Salah satu daya tarik di ruas ini adalah adanya terowongan (lubang kalang, istilah masyarakat setempat) sepanjang 900 meter yang menimbulkan sensasi ketika gerbong yang kita tumpangi melintasi terowongan gelap gulita tersebut.

Saya beruntung menerima tawaran dari Pak Menteri Erick Thohir untuk menjadi salah seorang penumpang kereta yang pemberangkatannya dilepas langsung oleh beliau. Perjalanan 4 kilometer tersebut cukup memunculkan memori saya tentang Indonesia tahun 1960-an. Di usia kanak-kanak saya, saya memang masih sempat melihat loco uap yg membawa gerbong penumpang yang berhenti di stasiun di seberang rumah saya. Awal tahun 1970-an gerbong penumpang itu tidak ada lagi. Tetapi loco uap masih lanjut beroperasi membawa gerbong batubara dari Sawahlunto dan gerbong pengangkut semen dari Indarung.Saat ini, generasi sedikit di atas saya yang pernah menjadi pengguna kereta penumpang yang ditarik oleh loco uap di tahun 1950-an mungkin sudah tidak ada. Karena, jika mereka sebagai pengguna di usia 20-an tahun di tahun 1950-an, usia mereka saat ini tentu sudah 90-an tahun. Itu artinya, potensi wisatawan yang motif bernostalgia dengan kehidupan masa lalu dipastikan tidak ada. Sementara, generasi saya hanya bisa memanfaatkan kereta wisata ini untuk berimajinasi ke belakang.

Namun, untuk mengoptimalisasi lkan manfaat sarana yang baru diresmikan ini sebagai kereta wisata, pengelola dan stakeholder utama tentu harus melihat ke depan. Tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana supaya ia efektif menarik wisatawan? Bagaimana supaya pengoperasian kereta kuni ini tidak menjadi penyedot anggaran semata karena tidak memberi imbal-balik pendapatan, dan bagaimana supaya secara teknis pengoperasiannya bisa berkelanjutan, dan sebagainya?Di acara peresmian kemarin, anggota DPR RI Andre Rosiade mengajukan permintaan untuk mempeepanjang aktifasi rel hingga ke Stasiun Silungkang. Tetapi, dalam perkiraan saya, ini bukan jawaban untuk optimalisasi. Perpanjangan rute hingga ke Silungkang dengan alasan dekat dengan sentra penjualan produk UMKM dan tempat kuliner, itu tidak cukup sebagai pertimbangan untuk memperbesar peluang ekonomi pariwisata. Dari faktanya, sentra UMKM dan tempat kuliner yang dimaksud adalah kios-kios yang terpencar sepanjang jalan raya lintas Sumatera yang lokasinya bukan berdampingan dengan Stasiun Sikungkang. Artinya, bagi wisatawan pengguna kereta loco uap ini mereka harus naik kendaraan bermotor lagi ke sentra penjualan produk UMKM dan warung-warung makan yang dimaksud.

Menurut saya, peluang yang realistis untuk menarik wisatawan adalah menambah prasarana dan sarana di Stasiun Muara Kalaban dengan memperlebar jalan masuk ke stasiun, memperbesar area parkir, membangun pujasera dan kios-kios penjual produk UMKM. Untuk menuju ke sana, lebih baik tambahan investasi ditujukan untuk mengalihfungsikan sebagian lahan dan bangunan warga dengan prinsip saling menguntungkan. Untuk mewujudkan pengalihan fungsi dengan prinsip ganti untung ini, pasti bisa dibuat disain bisnisnya. Salah satu sumber manfaat bagi warga di sekitar stasiun itu adalah dari kenaikan nilai tanah mereka atau memfungsikan sebagian lahan atau bangunan mereka yang tidak terkena alih fungsi untuk tempat usaha. Uang ganti untung bisa mereka gunakan untuk membuat bangunan tempat usaha atau membeli lahan yang kebih luas di lokasi lain. Dan, masih ada beberapa cara lagi untuk mengalirkan manfaat ekonomi program alih fungsi lahan dan bangunan tadi bagi warga yang lahan dan rumahnya yang terkena alih fungsi. Agenda ini lebih murah investasinya dibanding memperpanjang rute lintas kereta wisata ini ke Stasiun Silungkang yang tidak ada tambahan daya tariknya bagi wisatawan. Sementara dana yang dibutuhkan jauh lebih besar dibanding menambah prasarana dan sarana di Stasiun Muara Kalaban.Itulah cara yang lebih realistis untuk mencapai sasaran dan tujuan menjadikan kereta loco uap ini menjadi kereta wisata. Semua pihak tentu harus merenungkan bahwa yang diaktifkan dengan biaya yang lumayan besar ini bukanlah kereta nostalgia bagi generasi yang sudah hilang. Artinya, untuk kereta noatalgia kereta ini tidak ada lagi kelas penggunanya. Tujuan pengaktifan tentulah untuk memajukan pariwisata dan menarik orang-orang yang bersenang-senang dengan melihat keunikan, menikmati perjalanan secara efisien, menikmati kuliner dengan suasana menyenangkan dan membeli barang-barang yang berguna atau memberi kesenangan. Karena itu, benar sekali pesan Menteri Erick Thohir ketika meresmikan pengoperaaian loco uap untuk wisata ini, "Masing-masing pihak harus berpikir ekosistem dan jangan mau benar sendiri". Kalimat itu menurut saya tidak perlu ditafsirkan lagi. Pesannya cukup jelas. Tinggal direnungkan dan disikapi dengan lugas.*

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini