Eksistensi Datuk Efektif Cegah Berkembangnya Hoax di Ranah Minang

×

Eksistensi Datuk Efektif Cegah Berkembangnya Hoax di Ranah Minang

Bagikan berita
Foto Eksistensi Datuk Efektif Cegah Berkembangnya Hoax di Ranah Minang
Foto Eksistensi Datuk Efektif Cegah Berkembangnya Hoax di Ranah Minang

Oleh: Aci IndrawadiPADANG – Ilham Latief mengangguk-angguk usai menyeruput teh panas yang disuguhkan Resdawati di rumah saudaranya itu di Nagari (Desa) Cubadak, Kecamatan Lima Kaum,  Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat akhir pekan lalu. Diselingi cemilan kembali ia minum teh dengan sedikit gula itu.

Bagi Ilham yang merupakan seorang datuk (kepala adat) teh buatan adik sepupunya tersebut sungguh nikmat. Minuman itulah salah satu yang mendorongnya untuk selalu singgah di rumah yang berjarak sekitar tiga kilometer dari kediamannya. Utamanya tentu peran pria bergelar Datuk Rangkayo Mulie ini sebagai kepala adat bagi Suku Supanjang Ateh yang harus mengayomi kaum yang dipimpinnya.Pria 54 tahun ini selalu menyediakan waktunya untuk bertandang ke rumah-rumah kaumnya. Momen itulah dimanfaatkan pria yang sehari-hari sebagai pedagang ini untuk bersilaturahim dengan anak, kemenakan, saudara dekat dan jauh yang tak lain bagian dari kaumnya sendiri.

Kondisi kesehatan, masalah-masalah keluarga, pendidikan dan lainnya pertanyaan wajib sang datuk kepada kaum yang didatanginya. Saat itulah akan terjadi diskusi panjang diakhiri pencerahan dari datuk kepada anak dan kemenakannya. Pencerahan dan nasihat dari datuk inilah yang jadi pegangan bagi kaum dalam bersikap dan bertindak.Bila melenceng datuk akan memanggilnya ke rumahnya. Jika tak ada perubahan, akan dimusyawarahkan lagi melibatkan tokoh-tokoh adat lain di suku tersebut seperti panungkek (wakil datuk), dubalang (ketua keamanan), angku (ulama), bahkan tak jarang berakhir dengan sanksi bagi anggota suku yang melakukan pelanggaran. Sanksi itu bisa teguran hingga yang paling berat  diusir sepanjang adat atau pengusiran dari kampung.

Diskusi-diskusi datuk dan kaumnya itu juga selalu terjadi saat ada hajatan di suku tersebut, seperti prosesi pernikahan, acara-acara syukuran, musyawarah adat dan kegiatan lainnya. Jika anggota suku ada masalah, mereka akan mendatangi datuknya untuk meminta petunjuk dan solusi dari persoalan yang dihadapi. Hal inilah yang menuntut seorang datuk itu harus berfikir jernih, cerdas dan luas pengetahuannya.Apalagi sesuai perkembangan zaman, masalah-masalah yang ada dalam suku juga beragam, termasuk dinamika yang terjadi di nagari hingga provinsi, bahkan nasional. Informasi-informasi yang beredar baik melalui media massa, media sosial dan interaksi dengan masyarakat lain memperangaruhi pola fikir dan tindakan anggota suku.

“Tak hanya yang muda-muda, kalangan tua juga sering bersitegang urat leher dengan yang lain memperbicangkan banyak persoalan. Kadang belum jelas kebenarannya. Di sinilah peran sebagai ninik mamak (tokoh adat) untuk memberi pencerahan agar tak salah dalam mengambil keputusan dan bertindak,” ujar Ilham Latief Datuk Rangkayo Mulie.Dirinya bersama tokoh-tokoh adat lainnya dari dulu sudah sepakat tak akan membiarkan kaum mengambil keputusan dan bertindak hanya atas informasi yang belum jelas kebenarannya. “Istilah sekarangnya hoax. Kami tak ingin informasi yang salah itu memicu persoalan di tengah-tengah kaum seperti di tempat lain ada yang berujung tindakan anarkis hingga pelanggaran-pelanggaran hukum lainnya yang bisa merusak tatanan kehidupan yang sudah dibangun dengan baik sejak dulunya,”  katanya.

Bahkan di Minangkabau ada pepatah ‘Mangango dulu baru mangecek’ (Dimenungkan dulu baru bicara). “Artinya untuk berbicara saja dipertimbangkan matang-matang agar tak salah bicara, apalagi dalam memaknai informasi-informasi yang disampaikan orang lain dari berbagai sumber, termasuk media sosial,” terangnya.Walinagari (Kepala Desa) Cubadak, Asrizallis mengatakan, pihaknya selalu mendorong eksistensi datuk di nagari yang dipimpinnya, karena mempermudah pemerintahan nagari dalam mengkoordinasikan kebijakan, program pembangunan dan mengatasi masalah-masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat.

“Datuk merupakan posisi tertinggi yang diberikan pada salah satu tetua adat untuk menjadi pemimpin kaum (suku). Kami selalu bergandengan dalam menyukseskan program pemerintah dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial di tengah-tengah masyarakat,” ulasnya.Toh, seorang datuk itu biasanya juga sering diskusi dengan kalangan intelektual, terutama bagi mereka yang berada di perantauan, sehingga kapabilitasnya sesuai dengan dinamika persoalan di masyarakat.

Salah seorang perantau Tanah Datar. Wahyu Iramana Putra mengakui ia sering dihubungi datuk dan petinggi adatnya di kampung untuk berbagi informasi. “Saling berkabar. Kemudian diskusi atas suatu informasi atau masalah,” katanya, Kamis (24/10).Menurut mantan Wakil Ketua DPRD Padang ini, komunikasi dan diskusi dengan tokoh masyarakat di kampung itu penting agar mereka yang berada di perantauan mendapat informasi perkembangan di daerah asalnya. Sebaliknya, para tokoh yang di kampung itu bisa mendapat informasi yang benar terkait semua hal, sehingga mereka bisa meluruskan informasi-informasi yang tidak benar yang beredar di masyarakat.

Ketua Majelis Pemuda Indonesia (MPI) Sumatera Barat, Defika Yufiandra menilai, peran datuk sangat efektif dalam menangkal berkembangnya hoax di masyarakat Ranah Minang. ““Dia tempat bertanya bagi kaumnya untuk solusi dari suatu permasalahan. Informasi-informasi tak jelas akan diluruskannya,” katanya di Padang, Jumat (25/10).Posisi datuk katanya, sangat strategis karena dengan gelar kehormatan adat itu kaumnya akan menuruti masukan dan nasihatnya. Seseorang datuk diharuskan bijaksana, bertanggung jawab dan fasih berkomunikasi.  “Dengan segala peranannya itu, tinggal lagi bagaimana pemerintah daerah dan lembaga terkait menggandeng mereka dalam mengatasi berbagai persoalan sosial, termasuk dalam mengatasi penyebaran hoax di masyarakat,” lanjut mantan Ketua KNPI Sumatera Barat ini.

Sebab, hoax bisa memudarkan prinsip kebangsaan dan kebinekaan dengan membuat kerusuhan, kekerasan, dan pelanggaran Kamtibmas, bahkan bisa memicu sikap radikalisme karena dapat menkontaminasi jiwa seseorang.Sementara Kepala Bidang Media Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sumatera Barat, Eko Yanche Edrie mengatakan, pihaknya telah merangkul para datuk mencegah meluasnya hoax dan paham radikalisme di daerah ini. "Para datuk memiliki peranan penting dalam upaya mencegah meluasnya hoax dan paham radikalisme, sehingga mereka kita rangkul untuk bersama-sama mencegah hal yang negatif itu," katanya

Editor : Eriandi, S.Sos
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Ganefri
Terkini