Marwah dan Liberalisme Minangkabau

×

Marwah dan Liberalisme Minangkabau

Bagikan berita
Foto Marwah dan Liberalisme Minangkabau
Foto Marwah dan Liberalisme Minangkabau

Marwah Minangkabau telah hilang, karenanya Sumatera Barat mencari pemimpin yang mampu mengembalikan marwah itu. Demikian mengemuka diskursus hangat beberapa hari ini di berbagai media tentang kemunduran Sumatera Barat di beberapa bidang strategis; diskursus yang dipicu oleh tulisan Prof. Ganefri Rektor UNP pada Harian Singgalang 1 Juni 2022. Prof. Ganefri lebih menonjolkan urgensi unsur pemimpin dalam memajukan peradaban Minang. Sedikit berbeda dengan beliau, penulis berpendapat bahwa pemimpin itu perlu, tapi belum cukup membuat masyarakat bergerak maju. Yang lebih berperan adalah pilihan sistim pengambilan keputusan dan strategi sosial. Karena itu tulisan ini mengajak kepada refocusing sistim dan strategi Minangkabau sebagai kunci pengembalian marwah yang hilang.Marwah masa lalu yang dipersoalkan itu adalah bahwa dulu Ranah Minang tempat lahirnya individu tokoh nasional seperti Bung Hatta, Buya Hamka, dan Tan Malaka; dan bahwa sekarang hampir tidak ada tokoh nasional dari ranah ini. Namun jika ditinjau lebih jauh, apakah ketokohan mereka merupakan hasil kerja pemimpin di masa itu? Jawabannya cendrung negatif. Apakah bersumber dari faktor genetik? Agaknya secara genetik orang Minang tidak pula lebih superior. Lalu, dari manakah sumber marwah masa lalu itu?

Penulis berargumen terdapat dua keunggulan Minangkabau pada masa yang dikonotasikan bermarwah itu. Pertama, untuk sistim pengambilan keputusan, masyarakat Minang lebih memilih mekanisme pasar merdeka dari pada mekanisme politik suara terbanyak. Dalam mekanisme pasar, setiap individu dapat mengeksplorasi potensi diri sesuai keinginan masing-masing. Sementara, dalam mekanisme politik, minoritas mesti menuruti kemauan mayoritas. Trio surau-lapau-balai yang egaliter menjunjung kebebasan adalah tempat beroperasinya mekanisme pasar: hanya yang kompetitif yang bisa sukses. Tidak hanya sektor ekonomi dan bisnis saja yang liberal, sektor kepemimpinan pun dilahirkan dari mekanisme pasar: hanya yang berkualitas yang layak memimpin.Kedua, untuk strategi sosial, masyarakat Minang memilih strategi kooperatif- menjadi yang pertama (cooperative - be the first) bukan strategi tidak kooperatif - menjadi yang terbaik (non-cooperative - be the best). Untuk unggul secara sosial dengan menggunakan strategi be the best, masyarakat Minang secara bersama-sama harus menang bersaing dengan kelompok masyarakat lain, sementara dengan strategi be the first masyarakat Minang langsung unggul karena kompetitor masih tidur. Masyarakat Minang menurut catatan Elizabeth Graves (1981) pada masa kolonial sudah mengadopsi sistim pendidikan Belanda di saat sebahagian besar kelompok masyarakat lain menolaknya. Ketika Belanda membutuhkan banyak pegawai pemerintahan, orang Minang muncul di garda terdepan. Pada zaman Jepang, orang Minang sudah tersebar se-antero nusantara baik sebagai guru, pegawai pemerintah, maupun pelaku bisnis.

Pada zaman awal kemerdekaan, Republik yang masih bayi membutuhkan pemimpin-pemimpin nasional yang campin berkomunikasi dan berdiplomasi. Karena kepemimpinan masa ini melalui mekanisme pasar, orang Minang dengan first mover advantage nya di bidang pendidikan barat menjadi terdepan dalam kancah politik nasional. Tokoh-tokoh politik nasional dari Minangkabau pada zaman ini lah yang dielu-elukan membawa marwah Minangkabau.Pada zaman now, sektor kepemimpinan nasional diseleksi melalui mekanisme politik. Hal ini tentunya membuat orang Minang kurang kompetitif karena jumlahnya minoritas meskipun berkualitas. Namun, di sektor lain, orang Minang masih berkiprah di kancah nasional, terutama di sektor-sektor yang menganut mekanisme pasar, seperti sektor bisnis dan entertaimen. Sayangnya, eksistensi orang Minang secara nasional di sektor ini tidak dianggap membawa marwah.

Back to the future, jika pemimpin masih dianggap sebagai unsur penting dalam mengembalikan marwah Minangkabau, maka si pemimpin Sumatera Barat mesti mampu meramu sistim dan strategi dengan jitu. Untuk urusan individual, mekanisme pasar merdeka agar lebih ditonjolkan. Orang Minang dari dulu terbiasa berkompetisi, berpikiran liberal, dan bertindak individualis. Untuk urusan bersama bersifat politis, strategi cooperative - be the first layak untuk diutamakan mengingat jumlah penduduk minoritas dan ketergantungan secara keuangan ke pusat kekuasaan sangat tinggi. Karena itu pemimpin daerah mesti bisa memprediksi arah politik nasional ke depan sehingga mampu meyakinkan masyarakat Sumatera Barat untuk berada di pihak yang menang dan bekerjasama dengannya. Mancaliak ka nan sudah, mancontoh ka nan manang, dan alam takambang jadi guru merupakan liberalisme pemikiran Minangkabau yang sudah mendarah daging berorientasi ke masa depan. Mudah-mudahan marwah itu segera kembali.(*)

Editor : Eriandi, S.Sos
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini