Wabup Richi Tindaklanjuti Hasil Survey Masyarakat Supayang, Menunggu Air dari Rimba Masuk ke Rumah-rumah

Foto Harian Singgalang
Ă—

Wabup Richi Tindaklanjuti Hasil Survey Masyarakat Supayang, Menunggu Air dari Rimba Masuk ke Rumah-rumah

Bagikan opini

TANAH DATAR – Nagari Supayang. Begitulah nama perkampungan masyarakat di kaki Gunung Marapi. Tanahnya subur. Mayoritas warga hidup dari bertani, baik mengolah sawah maupun tanaman hortikultura.Sejak lama, supayang memang dikenal memiliki potensi ekonomi luar biasa. Bercocok tanam padi di sawah, palawija, beragam sayur, dan hortikultura sudah jadi pilihan utama yang diwariskan turun-temurun. Masalahnya, semua bentuk usaha tani itu membutuhkan ketersediaan air yang cukup.

Tak dapat dipungkiri, kata Walinagari Supayang M. Nasir suatu ketika saar berbincang dengan Singgalang, ada banyak kendala yang dihadapi petani. Tapi yang paling fenomenal itu adalah masalah kesulitan pengairan. Sawah-sawah rakyat masih banyak yang bergantung pada curah hujan. Istilahnya: sawah tadah hujan.Jaringan irigasi teknis masih belum dominan di nagari yang berada dalam wilayah Kecamatan Salimpaung itu. Itulah masalahnya. Membangun jaringan irigasi secara swadaya dan swadana, tentu tidak memungkinkan. Para petani berharap, pemerintah daerah membantu mengatasi masalah ketersediaan air itu, sehingga sawah tadah hujan bisa digarap lebih intensif lagi.

Sedikitnya, anak nagari Supayang memiliki 722 hektare sawah yang dikelola semi-modern. Banyak di antaranya yang masih tadah hujan. Supayang juga memiliki perladangan yang cukup luas. Padi ladang itu biasanya banyak dicari konsumen, karena aroma dan rasanya sangat menggiurkan selera.Menyahuti keluhan bertahun-tahun petani tadah hujan Supayang, Pemkab Tanah Datar pun berupaya membantu mencarikan solusi, salah satu di antaranya adalah dengan membangun embung. Air yang sudah terkumpul di embung itu, bisa dialirkan ke areal persawahan rakyat ketika musim tanam tiba.

Tapi ada masalah lagi. Di mana embung akan dibangun? Sumber mata airnya di mana pula? Lalu, dari mana pula anggaran didapat untuk membebaskan lahan rakyat yang terkena proyek pembangunannya?Untuk mengurai masalah itu satu persatu, Wakil Bupati Richi Aprian turun ke lapangan. Pada Jumat (23/9) kemarin, Richi langsung memimpin tim menjajaki sumber-sumber air yang memungkinkan untuk dialirkan ke embung.

Rombongan wabup itu mengikut sertakan pemuka masyarakat, seperti walinagari nagari, wali jorong, kelompok tani, dan niniak mamak.Usaha mendapatkan sumber air itu cukup melelahkan. Mulanya, rombongan menggunakan sepeda motor. Tapi itu tidak jauh. Karena perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ada sekitar lima kilometer wabup berjalan kaki, melewati jalan setapak, melintasi semak-semak.

Harapan itu pun akhirnya muncul. Wabup tersenyum penuh makna, ketika rombongan tiba di sebuah lembah yang oleh masyarakat setempat dinamai Lembah Tanjung Jati. Ada aliran anak sungai dengan sumber mata air yang bagus. Diperkirakan dialiri air sepanjang musim.Di Lembah Tanjung Jati itulah harapan mendapatkan solusi terbaik mengatasi masalah kesulitan air itu. Ada mata air yang cukup untuk dikumpulkan dalam sebuah embung. Dari embung itu nanti, air akan dialirkan ke areal persawahan warga.

"Ini adalah negeri yang penuh berkah. Ada gunung, lembah, dan mata air. Ini akan kita manfaatkan dengan maksimal, sehingga bisa meningkatkan produksi pertanian, sebagai usaha membangun ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan," ujar Richi.Kita harus bersyukur, ujarnya, di lembah Tanjung Jati kita menemukan sumber mata air dengan debit yang cukup besar. Untuk itu, imbuh Richi, mari bersama-sama kita manfaatkan dan sebagai salah satu langkah utama dengan membangun embung.

Wabup menjelaskan, dengan dibangunnya embung diharap bisa mengairi sawah pertanian dari tadah hujan menjadi terairi, sehingga indeks pertanian bertambah dari lebih kurang 200 hektar sawah di Nagari Supayang. Air dari sumber mata air ini, menujurnya, juga bisa menjadi sumber alami untuk memenuhi kebutuhan air bersih.Richi juga apresiasi apa yang telah dilakukan masyarakat, karena bersedia menghibahkan lahan untuk pembangunan agar bermanfaat bagi masyarakat, mudah-mudahan kerjasama yang baik antara masyarakat, dan juga niniak mamak Supayang pembangunan ini akan cepat terealisasi.

Baca juga: BANGKITLAH

Wabup juga berharap kepada perangkat nagari dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait berkoordinasi, dan segera melengkapi syarat-syarat yang dibutuhkan untuk pembangunan embung, untuk selanjutnya diajukan ke kementerian terkait.Wali Nagari M.Nasir, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pimpinan daerah, yang telah terjun langsung meninjau apa yang menjadi aspirasi masyarakat Nagari Supayang. Dia pun berharap, pembangunan embung dapat segera terwujud.

Niniak mamak kaum yang punya lahan terdampak proyek itu, menurutnya, telah bersedia menghibahkan lahan mereka. Nanti bila sudah selesai, tegasnya, bukan saja masyarakat Supayang yang akan menikmati manfaatnya, tetapi juga nagari tetangga seperti Sumanik, Sungai Patai dan Sungai Tarab.Kisah penelusuran lembah dan rencana membangun embung itu, bermula dari survey yang dilakukan masyarakat pada Maret 2022 lalu, guna melihat potensi sumber air dan titik pembangunan embung, sebagai solusi mengatasi kesulitan air itu. Tidak saja anak nagari, survey juga melibatkan pejabat dari provinsi dan Dinas PUPR Tanah Datar.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Ganefri
Terkini