Di Balik Gemerlap Cahaya Kunang-Kunang

Foto Harian Singgalang
×

Di Balik Gemerlap Cahaya Kunang-Kunang

Bagikan opini

Oleh Fina Afriani Putri Mahasiswa Magister Pendidikan Fisika UNP

Kunang-kunang merupakan serangga yang unik, karena kemampuannya untuk menghasilkan cahaya yang berwarna-warni tergantung habitatnya. Di Indonesia ditemukan dua jenis kunang-kunang. Salah satu dari spesies tersebut termasuk Genus Pteroptyx sedangkan yang lainnya belum teridentifikasi. Di daerah Sungai Kecamatan Koto Tangah Kota Padang ditemukan kunang-kunang spesies kunang-kunang terbang (Pteroptyx tener). Populasi kunang-kunang semakin hari semakin berkurang jumlahnya. Beberapa waktu yang lalu kunang-kunang sangat mudah ditemukan terutama di desa-desa tetapi sekarang sangat jarang dapat dilihat. Untuk beberapa tempat, menurut laporan dari penduduk desa telah terjadi penurunan populasi kunang-kunang yang sangat tajam, bahkan tidak pernah lagi terlihat keberadaanya. Kemungkinan kehadirannya sudah terancam karena pembukaan lahan dan hutan.  Penelitian Wan dkk (2010) tentang populasi dari ekologi kunang-kunang Pteroptyx di Peninsular Malaysia menunjukan bahwa diperlukan perlindungan pada beberapa spesies tanaman yang digunakan kunang-kunang, karena perbedaan tanaman dapat membedakan siklus hidup kunang-kunang. Hal tersebut merupakan suatu alasan yang menyebabkan populasi kunang-kunang turun naik pada waktu yang lama. Informasi fisis tentang kunang-kunang jenis Pteroptyx ini belum diketahui. Banyak organisme di alam yang mempunyai kemampuan memancarkan cahaya, seperti: bakteri, fungi, kunang-kunang dan ikan. Fenomena pancaran cahaya tersebut sebagai hasil dari reaksi kimia disebut kemiluminesensi. Ketika hal tersebut terjadi pada makhluk hidup maka itu yang dinamakan bioluminesensi. Bioluminesensi adalah sebuah proses yang menarik pada makhluk hidup yang merubah energi kimia menjadi energi cahaya. Organisme bioluminesensi mampu memancarkan cahaya sendiri karena disebabkan oleh enzim luciferase yang mengkatalis senyawa luciferin. Reaksi kimia pada bioluminesensi melibatkan tiga komponen utama, yakni luciferin (substrat), lucifcerase (enzim) dan molekul oksigen. Luciferin merupakan substrat yang melawan suhu panas dan menghasilkan cahaya dan luciferase merupakan sebuah enzim yang mengkatalis dan oksigen sebagai bahan bakar. Dari reaksi tersebut luciferase mengalami eksitasi dan kembali ke keadaan dasar sambil memancarkan cahaya. Keadaan ini merupakan proses fisika yang terjadi dalam organisme yang melibatkan transpor elektron dimana elektron pindah dari keadaan dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi dan kemudian kembali ke keadaan dasar yang disertai pancaran cahaya. Pancaran cahaya yang dihasilkan oleh organisme bioluminesensi ini merupakan energi dingin, karena hampir 90% energi yang dihasilkan dari reaksi luminisensi diubah menjadi energi cahaya. Di dalam buku karangan Ratnawulan dengan judul “Bioluminesensi Kunang-Kunang” Ada tiga tujuan utama untuk luminescence: yang pertama dan paling penting adalah sebagai sinyal kawin, yang kedua adalah sebagai "senter" yang memandu perjalanan dan pendaratan mereka, dan yang ketiga adalah sebagai intimidasi terhadap predator. Luminescence terjadi ketika enzim luciferase yang berfungsi sebagai katalis mengoksidasi luciferin dengan adanya ATP, oksigen, dan ion magnesium. Kunang- kunang mengontrol kedipan cahaya bioluminesensi mereka dengan mengendalikan suplai oksigen di segmen 6 dan 7 dari tubuh mereka, dimana proses pencahayaan berlangsung. Lampu yang dihasilkan kunang-kunang itu sendiri ada dalam spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang antara 415 dan 670 nm. Dimana untuk panjang gelombang antara 415 dan 670 nm cahaya yang dipancarkan oleh kunang-kunang adalah warna kuning kehijauan. (***)
Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini